3 Dokter Forensik Polda NTT Autopsi Jenazah Korban Dugaan Penganiayaan

Suasana pihak keluarga korban pada saat proses autopsi berlangsung. Foto : Istimewa

LEWOLEBA – Proses autopsi jenazah Marselinus Soman Witak (18) korban dugaan kasus penganiayaan pada Sabtu (26/6) malam di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) dilakukan hari ini.

Rangkaian autopsi terjadi di Kamar Jenazah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lewoleba, pada Selasa (29/6) siang.

Pantauan media, tiga Dokter Forensik dari Polda NTT diterjunkan untuk melakukan autopsi jenazah korban.

Dokter Forensik tersebut yakni, AKBP dr. Eddy Syahputra Hasibuan, Sp, KF, MH.Kes, Kasubbid Dokpol Biddokkes Polda NTT.

IPTU Krispinus R. Meo, A.Md, Kep, Paur Subbid Dokpol Biddokkes Polda NTT.

Briptu Dian Nofitasari Umbu Nay, SKM, Bannum Doksik Subbid Dokpol Biddokkes Polda NTT.

Proses autopsi dipimpin Kapolres Lembata melalui Kasat Reskrim, I Komang Sukamara.

Tampak juga puluhan keluarga korban sudah memadati halaman depan kamar jenazah RSUD Lewoleba sejak pagi.

Mereka datang untuk menyaksikan jalannya autopsi terhadap almarhum Marselinus Soman Witak (18).

Lukas Witak, keluarga korban dalam dugaan kasus penganiayaan menjelaskan, kasus kematian tersebut memberikan tanda tanya bagi keluarga.

Karena itu menurutnya, rangkaian dari autopsi adalah satu-satunya alternatif untuk mengetahui penyebab matinya korban.

“Keluarga serahkan kepada Kepolisian dan ahli autopsi,” ungkap Lukas Witak kepada wartawan di halaman depan Kamar Jenazah RSUD Lewoleba, Selasa (29/6).

Sementara itu, Aloysius Laot, ayah almarhum Marselinus Soman Witak (18) hanya tampak sedih.

Aloysius juga turut serta mendukung proses autopsi terhadap jasad anaknya yang ditangani oleh tiga Dokter Forensik dari Polda NTT itu.

“Saya mau, karena saya mau apa penyebab anak saya meninggal,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (29/6).

Hadir dalam proses tersebut, aparat Reskrim dan Intel Polres Lembata, termasuk tim dokter dari RSUD Lewoleba. Puluhan keluarga korban juga hadir disitu.

Comments are closed.