Aku Diselamatkan Karena Didengar

Ilustrasi foto ketika kita bisa mendengarkan seseorang | Foto: Unsplash.com

Saat itu Senin pagi, ketika aku sedang duduk di bangku di seberang taman kecil yang selalu disayangi ibu. Setiap bunga yang ada diperlakukan sebagai makhluk hidup baginya. Meskipun memang benar bunga itu bernafas, tapi aku tidak pernah bisa mengerti perilaku ekstrim yang dia berikan terhadap satu tanaman ke tanaman lainnya. Seakan-akan mereka lebih seperti anak-anaknya, daripada aku dan adik laki-lakiku. Tapi aku selalu mengagumi dia berbicara tentang sejarah satu tanaman, bahkan jika aku tidak mengerti, aku selalu merasakan kenyamanan ketika dia menjelaskannya.

Orang tua aku selalu duduk di bangku luar itu setiap pagi selama akhir pekan. Dengan secangkir kopi di meja bundar dan satu buah speaker merah kecil yang memainkan playlist lagu “Top 100 Love Songs” di sebelahnya, mereka selalu ada di sana, mengisi ruang kosong di samping pohon mangga. Terkadang, butuh waktu lebih lama dari hanya sekedar pagi, mereka bisa melakukannya sepanjang hari, bahkan tanpa melakukan apa pun, hanya berbicara dan mendengarkan musik.

Sesekali, aku mencoba memasuki ruang “suci” yang mereka buat. Aku hanya berdiri di sana, mencoba mengisi paru-paruku dengan udara segar di pagi hari. Tapi terkadang, aku selalu berakhir dengan duduk di bangku yang sama di hadapan mereka. Kemudian, mereka membiarkan mulai bertanya-tanya tentang banyak hal, kemungkinan mereka hanya ingin mendengar aku berbicara.

Itu mungkin hal aneh yang bisa terjadi padaku. Aku selalu bangun dengan perasaan aneh di tubuh, seolah-olah aku berharap tidak akan pernah membuka mata lagi.

Malam sebelumnya pasti dipenuhi dengan keputusasaan dan kekosongan hati. Aku selalu tidur dengan pikiran buruk, dan selalu berakhir dengan air mata sebelum rohku melayang ke satu-satunya mimpi yang paling menakutkan.

Sebuah mimpi yang bisa membuat tersentak ketika aku terbangun di pertengahan cerita. Buruknya lagi, aku selalu terbangun di jam yang sama. Mimpi itu terasa tidak berujung, seakan-akan aku tidak bisa keluar, dan aku tercekik karenanya. Lalu aku bergeming, melihat keseluruhan ruangan, lalu kemudian menangis. Menangis sekencang-kencangnya sampai akhirnya mata menjadi lelap dan pandangan berubah menjadi hitam pekat.

Seolah-olah tidak terjadi apa-apa

Keesokan paginya, aku duduk di bangku itu bersama orang tua aku, dan melakukan pembicaraan seolah-olah tadi malam tidak terjadi apa-apa, dan aku baik-baik saja. Padahal, aku tahu pikiran masih dipenuhi dengan banyak ratusan perkataan buruk, dan aku bahkan sudah muak hidup satu hari lagi di dunia ini.

Tetapi ketika aku terduduk di sana, berbicara dan meluapkan semua pendapatku tentang suatu hal, entah bagaimana itu melegakan.

Hatiku terasa tidak enak karena telah memikirkan bagaimana meninggalkan dunia ini sebelumnya, disaat orang tua saya duduk di sana, menatap saya, dan hanya mendengarkan kata-kata tidak bermakna yang keluar dari mulut saya – yang tidak pernah saya pahami sepenuhnya. Mereka tidak menentang saya, mereka hanya mendengarkan saya.

Mungkin disitulah aku mulai mengerti arti mendengarkan seseorang yang sesungguhnya. Orang-orang selalu mengajari kita betapa pentingnya mendengarkan dan tidak berbicara ketika seseorang sedang berbicara di sekolah. Lalu saya selalu mengiyakan tanpa niat apapun, tanpa berpikir panjang, hanya karena aku disuruh seperti itu.

Tapi sekarang, seiring bertambahnya usia, aku menyadari bahwa mendengarkan seseorang adalah hal yang seharusnya semua orang bisa lakukan lakukan. Toh, itu bukanlah hal yang susah bukan? Kita tidak perlu jungkir balik ataupun berpikir keras untuk mendengar. Kita hanya perlu diam, dan mendengarkan.

Mendengarkan seseorang itu penting, bukan hanya karena itu menunjukkan rasa hormat. Tapi mungkin, itu bisa membantu seseorang untuk melepaskan energi buruk yang mereka pegang, tersembunyi di sela-sela pikiran mereka. Dan mungkin dengan mendengarkan, kalian bisa membantu seseorang untuk hidup untuk satu kali saja.

Comments are closed.