Banyak Dokter Anak Tolak Periksa Anak Sakit, Ini Penjelasan IDAI Jatim

Pixabay.

Melonjaknya jumlah pasien COVID-19 di beberapa rumah sakit di Surabaya, turut mempengaruhi pelayanan di rumah sakit. Salah satunya yakni adanya dokter anak yang tidak menerima pasien sakit.

Menanggapi hal itu, Ketua IDAI Jatim, dr Sjamsul Arief MARS SpA(K), mengatakan, jika pasien anak dianjurkan untuk tidak berobat ke rumah sakit. Mengingat banyaknya pasien COVID-19 yang datang silih berganti.

“Siapa yang menjamin bahwa seorang pasien tidak terinfeksi COVID-19. Boleh menolak pasien, asal ada tulisan di depan tempat praktik, misalnya cuma melayani imunisasi saja,” kata dr Sajmsul ketika dihubungi Basra, Minggu (4/7).

Bahkan saat pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), pengurus pusat ikatan dokter anak Indonesia (PP IDAI) menganjurkan pemeriksaan secara telemedicine.

“Apalagi saat PPKM ini, dianjurkan oleh PP IDAI, untuk melakukan pemeriksaan secara telemedicine. Saya juga sering terima pasien dari IGD ditolak, dianjurkan jangan periksa di RS, takut tertular, jadi maksudnya baik,” jelas dr Sjamsul.

Dokter spesialis anak ini mengimbau para orang tua, jika anak sakit seperti batuk pilek untuk memberikan obat di apotek lebih dulu atau mengulangi resep sebelumnya.

“Nah kalau diobati sendiri belum sembuh sampai dengan 3 hari, baru di bawa ke RS. Tapi harus tetap menerapkan prokes 5M secara ketat,” tuturnya.

Sementara itu, Dr. Agus Cahyono SpA mengaku jika saat ini pihaknya masih menerima pasien anak di Rumah Sakit Bhakti Dharma Husada (BDH) Surabaya.

Dr Agus menuturkan, jika kebanyakan pasien anak yang datang mengalami infeksi nafas, demam berdarah, hingga diare.

“Misal dalam kondisi darurat seperti anak panas, dehidrasi, kejang, gangguan pernafasan, itu bisa dibawa ke rumah sakit. Orang tua juga harus tetap tenang, tidak panik, hubungi dokter kepercayaan Anda, tetap jaga nutrisi anak, dan protokol kesehatan,” pungkasnya.

Comments are closed.