7 KK Terpapar COVID-19, Pemkot Tegal akan Micro Lockdown di Kelurahan Panggung

Rapat Koordinasi Persiapan Pelaksanaan PPKM Mikro di Ruang Adipura, Balai Kota Tegal, Senin (28/6/2021). (foto: istimewa)

TEGAL – Pemerintah Kota Tegal akan memberlakukan micro lockdown di Kelurahan Panggung, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal. Sebab, di kelurahan tersebut, sedikitnya ada tujuh kepala keluarga (KK) yang terkonfirmasi positif COVID-19.

Hal itu disampaikan Wali Kota Dedy Yon Supriyono saat Rapat Koordinasi Persiapan Pelaksanaan PPKM Mikro di Ruang Adipura, Balai Kota Tegal, Senin (28/6/2021).

“Saya menyarankan untuk memaksimalkan peran Posko Kelurahan Panggung maupun Posko Kecamatan Tegal Timur untuk menerapkan agenda kegiatan sesuai regulasi yang ada,” kata Dedy, dalam keterangan tertulis yang dirilis Humas Pemkot Tegal.

“Regulasinya yaitu Instruksi Menteri Dalam Negeri No. 14 Tahun 2021 tentang PPKM Mikro dan Mengoptimalkan Posko Penanganan Corona Disease 2019 di tingkat desa dan kelurahan untuk pengendalian penyebaran virus Corona,” sambung Dedy.

Disampaikan Dedy, saat ini Kota Tegal masih dalam zona oranye, namun wilayah Kota Tegal terletak di tengah-tengah kabupaten zona merah yang secara epidemilogis sangat besar risiko pengaruhnya untuk menjadi zona merah.

“Saya selaku Wali Kota Tegal sekaligus Ketua Satgas COVID-19 Kota Tegal tentu akan mengambil langkah antisipatif guna kembali menekan angka kesakitan, penularan, kematian akibat penyakit ini,” kata Dedy.

“Salah satu kebijakan dan strategis utama dalam mengendalikan penyebaran kasus COVID-19 adalah melaksanakan PPKM berbasis mikro secara ketat,” sambungnya.

Dedy Yon juga mengimbau untuk melakukan sosialisasi, edukasi dan pendekatan kepada masyarakat tentang penerapan kebijakan lockdown mikro. Sehingga tidak menimbulkan kegaduhan, komplain, kegelisahan dan kebingungan masyarakat.

“Lakukan sosialisasi edukasi penerapan 5 M yaitu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumuman, mengurangi mobilitas. Menyukseskan program vaksinasi. Meningkatkan testing, tracking dan treatmen dengan melibatkan tiga pilar,” kata Dedy.

Dedy menambahkan, untuk melakukan pembatasan aktivitas sosial, ekonomi, keagamaan dan pendidikan sesuai ketentuan serta memberikan bantuan sosial bagi masyarakat terdampak.

“Pemkot mengambil langkah kontijensi manakala terjadi situasi kasus yang tidak terkendali, di antaranya dengan menambah kapasitas tempat isoslasi terpusat,” kata Dedy.

Kemudian ruang isolasi di rumah sakit rujukan juga ditambah menjadi minimal 50 persen dari jumlah bed yang tersedia. Demikian dengan jumlah bed ruang ICU ditingkatkan menjadi 25 persen dari jumlah bed pelayanan pasien COVID-19.

Dedy menambahkan bahwa aturan tersebut merupakan aturan dari Kementerian Dalam Negeri, Kemenkes, juga dari Menteri Agama.

“Kita harus betul-betul mencermati karena kita harus tahu membedakan antara zona merah dan juga zona orange. Sebetulnya yang diarahkan sebagai zona merah PPKM ini skala Mikro adalah zona merah. Kalau zona oranye adalah pengendalian COVID-19, jadi kita bisa membedakan, karena ini sudah menjadi ketentuan dari pusat,” pungkas Dedy. (*)

Comments are closed.