63 Pasien Corona RSUP Dr Sardjito Meninggal Sehari, Imbas Krisis Oksigen?

Tenda darurat yang didirikan di RSUP Dr Sardjito. Foto: Dok. Istimewa

Kabar duka datang dari RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta. Sebanyak 63 pasien corona dilaporkan meninggal dunia dalam waktu dalam waktu 24 Jam. Beberapa di antaranya disebut karena krisis oksigen.

Anggota DPRD DIY, Muhammad Yazid, membeberkan soal kematian yang tinggi ini. Dia menyebut lonjakan kematian karena krisisnya oksigen di RSUP Dr Sardjito.

“Hari kemarin 63, cuma sekitar 30 yang di pagi itu. Yang jelas Sardjito krisis oksigen dari pagi sampai malam sehingga yang di ICU ya terjadi lonjakan kematian yang luar biasa. Ini anomali sesuatu hal yang belum pernah terjadi kematian yang cukup signifikan,” kata Yazid dikonfirmasi wartawan, Minggu (4/7).

“63 ya tidak semua kekurangan oksigen, secara klinis ya meninggal tapi jelas COVID-19 itu ya,” katanya.

Yazid mengeklaim pihaknya melakukan investigasi dari informasi yang didapat. Peristiwa ini, menurutnya, jadi tanggung jawab RSUP Dr Sardjito dan Pemda DIY harus bertanggung jawab. Terlebih beberapa hari lalu telah dibentuk satgas oksigen.

“Kami juga lakukan investigasi, jelas-jelas Sardjito kekurangan oksigen. Mestinya tidak hanya Sardjito yang tanggung jawab, Pemda juga tanggung jawab, apalagi dua hari lalu sudah dibentuk satgas oksigen,” ujarnya.

Kepala Bagian Hukum, Organisasi, dan Humas RSUP Dr Sardjito Banu Hermawan mengatakan 63 pasien corona yang meninggal itu adalah data Sabtu (3/7) pukul 07.00 WIB hingga Minggu (4/7) 07.00 WIB. Namun dia menolak jika pasien disebut meninggal karena kurang oksigen.

“Begini, 63 itu dari data Sabtu pagi jam 7 sampai Minggu pagi jam 7, itu ada 63. Stok oksigen betul-betul off dari stok oksigen sentral itu jam 8 malam itu stok off tapi, kami sudah siapkan oksigen tabung,” kata Banu ketika dihubungi, Minggu (4/7).

Pasien menjalani perawatan di tenda darurat yang dijadikan ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) di RSUP Sardjito, Sleman, DI Yogyakarta, Rabu (30/6/2021). Foto: Hendra Nurdiyansyah/Antara Foto

Dari 63 yang meninggal itu, 33 orang di antaranya meninggal setelah pukul 20.00 WIB atau saat kondisi oksigen di rumah sakit kritis. Namun, Banu mengatakan pasien meninggal karena kondisi yang sudah berat ketika tiba di rumah sakit, bukan karena krisis oksigen.

“33 itu tidak 33 dengan ventilator itu tidak. Mereka kondisinya sudah berat. Kedua tetap tersuplai oksigen walaupun dengan tabung. Meninggal dengan ventilator hanya 4 pasien di Gatotkaca itu,” ujarnya.

Banu menuturkan di masa krisis itu datang bantuan 100 tabung dari Polda DIY. Sehingga pasokan oksigen masih tersuplai hingga pukul 04.00 WIB tadi.

Kemudian pasokan oksigen sebanyak 8 ton telah datang dari Kendal, Jawa Tengah sudah pada pukul 03.00 WIB tadi. Stok ini bisa bertahan hingga besok.

Lalu akan ada kiriman oksigen lagi dari Gresik, Jawa Timur pada hari ini sekitar 12 ton. Jumlah ini bisa digunakan sampai lima hari mendatang.

Comments are closed.