Babak Baru Pembunuhan Janda: Hasil Visum Korban; Sempat Tak Direspons Polisi

Wiwin Sunengsih dan anaknya. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan

Seorang wanita bernama Wiwin Sunengsih (31) menjadi korban pembunuhan di rumahnya di perkampungan di Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (8/5). Ia merupakan janda yang sudah memiliki anak laki-laki berusia 8 tahun.

Ayah Wiwin, Ujang Mimin (65), belum menjawab pertanyaan status janda Wiwin ini karena ditinggal mati suami atau cerai sejak kapan.

Wiwin tinggal bersebelahan dengan Ujang. Ujang tak menyebut apa profesi Wiwin usai menjanda. Emosi yang membeludak membuat lidah Ujang kelu saat ditanya sejumlah pertanyaan terkait anaknya itu.

Yang pasti, Ujang kini berupaya ikhlas melepas kepergian anaknya itu.

“Bapak mah sudah ikhlas. Secara orang mati teh jalannya masing-masing, ada yang sakit udah lama dan ada yang nggak sakit meninggal juga, itu macam-macam orang berpulang ke Rahmatullah. Bapak sudah ikhlas sama takdir bapak,” kata dia.

Sempat Lapor Polisi, Tak Diproses

Ayahanda Wiwin Sunengsih, Ujang Mimin, ketika ditemui di kediamannya di Padalarang, Bandung Barat pada Selasa (10/5/2022). Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan

Ujang menuturkan Mulyadi, duda yang membunuh Wiwin, kerap meneror anaknya dengan cara menggedor dan mencongkel pintu rumah sambil membawa pisau. Bahkan, pelaku mengancam akan membunuh korban beserta anaknya yang masih berusia 8 tahun.

Resah dengan teror tersebut, Ujang mengaku sempat mengadu ke Ketua RT dan RW setempat. Mereka lalu menyarankan Ujang dan korban melapor ke polisi.

Ujang lalu mendatangi Polsek setempat. Ujang menyebut, saat itu laporannya tak diterima. Polisi beralasan laporannya kurang cukup bukti. Alhasil, Ujang pun pulang dengan tangan kosong.

Kediaman Wiwin Sunengsih, janda yang dibunuh di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan

Menurut Ujang, dirinya sudah mengadu soal asbes rumahnya yang pecah dan pintu rumahnya terus digedor pelaku sebelum insiden pembunuhan itu. Rupanya hal itu belum cukup.

“Gak ditanggapi, soalnya harus ada bukti. Belum ada bukti, katanya kan bapak kan sudah melaporkan asbes yang pecah terus pintu digedor sama kaca semuanya dicokel kalau di Polsek harus ada bukti atau ada barang yang dibawa. Kalau ada barang yang rusak itu minimal barang kerusakannya harus nilainya Rp 2 juta. Tapi nggak ada sama sekali (diproses polisi),” kata Ujang di kediamannya di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (10/5).

Kompolnas Sesalkan Laporan Tak Direspons

Komisioner Kompolnas Poengky Indarti. Foto: Fanny Octavianus/ANTARA

Komisioner Kompolnas Poengky Indarti menyesalkan penolakan laporan adanya ancaman kepada Wiwin. Dia mengatakan, jika pernyataan orang tua Wiwin benar, harusnya kepolisian bisa mengambil langkah pencegahan sehingga korban dapat dilindungi.

“Pertama, kami sangat menyesalkan jika benar keluarga korban sebelumnya pernah melapor adanya dugaan kasus pengancaman ke Polsek, tetapi laporan tersebut ditolak karena dianggap tidak cukup bukti, dan ternyata korban masih terus diteror hingga akhirnya meninggal dunia akibat dibunuh pelaku,” kata Poengky saat dihubungi, Selasa (10/5).

“Seandainya laporan Keluarga korban segera ditindaklanjuti dengan penyelidikan, mungkin korban dapat dilindungi,” ungkapnya.

Poengky juga meminta Kapolres setempat untuk memeriksa keluhan orang tua korban terkait pelayanan Polsek tersebut. Hal itu harus ditindaklanjuti.

“Kapolres perlu mengecek apakah benar pernah ada penolakan laporan ya. Harus ditindaklanjuti dengan pemeriksaan jika benar ada penolakan laporan,” tandasnya.

Luka di Perut dan Sayatan di Leher

Ilustrasi pembunuhan. Foto: Getty Images

Kapolres Cimahi AKBP Imron Ermawan mengatakan, polisi sudah menerima hasil visum yang dilakukan terhadap jenazah Wiwin.

“Hasil visum menyatakan ada luka di perut dan ada luka di leher berupa sayatan,” kata dia kepada wartawan pada Selasa (10/5).

Diduga, luka itu diakibatkan oleh senjata tajam jenis belati yang dibawa pelaku. Imron menambahkan, pihaknya juga sudah membentuk tim untuk memburu pelaku.

Sosok Mulyadi

Tampang Mulyadi (40), terduga pembunuh janda Wiwin Sunengsih (31). Foto: Dok. Istimewa

Mulyadi diketahui seorang duda ditinggal cerai istrinya beberapa tahun lalu. Ia telah memiliki anak.

Menurut keterangan adiknya, Ai Nur Atikah, anak Mulyadi itu meninggal saat usianya masih kecil. Dia tak menyebut berapa usia anak Mulyadi meninggal dan karena apa meninggalnya.

Mulyadi merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Dia tinggal bersama dengan adik dan orang tuanya. Kediaman Wiwin dan Mulyadi hanya berjarak sekitar 1 kilometer di Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.

Infografik Kronologi Duda Bunuh Janda di Bandung Barat. Foto: kumparan

Dikeluarga Mulyadi dikenal sebagai sosok yang pendiam dan jarang berkomunikasi. Soal pekerjaan, pria itu tidak memiliki pekerjaan tetap.

“Bekerja sebagai kuli bangunan tapi kuli bangunannya nggak tetap gitu. Jadi ke mana saja. Buruh serabutan. Dia mah cuek nggak terbuka, jadi sekalinya ada masalah teh kita gak tau gitu,” kata Ai ketika ditemui kumparan di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (10/5).

Polisi soal Tolak Laporan

Ilustrasi pembunuhan. Foto: Shutterstock

Kapolsek Padalarang Kompol Darwan membenarkan keluarga dari Wiwin dan Ketua RW setempat pernah mendatangi dan melapor ke Polsek pada tanggal 3 Mei.

Ketika itu, pihak keluarga yang melaporkan menerima ancaman pembunuhan dari Mulyadi dilayani petugas piket. Mereka diberi arahan agar persoalan itu dimusyawarahkan terlebih dahulu.

“Iya, informasinya seperti itu kan sama piket SPK di sana sama Pak RW itu diarahkan, karena masih kenalan karena masih mantan pacarnya itu diarahkan untuk dimusyawarahkan di tingkat desa dan RW gitu,” kata dia kepada wartawan pada Selasa (10/5).

Meski demikian, lanjut Darwan, kepolisian juga sempat mencari keberadaan Mulyadi. Namun, pelaku tiba-tiba menghilang dan baru muncul kembali ketika membunuh Wiwin.

Comments are closed.