7 Teknik Closing Yang Efektif Menghasilkan Transaksi Penjualan

Pada artikel ini kita akan membahas tentang teknik closing yang efektif menghasilkan transaksi penjualan. Ini merupakan tahap lanjutan dari marketing atau pemasaran. Marketing akan menghasilkan leads, prospek atau pembeli potensial. Sedangkan teknik closing akan menghasilkan sales atau penjualan yang berasal dari leads yang masuk ke bisnis Anda.

Kami yakin kalau Anda sudah paham dengan perbedaan sales dan marketing. Sehingga ke depan kami tidak perlu lagi menjelaskan hal ini. Kita akan fokus ke apa itu teknik closing, bagaimana menerapkan teknik closing dan juga apa saja macam-macam teknik closing yang bisa langsung Anda praktikkan setelah membaca artikel ini.

Apa Itu Teknik Closing Dan Mengapa Penting Bagi Bisnis?

Teknik closing adalah sebuah metode untuk membuat calon pembeli produk benar-benar menjadi pembeli produk kita. Atau dengan kata lain ini merupakan sebuah teknik yang bisa digunakan untuk mengubah leads menjadi pembeli.

Ketika kita menjual produk dan berinteraksi dengan calon pembeli via chat, kita perlahan dan sedikit demi sedikit mengarahkan mereka untuk membeli produk kita. Saat proses mengarahkan itulah teknik closing yang baik dibutuhkan agar calon pembeli tidak merasa sedang dipaksa dan dengan senang hati tertarik terhadap produk kita.

Perilaku pasar Indonesia tidak sama dengan perilaku konsumen di negara seperti Amerika. Di negara yang kultur belanja onlinenya sudah terbangun, teknik closing via WhatsApp, WhatsApp Web atau media sosial cukup jarang digunakan. Mereka cukup melihat spesifikasi produk yang tertera di website atau e-commerce, lalu mereka memutuskan untuk beli atau tidak.

Sementara di Indonesia, kultur belanja onlinenya adalah “tanya dulu baru beli.” Jadi, meskipun sudah ada keterangan mengenai spesifikasi produk, warna, dan harga, calon pembeli tetap merasa perlu untuk bertanya-tanya lebih dahulu. Karena itu meskipun toko online kita sudah canggih, WhatsApp harus tetap tersedia.

Karena kultur belanja online masyarakat Indonesia seperti itu maka kita perlu memahami segala hal mengenai teknik closing. Tujuannya supaya orang yang sudah chat dengan kita, bisa langsung beli tanpa ragu, tanpa tapi dan tanpa nanti.

Persiapan Sebelum Menjalankan Teknik Closing

Sebelum kita mempelajari berbagai penerapan teknik closing di dalam bisnis, ada beberapa hal yang perlu Anda persiapkan terlebih dahulu. Karena beberapa hal ini akan sangat berkaitan dengan cara Anda menerapkan teknik closing nantinya.

Adapun hal-hal tersebut antara lain:

  • Memahami keunggulan produk
  • Mengetahui mengapa konsumen harus beli sekarang
  • Membangun kepercayaan.

Memahami Keunggulan Produk

Pertama, Anda harus paham betul seluk beluk produk yang ditawarkan. Banyak pembelian yang gagal terjadi hanya karena Customer Service (CS) atau Anda sendiri tidak bisa menjawab pertanyaan calon pembeli terkait produk yang kita jual. Atau kalaupun bisa menjawabnya, kkita terkesan ragu karena tidak mengetahui detil produknya secara pasti.

Jadi, kita perlu tahu semua hal tentang produk kita, dan juga alur pembelian dan hal-hal lain yang berhubungan dengan produk. Kalau Anda gagal mempelajari dan memahami produk Anda sendiri, maka teknik closing seperti apa pun yang digunakan akan sulit untuk berhasil.

Mengetahui mengapa konsumen harus beli sekarang

Berikutnya, Anda harus bisa memahami mengapa jika konsumen membeli produknya sekarang. Mereka akan mendapat berbagai keuntungan.

Jadi, kita juga perlu menyiapkan apa yang menjadi pembeda produk kita dengan produk kompetitor. Sehingga jika calon pembeli tidak membeli dari kita sekarang juga, mereka akan merugi. Pemahaman terhadap hal ini akan sangat membantu ketika kita menerapkan teknik closing.

Membangun kepercayaan

Umumnya, tidak ada calon pembeli yang membeli dalam sekali penawaran. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk membangun kepercayaan.

Jadi, meskipun tidak jadi membeli, kita tetap harus memberikan servis yang ramah dan baik. Jika kita berhasil melakukannya, mereka akan punya rasa percaya dan kembali pada kita.

Bahkan, jika pembeli puas dengan pelayanan kita, mereka dengan sendirinya akan kembali lagi tanpa harus menerapkan teknik closing yang macam-macam. Itulah mahalnya harga sebuah kepercayaan.

7 Teknik Closing Yang Efektif Menghasilkan Transaksi Penjualan

Setelah kita mempersiapkan semua hal di atas, kini saatnya kita mengenal dan mempelajari berbagai macam teknik closing yang efektif. Harapannya, ketika Anda menerapkan ini, calon pembeli tanpa ragu akan segera transfer.

1. Berikan pertanyaan pilihan

Teknik closing yang pertama adalah untuk selalu memberikan pertanyaan pilihan. Jadi jangan sampai kita memberikan pertanyaan putus.

Contoh pertanyaan putus misalnya seperti ini:

“kak jadi beli ga?”

Kalau kita bertanya seperti ini, niscaya jawabannya adalah “Gak!”

Teknik closing yang efektif biasanya selalu melibatkan pertanyaan yang menyediakan pilihan, contohnya begini:

“Kak, jadinya mau warna merah atau putih?”

“Kak, jadinya mau COD atau dikirim?”

“Kak, jadinya mau transfer bank atau pakai OVO?”

Gunanya adalah agar calon pembeli tetap terhubung dan niscaya mereka tidak akan bilang “tidak”.

Jadi, mereka akan sampai pada titik siap untuk membeli melalui pertanyaan-pertanyaan kita. Dengan cara ini, kita menghindarkan diri kita dari sifat jutek dan terlihat peduli pada kondisi calon pembeli.

2. Yakin mereka akan beli

Kedua, teknik closing yang efektif adalah mengasumsikan bahwa calon pembeli memang akan membeli. Closing itu soal keyakinan, jika begitu chat dari pelanggan masuk dan kita merasa tidak yakin, alam bawah sadar kita akan membuat tindakan berikutnya jadi kurang meyakinkan juga.

Jadi, kita harus berpikir bahwa mereka memang pasti akan membeli.

Contohnya, ketika calon pembeli bertanya tentang harga, kita bisa katakan kepada calon pembeli seperti ini:

“Harganya 50,000 kak, mau beli 2 atau 1 aja?”

Jadi, kita juga mendorong kepada calon pembeli untuk mempertimbangkan bahwa mereka memang perlu membeli produk kita. Teknik closing ini memang butuh pengalaman, namun seiring waktu kita bisa melihat dan tampil meyakinkan agar calon pembeli memang jadi membeli produk kita.

3. Teknik 3 in 1

Berikutnya adalah teknik 3 in 1, alias menawarkan tiga keuntungan dalam 1 produk. Mengapa tiga? Karena jumlah tersebut disinyalir lebih masuk ke pikiran konsumen dan lebih enak didengar.

Misalnya kita bisa tawarkan dengan mengatakan:

“Kalau beli teh ini, manfaat adalah bagus untuk kulit, membantu pencernaan, dan meningkatkan daya tahan tubuh.”

Atau

“Kalau dibanding kopi X, kopi kita lebih murah, lebih halus, dan lebih wangi kak.”

Jadi selain menceritakan keunggulan, kita juga bisa membandingkannya dengan produk kompetitor. Teknik closing ini cenderung efektif karena calon pembeli butuh pembanding dan mengetahui keunggulan produk secara lebih jelas sebelum membeli.

4. Pastikan kita yang terakhir chat

Teknik yang keempat adalah memastikan kita menjadi yang terakhir chat. Jadi jangan biarkan calon pembeli menjadi yang yang terakhir chat. Hal itu menunjukkan seolah kita tidak peduli lagi pada mereka. 

Misalnya saja pembeli menuliskan:

“Oke”.

Meskipun itu tandanya dia telah mengakhiri percakapan, tapi jangan sampai kita biarkan. Kita bisa balas dengan seperti ini:

“baik kak, terima kasih sudah mengunjungi toko kami.”

Meskipun calon pelanggan tidak jadi membeli, tetap usahakan kita yang terakhir membalas. Hal ini menunjukkan rasa siap kita, dan membangun kepercayaan di benak konsumen bahwa servis kita bagus dan cekatan. Teknik closing ini sangat efektif untuk memberikan citra positif pada konsumen.

5. Now or Never

Teknik closing yang kelima adalah dengan memberikan kelangkaan kepada calon pembeli. Maksudnya kita memberikan semacam pengumuman kepada calon pelanggan bahwa jika mereka tidak membeli produk kita sekarang mereka akan rugi.

Contohnya seperti ini:

“Kalau kakak, beli sekarang, kakak akan dapat diskon untuk produk X sebesar 30%”

Atau

“Kalau kakak nunda sampai besok, nanti tidak ada gratis ongkir kak, kalau transfer hari ini kami kirimkan hari ini juga dan besok sudah sampai.”

Dengan begitu, mereka akan merasa terdesak untuk membeli. Anda juga bisa menggunakan teknik closing ini jika produk Anda sedang memunculkan varian baru atau diskon baru. Jadi, menampilkan eksklusivitas dan kelangkaan akan membantu penjualan menjadi lebih tepat terjadi.

6. Empati

Teknik closing yang keenam adalah menunjukkan empati kepada calon konsumen. Jadi kita menempatkan diri sebagai si konsumen. Misalnya calon pelanggan kita mengeluh tentang wajahnya jerawatan dan bertanya apakah produk kosmetik kita bisa membantu.

Contoh jawaban yang keliru:

“Oh tentu bisa, jangan khawatir kak, pasti bisa sembuh.”

Hal ini selain khawatirnya memberi janji palsu, juga kita menunjukkan seolah masalah tersebut sepele.

Jawaban yang dianjurkan.

“Saya juga kurang lebih dulu sama kak, itu ganggu banget, apalagi kalau ketemu teman. Tapi sejak pakai produk ini, saya juga sedikit-sedikit bisa lebih pede, karena efeknya cepet banget kerasa kak.”

Dengan teknik closing seperti ini, kita lebih dulu masuk ke dalam dunianya si pelanggan. Lalu dari situ baru kita munculkan keampuhan produk kita. Calon pelanggan akan cenderung lebih percaya dan yakin karena hatinya sudah lebih dulu kita dapatkan. Tidak sekonyong-konyong kita langsung menawarkan produk.

7. Testimoni

Teknik closing yang terakhir adalah dengan memberikan testimoni. Seperti sudah disinggung sebelumnya, rata-rata orang Indonesia perlu bertanya sebelum membeli. Untuk bisa menjawab pertanyaan tersebut mereka butuh bukti dari yang sudah berhasil.

Jadi, kita juga perlu memberitahu calon pelanggan tentang kesuksesan produk kita di mata pelanggan lain.

Misalnya seperti ini:

“Krimnya ampuh kak buat ngilangin jerawat, ini komentar dari salah satu pelanggan kami yang problemnya sama dengan kakak.”

Lalu kita berikan screen shoot dari pelanggan yang dimaksud.

Teknik closing ini memperkuat argumen kita karena ada bukti pernah berhasil sebelumnya. Dengan begitu, calon pelanggan menjadi lebih mudah untuk diyakinkan. 

Itulah beberapa teknik closing yang bisa Anda terapkan dalam mendapatkan penjualan. Semoga bermanfaat dan sampai jumpa di artikel kami yang berikutnya. 

Sumber: kirim.email/teknik-closing/

Awas Kenakalan Karyawan Mengintai!

Sebuah perusahaan maupun organisasi bisnis pasti memiliki orang-orang yang dipekerjakan sebagai roda penggerak dari usaha tersebut. Adanya produk berupa barang dan jasa yang memiliki kualitas terbaik dan tak ada tandingannya pun tak akan membuat perusahaan menjadi usaha yang maju dan memimpin pasar tanpa adanya manusia sebagai pihak yang menjalankan berbagai fungsi dalam perusahaan tersebut.

Sayangnya, tidak semua orang bisa menjadi orang-orang yang menyenangkan bagi Anda. Beberapa orang memiliki latar belakang yang memicu pemahaman dan perilaku tertentu sehingga muncul sebagai kebiasaan dan budaya hidup masing-masing. Beberapa kebiasaan ini terkadang menjadi hal-hal yang tidak bisa ditoleransi oleh aturan organisasi tempatnya bekerja. Manajemen menjadi lebih aware dengan penyimpangan yang mungkin dilakukan oleh pekerja mereka sendiri karena pada akhirnya perusahaanlah yang paling memiliki potensi besar terkena dampaknya.

Awas kenakalan karyawan mengintai! Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, semua orang memiliki kepribadian sendiri yang terbentuk dari masa lalu berupa kejadian, pemahaman, dan budaya hidupnya. Beberapa perilaku yang mencerminkan bentuk kenakalan karyawan ini harus Anda ketahui dan segera beri tindakan sebelum terlampau jauh menjadi lebih parah.

  1. Karyawan Anda kerap terlambat dan  kerap membuat alasan yang  bermacam-macam untuk menutupi kebiasaannya itu. Ia menjadi orang yang tidak bisa bekerja secara tepat waktu. Jika kenakalan ini tidak segera ditindak, perusahaan sendirilah yang akan merugi.
  2. Kebiasaan  menjadi  pribadi  yang  moody  merupakan salah  satu  bentuk  kenakalan  karyawan. Ketika mereka tidak dalam kondisi atau suasana hati yang menyenangkan, mereka cenderung menjadi pengangguran terselubung: raga mereka berada di kantor namun pikiran mereka melayang kemana-mana. Akibatnya, pekerjaan menjadi tidak terselesaikan secara baik.
  3. Kerap memotong jam kerja kantor jelas menjadi kenakalan karyawan yang cukup mengganggu dan mempengaruhi kinerja perusahaan. Segera ambil tindakan untuk pelanggaran satu ini.
  4. Meski terlihat konyol, namun peralatan kantor bisa menjadi sasaran bagi karyawan nakal sebagai media mengekspresikan diri. Tak jarang beberapa peralatan kantor justru dibuat menjadi mainan yang seharusnya tidak mereka kerjakan dan buat. Selain membuang-buang alat tulis dan alat kantor, hal tersebut tidak memberikan manfaat bagi perusahaan tentunya.
  5. Sudah menjadi naluri manusia untuk bersosialisasi. Namun sosialisasi yang hanya berkumpul untuk membicarakan orang lain alias bergosip juga menjadi bentuk kenakalan karyawan yang perlu Anda tindak. Selain  tidak  memberikan  manfaat  bagi  perusahaan,  hubungan  personal antara karyawan satu dengan karyawan lain bisa menjadi renggang dan pada akhirnya berdampak pada produktivitas masing-masing orang.
  6. Kenakalan karyawan yang perlu Anda ketahui dan sadari lain adalah kebiasaan mem-bully rekan kerjanya dan hobi mencari muka kepada atasan untuk mendapat penilaian kerja yang bagus.

Itulah beberapa ciri dan karakteristik dari kenakalan karyawan yang sangat mungkin ada dan terjadi bahkan mempengaruhi kinerja perusahaan secara keseluruhan. Anda mungkin  memberlakukan  diri Anda sebagai atasan dan manajemen yang berusaha terbuka dengan pekerja untuk tujuan professional namun tetaplah ingat: Awas kenakalan karyawan mengintai!

Karena itu, Digaze dibangun. Dengan fitur yang canggih, Digaze mampu meminimalisir kecurangan yang mungkin dilakukan karyawan, terutama yang berada di luar pengawasan langsung atasan. Digaze didesain agar karyawan bisa lebih produktif dan unggul, yang kemudian dapat meningkatkan penjualan perusahaan.

Sumber: hrd-forum.com

TIPS SUKSES MENJADI MANAJER

Cepat lambat perkembangan suatu perusahaan ditentukan oleh pemimpinnya. Perusahaan akan berkembang dengan pesat apabila memiliki pemimpin ataupun manajer yang bagus, yakni manajer yang mampu bekerja keras untuk mencapai target-target perusahaan. Sedangkan menjadi seorang manajer bukan perkara yang mudah karena memiliki tanggung jawab  besar untuk mengelola segala aspek perusahaan. Oleh sebab itu, hendaknya seorang manajer harus kreatif dan inovatif sehingga dapat meningkatkan keuntungan perusahaan. Berikut ini adalah tips sukses menjadi manajer.

  • Mendelegasikan tugas dengan tepat

Seorang manajer harus bertanggung jawab mengetahui dan menetapkan siapa yang tepat untuk melaksanakan tugas tertentu. Oleh karena itu, Anda harus mengenali potensi-potensi serta keterbatasan pada setiap anggota tim. Setiap orang memiliki potensi yang berbeda-beda. Sehingga diperlukan observasi atau kedekatan antara manajer dan anggota timnya. Dengan mendelegasikan tugas secara tepat akan membantu meningkatkan kinerja dan rasa kepercayaan diri anggotanya.

  • Memimpin dengan teladan

Menjadi seorang pemimpin hendaknya menjadi contoh yang baik kepada semua orang. Ketika adanya suatu peraturan, seorang manajer adalah orang pertama yang mematuhi peraturan-peraturan tersebut. Sehingga seorang manajer hendaknya disiplin dalam melaksanakan berbagai hal yang berkaitan dengan tugas-tugas sebagai seorang manajer. Hal tersebut akan memiliki pengaruh kepada karyawan dalam menilai dan rasa hormat terhadap manajer.

  • Mampu memberi motivasi

Seorang manajer harus mengetahui apa yang dapat memotivasi dari setiap anggota tim. Tugas ini cenderung menuntut seorang manajer untuk memahami secara mendalam masing-masing anggota tim karena setiap orang memiliki standar motivasi yang berbeda. Diharapkan ketika anggota tim memiliki kesulitan atau penurunan kinerja, manajer mampu memotivasi secara tepat sesuai dengan karakter setiap anggoa. Sehingga anggota tim mampu kembali bekerja secara baik dan mencapai target kerja.

  • Pintar Membaca Situasi

Menjadi manajer harus rajin dan pintar membaca. Tidak sekadar membaca buku agar pengetahuannya yang terkait pekerjaan terus bertambah. Melainkan juga kepintaran dalam membaca situasi yang berkembang. Kemampuan ini akan membantu perusahaan berlari lebih kencang. Kritis dan cepat bereaksi terhadap situasi yang muncul menjadi hal yang harus terus Anda kembangkan. Apalagi di era globalisasi di mana perubahan bisa sangat terjadi setiap saat. Rutin mengumpulkan dan menganalisis informasi yang masuk akan membantu Anda dalam mengambil putusan dan tindakan strategis yang penting bagi perusahaan.

  • Pantang Menyerah

Untuk bisa menjadi seorang manajer yang sukses pasti akan banyak menemui masalah dan tantangan. Tidak ada jalur khusus untuk menjadi manajer, kecuali perusahaan itu milik orang tua Anda. Karena itulah Anda harus punya mental pantang menyerah. Ketika orang lain menganggap tugas yang diberikan kepada Anda mustahil untuk dilakukan, buktikan bahwa semua anggapan tersebut keliru.

Ingat, keberhasilan adalah hasil positif dari sebuah usaha yang terus menerus dilakukan secara konsisten. Bukan sebuah keajaiban atau keberuntungan.

Lakukan semua tugas secara maksimal dan konsisten, maka Anda akan merasakan hasil manisnya untuk karier Anda kelak.

  • Mengakui kesalahan

Hal yang seharusnya dihndari dari seorang manajer adalah membuat kesalahan dalam penilaian dan pengambilan keputusan. Akan tetapi tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan. Ketika seorang manajer melakukan hal tersebut, hendaknya bertanggung jawab untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf. Selain itu, akan lebih baik apabila kesalahan yang dilalkukan dapat menjadi bahan diskusi untuk meminta masukan agar hal-hal tersebut tidak terjadi lagi dikemudian hari.

  • Komunikasi yang efektif

Manajer dituntut untuk berkomunikasi dengan anggota tim secara rutin berkaitan dengan tugas-tugasnya. Untuk menunjang hal tersebut, seorang manajer harus memiliki kemampuan komunikasi yang efektif baik secara lisan maupun tertulis. Komunikasi ini hendaknya berlangsung secara interaktif, yakni seorang manajer dan anggota tim dapat saling mengerti satu sama lain. Selain itu, menjadi seorang manajer harus bisa menghargai anggotanya ketika mengalami masalah tanpa harus bersikap kasar dan menyinggung.

  • Berani Ambil Risiko

Salah satu ciri para manajer sukses adalah keberanian mengambil risiko. Keberanian ini umumnya dimiliki mereka yang berada di kisaran usia 30 sampai 35 tahun. Di rentang usia tersebut, karyawan masih dialiri semangat dan kreativitas tinggi, dan tentu saja keberanian mengambil risiko. Berbeda dengan karyawan yang sudah memasuki usia 40 tahunan. Meski pengalaman kerja sudah matang, tapi secara mental mereka tidak akan berani mengambil risiko. Padahal perkembangan sebuah perubahan tak akan lepas dari risiko. Karena itu tunjukkan keberanian Anda, yang diperkuat perhitungan matang, untuk mengambil risiko yang berujung kesuksesan bagi perusahaan.

Sumber: www.hrd-forum.com; www.duniakaryawan.com

Apa itu KPI?

KPI atau Key Performance Index adalah acuan untuk mengukur kinerja karyawan dalam suatu perusahaan secara berkala. Kinerja karyawan perlu diukur sebagai bahan evaluasi perusahaan agar dapat berkembang menjadi lebih baik lagi. Karena itu, KPI sangat diperlukan oleh perusahaan. Lebih jelas lagi, akan kami jabarkan mengenai pengertian, karakteristik, dan unsur dari KPI, sebagai berikut.

Pengertian KPI

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, KPI merupakan kependekan dari Key Performance Indicator. KPI berperan sebagai indikator untuk mengukur performa perusahaan, dalam hal ini berkaitan dengan kinerja dan produktivitas karyawan. KPI diperlukan untuk menilai performa perusahaan yang kemudian menjadi acuan bagi perusahaan untuk menentukan kebijakan ke depannya.

Dalam hal ini, KPI masing-masing perusahaan bisa berbeda-beda. Selain itu, setiap divisi atau departemen juga memiliki KPI yang berbeda. Namun, umumnya ada beberapa hal yang ada dalam KPI, yaitu target, leading indicator, dan lagging indicator.

1. Target, merupakan hal yang dijadikan tujuan utama dari indikator yang ditentukan perusahaan.

2. Leading indicator, merupakan indikator yang digunakan sebagai gambaran besar atau kemungkinan hasil ke depannya.

3. Lagging indicator, merupakan indikator yang berguna untuk mengukur berjalannya proses menuju hasil atau target.

Singkatnya, leading indicator ini merupakan indikator umum atau besarnya, sedangkan lagging indicator merupakan indikator khusus yang turut mendukung leading indicator.

Karakter KPI yang Ideal

Dalam menentukan KPI yang sesuai dan tepat dengan situasi perusahaan, beberapa karakteristiknya perlu diperhatikan. Hal ini dilakukan agar penggunaan KPI bisa diterapkan secara efektif. Berikut ini adalah penjelasan mengenai beberapa karakteristik yang harus diperhatikan pada sebuah KPI

Peningkatan pencapaian sesuai target dapat dilakukan dengan pembuktian secara objektif.

  • Hal-hal esensial yang dapat memberikan informasi penting ketika akan membuat keputusan, harus diukur secara baik dan benar
  • Menggunakan data pembanding untuk mengetahui setiap progres dan perubahan yang tengah berjalan
  • Mampu mengukur efektivitas, kualitas, efisiensi, ketepatan waktu, pengaturan, perilaku, kepatuhan, kinerja proyek, kinerja anggota, ekonomi, serta pemanfaatan sumber daya
  • Mampu menggunakan leading dan lagging indicator secara seimbang dalam mencapai target.

Selain itu, KPI yang digunakan oleh perusahaan harus disertai dengan objek yang dijadikan ukuran KPI. Berikut contoh objek beserta penjelasannya

  • Risiko. Dalam hal ini resiko-resiko yang dapat menganggu, memperlambat, hingga membahayakan setiap pencapaian target.
  • Personel. Objek ini fokus mengukur setiap skill, performa, hingga perilaku karyawan yang dapat memengaruhi setiap pencapaian target.
  • Project. Hal ini mengacu pada keefektifan program atau proyek yang sedang berjalan.
  • Operasional. Objek ini fokus pada hal-hal yang sifatnya operasional harian, strategi, gambaran produk, peningkatan produktivitas, pembuatan keputusan, dan lain-lain.
  • Strategis. Hal ini mencakup kapasitas perusahaan dalam soal keuangan, proses internal, hingga konsumen

Unsur-Unsur KPI

Dalam menentukan sebuah KPI yang dapat digunakan oleh perusahaan, sebaiknya harus memperhatikan 5 unsur penting, yaitu

  • Input, yaitu jumlah sumber daya yang digunakan untuk mencapai target meliputi jenis, kuantitas, dan kualitas sumber daya.
  • Proses, merupakan aktivitas yang dijalankan atau dilalui untuk mencapai hasil yang diinginkan secara konsisten, efisien, dan efektif.
  • Output, yaitu seberapa banyak hasil yang dikeluarkan dalam mengukur setiap kinerja yang dilakukan dengen menggunakan sumber daya.
  • Dampak, atau hasil akhir yang dicapai dengan peningkatan, perubahan, dan penambahan target.
  • Proyek, fokus pada keadaan dan progres program atau proyek yang berlangsung.

Metrik Umum KPI

Perusahaan yang menerapkan KPI pada sistem kerja mereka akan menggunakan ukuran-ukuran tertentu. Di mana hal tersebut, dijadikan sebagai acuan untuk mengetahui hasil dari KPI. Ukuran ini disebut dengan metrik yang merupakan alat ukur untuk proses KPI.

Metrik umum yang biasa digunakan oleh suatu perusahaan untuk setiap divisinya tentu berbeda-beda. Mulai dari divisi sales, marketing, finance, HRD, dan masih banyak lainnya. Di mana, hal yang berpengaruh pada aktivitas kerja dalam mencapai target memiliki peran penting.

Berikut contoh-contoh metrik umum pada beberapa divisi:

  1. Finance
    • Biaya akunting dan biaya variabel
    • Harga pokok penjualan
    • Pendapatan bersih, laba kotor, dan margin laba kotor
    • Pertumbuhan penjualan
    • Arus kas dan budget expense
    • waktu payroll dan waktu reimbursement
    • pembayaran kredit
    • nilai inventaris, dan lain sebagainya.
  2. HRD
    • Biaya operasional pada proses rekrutmen meliputi psikotes, test, dan interview
    • Proses rekrutmen meliputi waktu training dan hasil training
    • Staffing efisiensi
    • Data karyawan meliputi kualitas karyawan, usia rata-rata, gaji rata-rata, rasio karyawan laki-laki dan perempuan, persantese karyawan baru, jumlah rata-rata karyawan yang mengundurkan diri, dan lain sebagainya.
  3. Marketing
    • Marketing beserta rasio budget
    • Respon yang didapat dari setiap branding
    • Brand awareness dan customer awareness
    • Kekuatan dan kredibilitas yang dimiliki brand
    • Return on marketing investment
    • Traffic pada platform yang dimiliki, dan lain sebagainya.
  4. Sales
    • Kuota dan kapasitas sales
    • Rasio closing
    • Jumlah kesepakatan dari klien dan jumlah pesanan
    • Margin kotor per produk dan per sales
    • Frekuensi transaksi dan rata-rata pendapatan
    • Estimasi penjualan, dan masih banyak lainnya.

Kesalahan yang Sering Terjadi saat Menentukan KPI

Dalam menentukan KPI yang baik dan benar, kesalahan bukan hal yang asing dan sering terjadi. Kesalahan ini dapat dilihat ketika hasil dari seluruh kinerja perusahaan tidak dapat mencapai target. Permasalahan yang sering terjadi ini menjadi kendala yang memperlambat proses KPI. Berikut penjelasannya:

  1. Strategi dan objektif setiap perusahaan yang tidak jelas karena kebanyakan perusahaan menentukan keberhasilan berdasarkan performa dan sisi keuangan perusahaan saja
  2. Ketidaksepemikiran mengenai kepentingan setiap divisi menjadi permasalahan yang cukup menghambat
  3. Conflict of interest yang tercipta pada setiap proses dan program juga menjadi permasalahan
  4. Tidak adanya dukungan sistem yang mumpuni dalam membuat dan mengukur laporan kinerja.

Hal ini yang menjadi alasan mengapa KPI sangat penting peranannya dalam sebuah perusahaan. Setiap perusahaan mampu meningkatkan kinerja setiap personel dan kinerja perusahaan dalam mencapai target yang diinginkan. Untuk mempermudah kinerja tersebut, setiap perusahaan juga bisa menggunakan bantuan aplikasi karyawan dalam hal ini meningkatkan kinerja para karyawan yaitu dengan Digaze.

Aplikasi absensi karyawan Digaze bisa menjadi solusi setiap perusahaan dalam meningkatkan kinerja internal perusahaan.

Sumber: https://www.talenta.co/blog/insight-talenta/peran-kpi/

Mengatasi Permasalahan Tingginya Tingkat Turnover Karyawan

Tingkat turnover karyawan yang terlalu tinggi merupakan masalah, baik untuk tim HR maupun bagi perusahaan. Ada banyak alasan mengapa hal tersebut menjadi hal yang merugikan. Misalnya, apabila karyawan dari suatu perusahaan banyak mengundurkan diri, maka perusahaan tersebut perlu melakukan proses rekrutmen kembali untuk mendapatkan karyawan yang baru. Hal tersebut tentu saja akan membuang-buang waktu dan biaya. Selain itu, juga ada efek negatif yang harus perusahaan tanggung, mulai dari menurunnya produktivitas kerja hingga citra buruk perusahaan. Oleh karena itu, untuk mengatasi kondisi tersebut, perusahaan perlu mengetahui apa saja yang menjadi penyebab utama karyawan meninggalkan perusahaan.

Alasan Umum Tingginya Tingkat Turnover Karyawan

Berikut ini adalah beberapa alasan umum di balik tingginya tingkat turnover karyawan yang perlu diketahui

1. Beban pekerjaan yang tidak manusiawi

Beban pekerjaan yang sangat berat dan lebih banyak dari waktu kerja, akan membuat karyawan mudah untuk memutuskan mundur dari perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan perlu membagi rata beban kerja para karyawannya. Agar produktivitas meningkat tanpa memberatkan salah seorang atau divisi tertentu. Selain itu, sebaiknya perusahaan melakukan survei secara berkala tentang pendapat karyawan terhadap pekerjaan karyawan. Hal tersebut dapat menjadi upaya pencegahan turnover yang cukup efektif.

2. Karyawan mendapatkan tawaran gaji yang lebih tinggi

Beberapa karyawan akan meninggalkan pekerjaannya jika mereka mendapatkan tawaran pekerjaan lain dengan gaji yang lebih tinggi. Jadi, jika ada banyak karyawan di perusahaan Anda yang mengundurkan diri, cobalah Anda segera mengecek berapa gaji yang diberikan. Bandingkan dengan kualitas dan pengalaman kerja yang karyawan miliki. Lalu, lihatlah bagaimana perusahaan lain membayar gaji karyawan dengan kapasitas tersebut. Memiliki indikator penilaian kinerja yang tepat akan menjadi kunci untuk mengatasi masalah ini.

3. Budaya perusahaan yang tidak sehat

Budaya kerja di perusahaan sangat berkaitan erat dengan kebahagiaan karyawan. Jika karyawan menyukai budaya perusahaan, maka mereka akan lebih produktif dan setia pada perusahaan. Sebaliknya, jika karyawan tidak menyukai budaya perusahaan, maka karyawan akan lebih mudah untuk mengundurkan diri. Oleh karena itu, menciptakan budaya kerja yang baik dan sehat tentu saja menjadi hal penting yang harus dilakukan oleh setiap perusahaan. Lakukanlah perubahan yang nyata terhadap budaya perusahaan yang buruk, hingga karyawan mengetahui betapa perusahaan ingin berubah menjadi lebih baik.

4. Karyawan merasa tidak memiliki kesempatan berkembang

Jika perusahaan Anda tidak menyediakan sesuatu yang berarti bagi karyawan, tidak membuatnya berkembang, tentu bukan hal yang mustahil karyawan akan meninggalkan perusahaan Anda. Salah satu poin penting adalah meningkatnya ilmu atau kualitas diri hingga jenjang karir karyawan. Cobalah untuk mengadakan kegiatan-kegiatan yang dapat mengembangkan diri karyawan. Misalnya, workshop atau pelatihan tentang bidang kerja karyawan. Tidak hanya bidang kerjanya, pengetahuan lain seperti les bahasa juga bisa menjadi daya tarik tersendiri di mana karyawan akan merasa dirinya menjadi lebih baik.

5. Karyawan tidak menyukai perilaku atasan

Perilaku atasan yang tidak menyenangkan bisa menjadi salah satu alasan mengapa seorang karyawan ingin pindah kerja. Perilaku atasan yang baik, sangat penting karena dapat mempengaruhi kepuasan para karyawan. Atasan yang baik seharusnya mau memberikan apresiasi dan pujian yang tulus atas kinerja setiap karyawannya. Selain itu, atasan yang baik juga harus mampu menjadi pendengar yang baik, mau mengakui kesalahan, melihat dari sudut pandang yang berbeda, dan menghargai kontribusi setiap karyawannya.

Strategi Mencegah Tingginya Tingkat Turnover

Perusahaan seharusnya lebih berfokus pada pemenuhan kebutuhan dan ekspektasi karyawan melalui penguatan strategi retensi untuk mencegah tingginya tingkat turnover karyawan. Strategi retensi meliputi upaya yang dilakukan perusahaan untuk mempertahankan lingkungan kerja yang mendukung karyawan yang bekerja dengan nyaman di dalamnya. Kebijakan retensi yang diterapkan perusahaan biasanya ditujukan untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan karyawan. Dengan begitu, kepuasan kerja karyawan dapat meningkat serta mengurangi biaya tambahan untuk merekrut dan melatih karyawan yang baru.

Tingginya tingkat turnover karyawan merupakan kerugian besar bagi sebuah perusahaan. Apalagi jika karyawan tersebut merupakan karyawan yang berbakat dan cukup berpengaruh bagi perusahaan. Bukan hanya kehilangan sumber daya manusia yang terbaik, tetapi perusahaan juga akan mengalami penurunan produksi dan sumber finansial. Salah satu strategi untuk mempertahankan karyawan adalah dengan memberikan gaji dan tunjangan yang kompetitif. Dengan menggunakan sistem payroll, perhitungan dan pendistribusian gaji dapat dilakukan dengan mudah dan praktis. Anda dapat menggunakan software HR Sleekr yang memiliki fitur payroll, lengkap dengan potongan PPh 21 karyawan, iuran BPJS, dan lainnya. Sleekr merupakan solusi yang tepat untuk manajemen HR yang terintegrasi mulai dari absensi dan cuti online, klaim atau reimbursement, dan masih banyak lagi.

Sumber: https://sleekr.co/blog/mengatasi-permasalahan-tingginya-tingkat-turnover-karyawan/

Apa Saja Perbedaan Sales dan Marketing?

Perusahaan umumnya memiliki berbagai departemen atau divisi yang melakukan tugas berbeda sesuai dengan perannya masing-masing. Misalnya, sales, marketing, customer service, finance, programmer, dan lain sebagainya.  Namun, beberapa orang mungkin bertanya-tanya apakah peran sales dan marketing itu sama atau berbeda? Tak sedikit pula yang melihat sales dan marketing sebagai departemen atau divisi yang sama. Bukankah sales dan marketing sama-sama melakukan penjualan produk? Bagi orang awam, yang demikian mungkin terdengar sama. Tapi pada kenyataannya, sales dan marketing memiliki aktivitas, fungsi dan tugas yang berbeda. Meski punya peran berbeda, sales dan marketing adalah satu kesatuan, sangat berkaitan, dan saling berpengaruh antara satu sama lain.

Lalu, apa saja perbedaan antara sales dan marketing? Apa yang membuat sales dan marketing terlihat sama? Agar lebih memahami berikut merupakan perbedaan sales dan marketing.

Pengertian Sales dan Marketing

Sales didefinisikan sebagai bagian dari suatu perusahaan yang kegiatannya menjual, memastikan produk yang terlihat ataupun yang tidak terlihat laku dengan harga yang sesuai dengan perencanaan awal yang sudah ditetapkan tetapi juga dengan persetujuan dan kesepakatan konsumen.

Sementara marketing adalah keseluruhan sistem dari kegiatan bisnis seperti merencanakan produk, menetapkan harga, mempromosikan produk dan mendistribusikan barang dengan tujuan untuk memuaskan konsumen.

Secara singkat, sales ini merupakan penjualan dan marketing merupakan strategi untuk meningkatkan penjualannya.

Proses Kerja Sales dan Marketing

Selanjutnya, kita beda membedakan sales dan marketing dari sisi proses kerjanya. Merujuk pada pengertian sales yang merupakan penjualan, maka proses kerja sales yaitu langsung menghadapi konsumen. Namun, selain secara langsung, sales atau penjualan juga bisa dilakukan dengan melalui media, seperti telepon, media sosial atau apapun. Pada dasarnya kegiatan sales ini yakni aktivitas langsung atau interaksi langsung, asal kedua belah pihak menyetujui maka tidak menjadi masalah.

Agar tim sales dapat melakukan tugasnya dengan baik maka dibutuhkan tim marketing untuk melakukan analisis pasar atau mengidentifikasi kebutuhan dan keinginan konsumen. Sehingga, marketing ini merupakan kegiatan di belakang sales. Mereka yang memikirkan cara promosi, pangsa pasar, identifikasi kelebihan dan kekurangan produk, dan sebagainya. Dengan kata lain, perbedaan sales dan marketing ini adalah marketing bertugas menyiapkan konsep, alat, strategi untuk membuat konsumen tertarik dan sales bertugas melayani para konsumen agar produk laku terjual.

Prioritas dan Fungsi Sales dan Marketing

Dalam prioritas kerja, perbedaan sales dan marketing dapat dilihat dari target kegiatan. Prioritas marketing yaitu mendapatkan konsumen, menjangkau konsumen dan membangun hubungan yang baik sehingga mereka setia. Jika konsumen atau pelanggan Anda banyak maka pendapatan perusahaan juga akan meningkat.

Adapun fungsi dari sales adalah melayani konsumen dan membantu mereka mendapatkan produk yang dicari.

Dari prioritas dan fungsi keduanya  dapat disimpulkan bahwa sebenarnya sales dan marketing ini merupakan dua kegiatan yang saling berkaitan dan bersinergi.

Aktivitas atau Ruang Lingkup Kerja Sales dan Marketing

Sales dan marketing juga dapat dibedakan dari sisi aktivitas atau ruang lingkup kerjanya. Sales atau penjualan jangka waktu kerjanya pendek (short-term). Ya, lihat saja jika Anda melakukan transaksi jual beli, hanya sebatas itu saja kan? Setelah proses transaksi selesai, tim sales sudah tidak bertanggung jawab lagi dengan konsumen.

Sementara marketing jangka waktu kerjanya lebih lama (long-term). Hal ini karena marketing harus menjaga hubungan yang baik dengan para konsumen ataupun vendor.  Karena itu, setelah kegiatan marketing dilakukan, tim masih bertanggung jawab menjaga hubungan agar loyalitas pelanggan tidak hilang. Bahkan sebenarnya, tim marketing harus menjadi hubungannya dengan konsumen sejak sebelum transaksi terjadi. Adapun lingkup pekerjaan marketing seperti kpeuasan pelanggan (customer satisfaction), riset pasar (market research), dan hubungan masyarakat (public relations).

Tujuan Sales dan Marketing

Perbedaan selanjutnya yang sangat terlihat mengenai tujuannya. Dalam marketing atau pemasaran, tim wajib menjaga brand image produk atau perusahaan. Sehingga keputusan konsumen untuk membeli produk karena mengetahui kualitas atau brand produk tersebut.

Sedangkan, dalam bidang sales atau penjualan menjaga brand bukanlah hal yang penting. Tujuan sales adalah produk perusahaan laku terjual dan target penjualan yang telah ditetapkan terpenuhi.

Bisakah Kita Bekerja sebagai Sales dan Marketing Sekaligus?

Dari beberapa perbedaan sales dan marketing yang sudah diuraikan di atas, tentu kamu bisa mendapat gambaran betapa dua divisi ini memang punya peran dan tugas yang berbeda.

Meski demikian, seperti ditulis oleh The Balance Small Business, terkadang menyatukan fungsi sales dan marketing menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Hal ini terutama bagi perusahaan kecil atau yang baru memulai bisnis.

Salesperson lebih berfokus pada strategi untuk mendapatkan revenue secara langsung dan berorientasi pada keadaan sekarang.

Sementara itu, marketer membuat strategi agar informasi dan branding perusahaan sampai ke target audiens, sehingga produk dan aktivitas marketing lainnya bisa bertahan lebih lama di pasaran.

Dari perbedaan sales dan marketing ini, jika perusahaan kesulitan menyeimbangkan fungsi keduanya, perlu ada waktu dan sumber daya khusus agar para petugasnya bisa mempelajari kedua bidang tersebut.

Oleh karena itu, jika kamu ingin menjalankan dua bidang ini sekaligus, sangat disarankan kamu sudah dibekali oleh pengalaman yang matang di masing-masing bidang. Dengan begitu, kamu sudah terbiasa dengan cara kerja kedua divisi tersebut.

Jadi, sekarang kamu sudah tahu lebih banyak tentang perbedaan sales dan marketing baik dari segi pengertian, proses kerja, prioritas dan fungsi, ruang lingkup kerja, serta tujuan atau target yang harus dicapai masing-masing divisi.

Memang sales dan marketing tidak bisa jalan sendiri. Tim sales akan hilang arah jika tim marketing tidak mampu menganalisis secara tepat kebutuhan dan budaya pasar yang jadi target produk. Sebaliknya, tim marketing juga tidak bisa melakukan eksekusi tanpa tim sales.

Sumber:

https://www.jurnal.id/id/blog/perbedaan-sales-dan-marketing-yang-perlu-diketahui-pengusaha/

https://glints.com/id/lowongan/sales-dan-marketing/#.X2GCMGgzaUk

Tugas HRD Manager

Human Resource Department (HRD) merupakan salah satu divisi yang paling umum dimiliki oleh perusahaan. HRD dikenal sebagai divisi yang secara langsung mengurusi dan mengelola sumber daya manusia atau karyawan di perusahaan dari mulai perekrutan hingga ke masa pensiun. Oleh karena berhubungan langsung dengan manusia, biasanya HRD ini diisi oleh mereka yang berasal dari latar pendidikan psikologi.

Sebagaimana divisi lain, HRD juga memiliki managernya sendiri. Keberadaan HRD Manager tentu harus memiliki kecakapan khusus. Mereka tidak hanya harus bisa menuntun anggota divisinya untuk bisa bekerja dengan baik, tetapi juga harus mampu menciptakan lingkungan kerja yang kondusif bagi semua karyawan.

Dalam mencapai hal terebut, HRD Manager selayaknya memahami tugas-tugasnya dengan baik. Apa saja tugas-tugas HRD Manager tersebut? Berikut penjelasannya.

1.Mengelola dan Mengembangkan Sistem HR di dalam Perusahaan

Pengelolaan SDM perusahaan yang efektif dan efisien menjadi tugas dan tanggung jawab HRD Manajer. Dan seiring perkembangan teknologi, sistem HR juga kian berkembang pesat. Manajer SDM harus mampu mengelola dan mengembangkan sistem HR menjadi lebih efektif dan efisien dengan memanfaatkan teknologi yang ada.

Misalnya saja dengan membuat SOP, Job Description, KPI untuk penilaian kinerja karyawan, sistem rekrutmen hingga automatisasi sistem HR.

2. Menjadi Penghubung Antara Manajemen dan Karyawan

Sudah menjadi hal lumrah yang harus dipahami bahwa HRD Manager bertugas sebagai penghunung antara manajemen perusahaan dengan karyawan. HRD Manager bertanggung jawab untuk menyampaikan dan menginformasikan hal-hal yang terjadi diantara kedua pihak.

3. Bertanggung Jawab Penuh terhadap Absensi & Payroll

HRD Manager bertanggung jawab terhadap data-data yang Ia maupun staf-nya kelola. Seperti data absensi karyawan dan payroll yang meliputi perhitungan gaji, tunjangan, PPh 21, upah lembur dan bonus karyawan.

4. Membentuk Format Terbaik Proses Rekrutmen dan Orientasi

Dunia terus berkembang, dari teknologi hingga metode-metode baru terus bermunculan. Dalam hal rekrutmen karyawan pun, perkembangan ini juga terjadi. Disanalah HRD Manager mengambil peranan untuk bisa membentuk format terbaik dalam proses rekrutmen karyawan sejak awal hingga masa orientasi. Format terbaik ini harus disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan itu sendiri. Karenanya, HRD Manager harus mampu menganalisanya agar tidak terjadi kekeliruan atau pemborosan.

5. Melakukan Evaluasi Tingkat Kepuasan Karyawan

Biasanya pada jangka waktu tertentu seperti akhir tahun, HRD memberikan kuisioner kepada karyawan. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi bagaimana karyawan mengasumsikan dirinya di perusahaan. Dalam hal evaluasi itulah, HRD Manager mengambil peranan penting untuk bisa mereview kepuasaan karyawan dan upaya apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki atau mempertahankannya.

6. Merencanakan Pelaksanaan Training dan Mengevaluasinya

Perusahaan menginginkan karyawannya berkembang dan memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan itu sendiri. Untuk mencapai hal tersebut, proses training menjadi hal yang lumrah dilakukan. Namun, ada beberapa metode training yang bisa dipilih dan diterapkan. Antara satu divisi atau individu juga bisa saja memerlukan metode yang berbeda. Oleh karena itu, HRD Manager bertugas untuk merencanakan pelaksaan training tersebut agar tepat sasaran.

7. Mengelola dan Mengendalikan Anggaran Belanja SDM

Perusahaan menginginkan kandidat terbaik untuk bergabung dan menjadi bagian dari perusahaan. Untuk mencapai tujuan tersebut, dibutuhkan anggaran biaya yang cukup besar, mulai dari saat proses rekrutmen hingga pelatihan.

Manager HRD harus mampu mengengelola dan mengendalikan anggaran belanja pengembangan SDM sehingga divisi HR dapat mencapai tujuannya tanpa menghabiskan anggaran yang besar.

8.Bertanggung jawab terhadap proses Penilaian Kinerja Karyawan

Penilaian kinerja karyawan terdiri dari berbagai indikator yang harus terpenuhi oleh karyawan. Manager HRD dituntut untuk membuat indikator dan alur dari proses penilaian kinerja karyawan yang objektif. Sehingga Hal ini akan mempermudah tim HR dalam menjalankan proses penilaian kinerja tersebut.

Itulah 8 hal yang menjadi tugas umum HRD Manager. Namun tugas-tugas ini kembali kepada kebutuhan perusahaan. Jika pada perusahaan skala menengah ke bawah, semua tugas ini mungkin bisa dilakukan semua, tetapi HRD Manager di perusahaan menengah ke atas, bisa memiliki tugas yang lebih terspesialisasi.

Jangan lupakan pula bahwa perkembangan teknologi juga mempengaruhi dalam tugas-tugas HRD Manager. HRD harus dapat beradaptasi dengan teknologi baru. Lebih jauh lagi, HRD juga dapat mentransformasi pola kerja sehingga dapat mendorong perkembangan bisnis yang lebih baik.

Sumber: https://www.linovhr.com/tugas-hrd-manager/

Strategi Pengembangan SDM yang Tepat untuk Perusahaan

Pengembangan SDM merupakan suatu upaya yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk membentuk karyawan yang berkualitas dengan memiliki keterampilan, kemampuan kerja serta loyalitas kerja kepada perusahaan. Strategi pengembangan SDM pada dasarnya tidak hanya dapat dilakukan melalui pendidikan dan pengembangan keterampilan saja. Namun, ada banyak cara yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk membuat program pengembangan SDM.

Mengapa Pengembangan SDM Perlu Dilakukan?

Strategi pengembangan SDM merupakan suatu perencanaan mengenai cara bagaimana kualitas  SDM mampu berkembang ke arah yang lebih baik dan meningkat kemampuan kerjanya. Serta memiliki loyalitas yang baik terhadap perusahaan. Pengembangan SDM sangat dibutuhkan untuk kelangsungan sebuah perusahaan agar dapat berkembang secara lebih dinamis. Sebab SDM merupakan unsur yang paling penting di dalam sebuah perusahaan.

Perusahaan yang dapat mencapai kesuksesannya adalah perusahaan yang mengerti bagaimana pentingnya strategi pengembangan SDM, dan mengetahui upaya apa saja yang harus ditempuh. Hubungan seorang karyawan dengan pimpinan perusahaan bukan hanya terikat atas hubungan kerja saja. Namun secara manusiawi keduanya juga saling berinteraksi. Oleh karena itu, pengembangan SDM dapat dijadikan sebagai suatu bentuk apresiasi seorang pimpinan perusahaan terhadap karyawan dalam aspek humanis. Salah satu aspek yang dapat menunjang proses pengembangan SDM ini adalah aspek pendidikan.

  1. Perencanaan Program Pengembangan SDM

Strategi pengembangan SDM dapat berjalan dengan baik apabila disertai dengan program pengembangan SDM yang direncanakan dengan matang. Sehingga diharapkan mampu membantu tercapainya tujuan dalam menghasilkan SDM yang berkualitas. Perencanaan program pengembangan SDM memiliki beberapa tujuan, yaitu

  • Menentukan kualitas karyawan.
  • Menjamin ketersediaan karyawan di masa sekarang maupun di masa yang akan datang.
  • Meminimalisir terjadinya kesalahan dalam pelaksanaan tugas-tugas pekerjaan.
  • Memudahkan proses koordinasi untuk meningkatkan kinerja karyawan secara optimal.
  • Menghindari terjadinya kelebihan atau kekurangan karyawan.
  • Menjadi sebuah acuan dalam pelaksanaan tugas-tugas pekerjaan yang menyangkut ketenagakerjaan.
  • Menjadi suatu pedoman dalam menentukan program perekrutan, penyeleksian, dan kedisiplinan karyawan.
  • Menjadi sebuah landasan dalam pelaksanaan penilaian karyawan.
  1. Langkah Pembuatan Program Pengembangan SDM

Bagaimana cara membuat program pengembangan SDM yang terencana dengan baik? Berikut ini adalah langkah-langkah yang dapat Anda ikuti untuk membuat program pengembangan SDM dengan perencanaan yang baik dan matang.

  • Langkah awal yang harus ditempuh adalah menentukan dan mengembangkan sasaran, tujuan, serta prioritas SDM yang diperlukan.
  • Membuat kebijakan yang mendukung sosialisasi program hingga terlaksananya program pengembangan SDM.
  • Melakukan proyeksi terhadap ketersediaan SDM, atau membuat perkiraan jumlah karyawan yang dibutuhkan dan mempertimbangkan kebutuhan karyawan di masa yang akan datang.
  • Mengadakan program pelatihan keterampilan karyawan.
  • Apabila langkah-langkah pembuatan program pengembangan SDM di atas sudah dilaksanakan, sebaiknya dilakukan evaluasi terlebih dahulu. Tahapan evaluasi ini merujuk pada tahapan-tahapan yang telah dibuat sebelumnya. Hal ini berfungsi untuk memperkirakan apakah program yang telah direncanakan akan berhasil atau masih memerlukan revisi untuk menyempurnakan program-program pengembangan SDM berikutnya.
  1. Strategi Pengembangan SDM di Perusahaan

Strategi pengembangan SDM yang dapat dilakukan oleh perusahaan adalah sebagai berikut

  • Memberikan kesempatan pada setiap karyawan untuk menyalurkan ide dan gagasan pribadi mereka. Karena di dalam suatu perusahaan, karyawan juga berkontribusi dalam mengembangkan perusahaan atau sebagai roda penggerak suatu perusahaan. Sehingga ide dan gagasan dari setiap karyawan juga perlu didengarkan dan dipertimbangkan.
  • Memberikan penghargaan (reward) kepada karyawan, yang bertujuan untuk membuat karyawan lainnya agar termotivasi untuk dapat menjadi lebih baik. Hal tersebut nantinya akan memberikan kontribusi besar terhadap perusahaan dalam mengembangkan perusahaan.
  • Mengadakan program pelatihan bagi karyawan. Ada beberapa jenis pelatihan dan pengembangan SDM yang dapat dilakukan. Diantaranya adalah skill training, retraining atau pelatihan ulang, cross functional training, team training, dan creativity training.

Pengembangan SDM merupakan sebuah upaya yang dapat dilakukan untuk membentuk dan menghasilkan manusia berkualitas yang memiliki kecakapan, kemampuan serta loyalitas dalam melaksanakan pekerjaannya di sebuah perusahaan. Strategi pengembangan SDM sangat perlu dilakukan mengingat di era teknologi saat ini banyak perusahaan yang saling bersaing untuk mendapatkan tenaga kerja berkualitas.

Sumber: Sleekr

Bagaimana Cara Mengukur Produktivitas dalam Bekerja?

Satu hal yang semua organisasi sepakati adalah bahwa produktivitas itu penting. Akan tetapi, sementara semua organisasi berusaha untuk meningkatkan produktivitas, sebagian besar kesulitan untuk mengukurnya.

Bagaimana cara mengukur produktivitas?

Ada banyak cara untuk mengukur produktivitas. Berikut merupakan daftar cara mengukurnya. Perlu diketahui bahwa daftar ini tidak menyeluruh dan sangat bergantung pada jenis bidang tugas dalam pekerjaan.

  1. Produktivitas penjualan (sales)

Cara paling logis untuk mengukur produktivitas adalah dengan penjualan. Pada akhirnya, penjualan adalah hal yang mengendalikan organisasi. Akan tetapi, waspadalah karena metode ini mungkin berhasil untuk karyawan front liner seperti eksekutif penjualan yang pekerjaannya adalah untuk menghasilkan pemasukan. Namun menerapkan cara ini untuk staf pendukung seperti eksekutif IT mungkin akan menghambat produktivitas. Staff pendukung seharusnya tidak memiliki kendali akan penjualan. Target penjualan adalah yang paling sering digunakan, tetapi juga dapat menggunakan jumlah penjualan dalam jangka waktu tertentu, jumlah konsumen baru yang didapatkan dan juga biaya per konsumen baru.

  1. Profitabilitas

Walaupun penjualan meningkat, profitabilitas/keuntungan mungkin saja menurun. Hal ini dikarenakan biaya-biaya yang terus bertambah. Oleh karena itu, organisasi yang mengukur produktivitas penjualan harus juga mempertimbangkan untuk mengukur produktivitas dalam hal keuntungan. Produktivitas penjualan dapat diterapkan untuk para individu sementara profitabilitas dapat diterapkan untuk tim/ divisi. Hal ini merupakan cara mengukur seberapa banyak yang bisa dicapai dengan sumber daya/ biaya minimal. Beberapa standar penilaian mencakup margin keuntungan (profit margin), biaya per karyawan dan rasio pendapatan dengan biaya (income-to-cost ratio)

  1. Kuantitatif

Standar penilaian yang sering diterapkan untuk tugas yang relatif hanya membutuhkan keahlian minimal, seperti pengepakan dan pembungkusan produk, mendistribusikan voucher/kupon kepada para konsumen dan juga jumlah pengiriman produk yang dilakukan ke gudang atau ke para pelanggan. Akan tetapi selalu ada pengecualian. Cara ini juga bisa diterapkan untuk akademik dengan mengukur jumah publikasi penelitian per tahun. Publikasi ditujukan untuk pengecekan tingkat tinggi untuk para professor; sehingga penilaian secara kualitas sudah terukur dengan sendirinya.

  1. Kualitatif

Cara ini paling tepat diterapkan untuk para staf yang tugasnya sangat penting yang berkaitan dengan produk, jasa, dan dalam kasus tertentu operasional. Bagian penjaminan mutu (quality assurance) tentu saja masuk ke dalam penilaian ini, sama halnya dengan staf manufaktur dan insinyur yang merawat bagian mesin. Penilaian-penilaian seperti jumlah kesalahan per jumlah output atau jumlah pelanggan yang puas per minggu/bulan dapat diterapkan. Untuk pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan analisis dan perkiraan, tingkat ketepatan/akurasi dapat diterapkan untuk mengukur produktivitas.

  1. Target Manajemen (management objective)

Mengukur produktivitas berdasarkan tujuan manajemen merupakan cara yang lebih rumit dikarenakan cara ini membutuhkan lebih banyak strategi dan rencana untuk jangka waktu yang lebih panjang. Beberapa contoh misalnya menurunkan biaya sampai 10% sebelum kurun waktu tertentu, memperluas bisnis ke wilayah geografis tertentu, dan meningkatkan kontribusi pendapatan dari suatu bisnis tertentu menjadi 15% dari 5%. Sekilas hal-hal tersebut terlihat seperti hasil kerja yang menentukan penilaian kinerja (performance appraisal). Akan tetapi, semakin tinggi tingkatannya dalam hirarki organisasi, tugas dan cara mengukurnya akan menjadi semakin makro.

Bagaimana cara meningkatkan produktivitas dalam pekerjaan?

Mendorong produktivitas di tempat kerja merupakan tugas yang rumit dan tentunya akan sulit dibedakan dengan meningkatkan produktivitas. Meningkatkan produktivitas lebih berkaitan dengan meningkatkan produktivitas melalui dorongan eksternal seperti langkah pencegahan, negative reinforcement, dan penerapan teknologi untuk menggantikan tenaga kerja manusia. Mendorong produktivitas lebih merupakan usaha-usaha yang dilakukan oleh para pekerja.

  1. Mengelompokkan Pekerja Terbaik

Perusahaan-perusahaan top cenderung mengelompokkan karyawan terbaiknya untuk bekerja sama dalam proyek-proyek yang penting bagi perusahaan. Pertama, produktivitas didorong di area-area yang memiliki dampak paling besar bagi organisasi. Kedua, pekerja terbaik cenderung lebih kompetitif sehingga suatu lingkungan yang kompetitif pun terbentuk dengan sendirinya yang mendukung produktivitas secara positif.

  1. Memberikan keuntungan dan penghargaan yang kreatif (selain dalam bentuk uang)

Bukan rahasia lagi bahwa karyawan yang bahagia dan puas lebih produktif daripada mereka yang digaji tinggi. Oleh karenanya, dengan menyediakan keuntungan dan penghargaan yang kreatif, para pekerja akan dengan senang hati membalas kebaikan/penghargaan yang diberikan perusahaan.

  1. Menumbuhkan budaya perusahaan yang produktif

Cara lain adalah dengan menumbuhkan budaya kerja yang produktif. Dengan memilih dan merekrut pekerja terbaik yang sangat termotivasi dan berpikiran objektif, hal ini meningkatkan jumlah pekerja produktif di tempat kerja dan menciptakan lingkungan yang menghargai produktivitas.

Selain itu, untuk melanggengkan budaya produktif ini adalah dengan monitoring karyawan secara berkala, yang tidak terbatasi oleh ruang dan waktu. Misalnya, dengan menggunakan aplikasi employee tracker, seperti Digaze. Dengan aplikasi tersebut, perusahaan bisa mengawasi dan mendorong produktivitas karyawan. Tak hanya itu, menggunakan aplikasi employee tracker juga mempermudah perusahaan mengukur produktivitas karyawan.

Mengukur produktivitas setidaknya sama pentingnya atau lebih penting dari meningkatkan produktivitas. Pengukuran produktivitas yang akurat merupakan bentuk dorongan/dukungan bagi para pekerja. Dengan menyediakan target yang objektif dan dapat diukur, mereka tahu bahwa mereka dinilai dengan adil, dan hasil yang mereka tunjukkan pun sepadan.

Sumber: Jobstreet

Hari Olahraga Nasional, Ini 5 Tanda Tubuh Anda Kurang Olahraga

Selamat Hari Olahraga Nasional!

Tahukah Anda bahwa hari ini adalah Hari Olahraga Nasional? Awalnya, tanggal 9 September 1948 merupakan hari pembukaan Pekan Olahraga Nasional (PON) dilaksanakan untuk pertama kalinya, yang kemudian diperingati sebagai Hari Olahraga Nasional setiap tahunnya.

Olahraga bukan sekadar dilakukan untuk kompetisi, tetapi sangat dibutuhkan untuk kebugaran tubuh sehingga perlu dilakukan setidaknya tiga kali dalam seminggu. Olahraga juga bukan hanya bagi mereka yang ingin mengecilkan lingkar pinggang atau yang ingin kurus, tetapi lebih dari itu, olahraga sangat penting bagi kelancaran sistem metabolisme tubuh. Jadi jelas bahwa olahraga sangat penting bagi tubuh kita.

Tidak perlu olahraga berat, aktivitas sehari-hari seperti jalan kaki pun bisa menjadi olahraga rutin kita. Jika sendi kaku-kaku dan badan lemas, bisa jadi kamu kurang olahraga.

Selain sendi kaku dan badan lemas, apa saja pertanda tubuh Anda kurang olahraga?

Inilah 5 tanda tubuh Anda kurang olahraga dikutip dari berbagai sumber.

1. Badan terasa pegal-pegal

Pernahkah Anda merasa sekujur tubuhmu, mulai dari punggung belakang, lutut, hingga bahu pegal dan sakit saat bangun di pagi hari? Padahal, Anda tidak melakukan aktivitas yang berat sebelumnya? Jika ini terjadi, bisa jadi Anda kurang gerak atau olahraga.

2. Merasa lesu

Jika Anda merasa lesu sepanjang waktu meski sudah makan dan tidur yang cukup, mungkin yang Anda kurang berolahraga. Sering tidak disadari oleh pegawai kantoran bahwa sebenarnya duduk dalam waktu yang lama bisa menguras energi lebih banyak daripada berolahraga. Namun, olahraga memberikan manfaat lebih dan bahkan bisa mendongkrak energi yang dibutuhkan tubuh.

Sebuah penelitian yang dilakukan dari University of Georgia menunjukan bahwa berjalan sekitar 20 menit dan latihan aerobik intensitas sedang sebanyak tiga kali dalam seminggu dengan rutin bisa meningkatkan energi hingga 20 persen.

Para peneliti mengatakan, temuan ini menunjukan bahwa olahraga secara teratur dapat berpengaruh langsung pada sistem saraf pusat untuk mengurangi kelelahan bahkan bisa sebanyak 65 persen. Olahraga yang teratur meningkatkan fungsi sistem kardiovaskular, yang memungkinkan kita memiliki daya tahan lebih besar sepanjang hari. Jadi, olahraga sangat mungkin menghindarkan tubuh Anda dari perasaan lesu.

3. Tidur tidak nyenyak

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan dalam Sleep Medicine Journal, peneliti dari Northwestern University meneliti orang dewasa yang pengidap insomnia. Beberapa partisipan diminta untuk berolahraga, sementara beberapa lainnya tidak. Hasilnya, mereka yang sebelumnya melakukan aktivitas fisik bisa tidur 1,25 jam lebih lama daripada mereka yang tidak ikut serta dalam aktivitas fisik.

Jika Anda merasa sulit tidur khususnya pada malam hari, ini bisa jadi sebuah tanda perlu berolahraga. Dalam sebuah penelitian menunjukan bahwa orang yang melakukan olahraga selama 150 menit dalam seminggu mengalami peningkatkan kualitas tidur, dan membuat pikiran menjadi baik.

4. Sulit mengatasi stres

Jika Anda terus merasa kewalahan dan lebih, coba tambahkan aktivitas fisik ke dalam rutinitas harian Anda. Beberapa penelitian telah menunjukkan manfaat penghilang stres adalah melakukan aktivitas fisik.

Secara khusus, aktivitas fisik mendorong pelepasan neurotransmiter seperti serotonin, dopamin, dan menurunkan tingkat kortisol yang dipompa ke seluruh tubuh.

Terkadang rasa pegal tersebut malah membuat orang menunda untuk berolahraga. Padahal sebaliknya, ketika ini terjadi tubuh memberikan sinyal untuk digerakkan. Dengan menggerakan otot-otot, persendian maka akan rileks dan darah akan mengalir lebih lancar ke seluruh bagian tubuh, sehingga akan mengurangi rasa sakit pada tubuh.

5. Sering merasa cemas

Apakah akhir-akhir ini Anda sering merasa khawatir? Memikirkan banyak hal, cemas, dan takut terhadap hal ini atau hal itu? Olahraga dengan intensitas tinggi mungkin dapat meredakan perasaan cemas.

Dengan berolahraga, tubuh menjadi lebih tenang dan senang. Olahraga meningkatkan kadar endorfin di dalam tubuh. Endorfin merupakan hormon alami yang akan memberikan efek rasa senang dan tenang. Jadi, setelah Anda olahraga suasana hati akan jauh lebih baik karena adanya hormon tersebut.

Selamat Hari Olahraga Nasional dan Selamat Berolahraga!