Bek Hebat Juga Melakukan Kesalahan (21)

Denmark datang sebagai juara bertahan, tetapi aku hanya mengenal kiper mereka yang namanya sulit dieja dan Laudrup bersaudara. Ivanov masih ada di tim Bulgaria tentu saja, bersama sebagian besar rekan-rekan setimnya yang jadi semifinalis Piala Dunia ’94. Aku sedikit menaruh hati untuk mereka, terutama untuk Ivanov. Apakah mereka akan melangkah sejauh yang mereka lakukan di Amerika? Kuharap begitu, tapi kini aku lebih banyak tahu tentang sepak bola, lebih banyak nama dan lebih banyak tim, jadi mungkin saja tidak—dan memang itulah yang kemudian terjadi.

Saat itu aku telah banyak mendengar tentang Portugal dan generasi emas mereka. Aku cukup tahu tentang Couto dari Parma, Rui Costa dari Fiorentina, dan Figo dari Barcelona. Prancis konon juga sedang punya tim bagus, meski yang sedikit kukenal cuma Deschamps dari Juventus dan Desailly dari Milan. Sebagai tuan rumah, Inggris tentu diunggulkan. Tapi aku tak percaya dengan tim yang tak ikut Piala Dunia sebelumnya, Piala Dunia pertamaku.

Dua tim yang sangat menarik adalah Rep. Ceko (demikian tertulis di koran) dan Kroasia. Mereka adalah tim-tim baru dari negara-negara yang baru berdiri, yang konon merupakan pecahan dari tim-tim hebat di masa lalu (Cekoslowakia untuk yang pertama, Yugoslavia untuk yang kedua, dua nama negara yang sering kutemui di buku pelajaran sejarah di sekolah). Tim pertama dipenuhi oleh nama-nama yang tidak saja terdengar asing tetapi juga lucu di telingaku, telinga orang Lerok. Coba dengar: Latal, Kuka, Nemec, Nemecek, Kubik, Hornak. Tapi ada satu nama yang paling mencolok: Bejbl. Sampai turnamen berakhir, aku dan Muslim terus berdebat soal bagaimana cara membacanya.

Comments are closed.