Ahok di Pertamina: Ditawari Fasilitas Kacamata Rp 120 Juta & Batik Rp 20 Juta

Basuki Tjahaja Purnama.
Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok mengungkapkan dirinya mendapatkan fasilitas kacamata Rp 120 juta dan baju batik Rp 20 juta dari fasilitas perusahaan.

Fasilitas ini, meskipun dari perusahaan, notabene dibayar negara karena sebagai BUMN. Karena itu, menurutnya tidak etik dilakukan.

Ahok mengatakan dengan menjabat sebagai dewan komisaris BUMN saja, gaji pokok yang diterima sudah cukup membuat dia dapat dikatakan masuk golongan orang kaya. Atas dasar itu, ia mengaku lebih realistis dalam memanfaatkan fasilitas tunjangan lain yang melekat padanya.

Ahok Tolak Ganti Kacamata Rp 120 Juta

Ahok menilai etika ini juga perlu diaplikasikan dalam hal penggunaan anggaran yang biasanya diberikan sebagai penunjang kinerja karyawan BUMN.

Ia memberikan contoh dalam penggunaan asuransi dari Pertamina misalnya, dirinya pernah menolak memanfaatkan klaim untuk mengganti kacamata dengan harga yang menurutnya tidak masuk akal.

“Saya beri contoh ini soal etika, kita itu kan ada AdMedika (asuransi yang digunakan Pertamina), kadang-kadang namanya tenant maunya kasih yang termahal. Saya pernah mau ganti kacamata udah ganti aja yang baru katanya,” cerita Ahok dalam webinar bertajuk etika bisnis yang digelar PPM Manajemen, Kamis (8/7).

“Saya bilang enggak bisa ini masih oke kok, ditawarin yang frame Rp 120 juta kan gendeng. Enggak bisa itu mahal, ‘ya gapapa Pak ini dibayarin kok Pak’, bagi saya itu etika ini adalah asas kepatutan,” sambung Ahok.

Ahok Tak Mau Fasilitas Baju Batik Rp 20 Juta

Selain kacamata, dia juga menyoroti fasilitas pembelian pakaian. Atas alasan penunjang operasional, bisa saja memilih membeli pakaian dengan harga puluhan juta rupiah.

Namun, dengan mengutamakan etika, ia menilai hal tersebut sebagai suatu bentuk pemborosan anggaran negara.

“Anda beli batik misalnya, saya pakai operasional, perlu enggak beli batik Rp 20 juta? kan enggak perlu. Kalau Anda batik tulis bantu orang Rp 2 juta atau Rp 3 juta okelah, karena itu karya seni kita tolongin,” jelas Ahok.

Menurut mantan Gubernur DKI Jakarta itu, kebiasaan-kebiasaan seperti ini mesti dicontohkan para pejabat BUMN. Dengan harapan hal seperti itu bisa menjadi role model dalam hal penerapan etika.

Bicara transformasi perusahaan pelat merah, kata Ahok, mesti dimulai dengan hal-hal kecil seperti itu. Ini juga yang membuat dia sempat bikin heboh beberapa waktu lalu dengan mengungkapkan besarnya limit kartu kreditnya sebagai petinggi BUMN.

Comments are closed.