7 Perusahaan di DIY Sudah Melantai di Bursa Efek, Paling Baru Ada UMKM

Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto: Nugroho Sejati/Kumparan

Perusahaan asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang telah melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) terus bertambah. Sampai saat ini, sudah ada tujuh emiten atau perusahaan di DIY yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sebagian besar perusahaan di DIY yang sudah IPO adalah perusahaan di sektor pariwisata, terutama hotel.

Pertama adalah PT Saraswanti Indoland Development (SWID), yang merupakan pemilik The Alana Yogyakarta, Innside by Melia Yogyakarta, dan Apartemen Mataram City. Kemudian ada juga PT Ayana Land International Tbk (NASA), yang telah berubah nama menjadi PT Andalan Perkasa Abadi Tbk.

Selanjutnya ada PT Indo Boga Sukses (IBOS), perusahaan yang bergerak di sektor makanan dan minuman, pengolahan makanan, restoran dan kafe, serta hotel. Salah satu restoran ternama yang dikelola oleh Indo Boga Sukses adalah restoran bernuansa Eropa, D’Monaco Restaurant.

Keempat ada PT Sinergi Megah Internusa (NUSA), yang juga perusahaan di bidang perhotelan. Salah satu hotel yang dimiliki di Yogya adalah Lafayette Boutique Hotel. Perusahaan kelima adalah Eastparc Hotel (EAST) yang juga mengoperasikan salah satu hotel bintang 5 di Yogya, yakni Eastparc Hotel.

Tak cuma perusahaan di bidang perhotelan dan restoran, Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan DIY, Irfan Noor Riza, juga mengatakan ada perusahaan startup teknologi di DIY yang telah melantai ke BEI. Perusahaan tersebut adalah Global Sukses Solusi (RUNS), sebuah startup yang menyediakan solusi perangkat lunak Enterprise Resource Planning (ERP), Custom Application Development (CAD), dan layanan profesional yang terintegrasi dari proses bisnis hulu ke hilir untuk segala bisnis dari skala menengah hingga besar.

Bahkan paling baru ada perusahaan UMKM yang sudah berhasil melantai di bursa efek pada awal tahun 2023 ini.

“Terakhir yang baru saja IPO ada produsen air mineral dalam kemasan, namanya PT Mitra Tirta Buwana (SOUL), yang merupakan UMKM. Jadi hampir semua sektor ada, bahkan terakhir ada UMKM,” kata Irfan Noor Riza saat dihubungi, Selasa (24/1).

Kepala BEI Perwakilan DIY, Irfan Noor Riza. Foto: Dok. UNS

Melantainya Mitra Tirta Buwana ke pasar modal menurut Irfan bisa menjadi mercusuar bagi perusahaan-perusahaan UMKM lain yang ingin melantai di BEI. Sebab, sebelumnya muncul banyak pertanyaan terkait kemungkinan perusahaan UMKM untuk melantai di bursa efek.

Syarat IPO menurut Irfan sebenarnya memang tidak terlalu sulit, bahkan semua perusahaan UMKM sebenarnya bisa. Misalnya harus berbentuk PT, minimal sudah beroperasi satu tahun, serta sejumlah syarat lain yang sebenarnya sangat mungkin dipenuhi oleh setiap perusahaan termasuk UMKM.

“Jadi enggak perlu ragu sebenarnya kalau mau melantai ke Bursa Efek Indonesia, karena semua UMKM sebenarnya bisa asal semua syaratnya bisa dipenuhi,” lanjutnya.

Irfan mengatakan dengan melantainya Mitra Tirta Buwana ke bursa efek juga telah membuat minat perusahaan-perusahaan UMKM di Yogya untuk mengikuti jejak tersebut semakin besar. Sampai saat ini menurut dia sudah ada beberapa perusahaan UMKM yang sedang mempersiapkan diri untuk melantai di bursa efek.

“Mimpi kami, harapan kami, total ada tiga perusahaan lagi yang listing di Bursa Efek Indonesia dari DIY pada tahun 2023,” kata Irfan Noor Riza.

Comments are closed.