BI: Orang Kaya Tak Lagi Investasi di Deposito, Pindah ke SBN dan Saham

Ilustrasi investasi di pasar saham. Foto: Shutter Stock

Bank Indonesia (BI) melaporkan adanya pergeseran portfolio investasi pada masyarakat kelas menengah dan menengah ke atas. Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial Juda Agung mengatakan dengan tingkat konsumsi yang masih terbatas, masyarakat kaya saat ini lebih memilih menginvestasikan uangnya pada Surat Berharga Negara (SBN) atau pun saham ketimbang deposito.

“Segmen rumah tangga menengah ke atas dan yang menengah sekarang sudah mulai menggeser portfolio kepada aset-aset keuangan seperti SBN dan pasar modal. Kalau kita lihat ada penurunan di deposito perorangan,” ujar Juda dalam Taklimat Media Perkembangan Intermediasi Suku Bunga Kredit, Jumat (2/7).

Menurut Juda, salah satu alasan masyarakat keluar dari deposito adalah karena return-nya dinilai kurang menarik. Juda merinci, bunga deposito saat ini rendah sekali hanya ada di level 3 persen. “Ini sangat rendah dibandingkan dahulu sebelum COVID-19,” ujarnya.

Ilustrasi menabung saham untuk masa tua. Foto: Pixabay

Rendahnya bunga deposito membuat masyarakat pun beralih ke instrumen yang memberikan imbal hasil lebih tinggi. Seperti SBN, saham, atau reksa dana.

Hal tersebut pun terbukti. Sebab ketika deposito perorangan menurun, BI justru mencatat penjualan SBN mengalami oversubscribe. Pada ORI019 misalnya, dari target penjualan Rp 10 triliun ternyata realisasinya mencapai Rp 26 triliun atau 260 persen dari target. Dibanding deposito, ORI019 juga menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi yaitu sebesar 5,57 persen.

Begitu juga dengan SR014, dari target penjualan Rp 10 triliun, instrumen ini laris terjual hingga Rp 16,71 triliun atau 167 persen dari target. SR014 juga memiliki bunga menarik sebesar 5,47 persen.

Demikian pula yang terjadi di pasar modal. BI mencatat jumlah investor ritel terus meningkat pesat. Di Februari 2021 jumlah SID pasar modal tercatat sebesar 4,5 juta. Sedangkan di Mei 2021, jumlah tersebut naik menjadi 5,3 juta.

Juda pun berharap adanya pergeseran pilihan investasi ini nantinya akan berdampak baik pada masyarakat menengah ke atas terlebih ketika keadaan makin kondusif. “Harapannya dengan memperoleh yield yang lebih tinggi, kalau ekonomi sudah mulai bergerak, masyarakat akan memiliki kekayaan yang lebih tinggi. Jadi konsumsi pun akan meningkat,” ujarnya.

Comments are closed.