Injil Berbahasa Minang, Kementerian Agama: Sah-sah Saja

Suara.com – Aplikasi Alkitab berbahasa Minang akhirnya dihapuskan dari aplikasi Playstore.

Itu setelah Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno mengajukan protes kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika dan meminta aplikasi itu dihapus.

Namun, Kementerian Agama RI menilai kehadiran Alkitab menggunakan bahasa daerah sah-sah saja.

Plt Dirjen Bimas Katolik Kemenag Aloma Sarumaha mengatakan, kitab suci yang diterjemahkan ke dalam bahasa daerah bukan suatu yang baru.

Lagipula, kata dia, tujuan dibuatkan terjemahan tersebut adalah untuk memudahkan umatnya memahami isi dari kitab yang dibaca.

“Terjemahan sah-sah saja,” kata Aloma saat dihubungi Suara.com, Jumat (5/6/2020).

Dia menganggap keberadaan Alkitab berbahasa minang itu tidak perlu dipermasalahkan.

Menurutnya, bahasa daerah itu seringkali disebut dengan bahasa ibu yang bisa menjadi sangat bermanfaat bagi yang memahami bahasa daerah itu sendiri.

“Menurut saya, apa yang disampaikan oleh Bapak Lukman HS (eks Menag) itu, positif. Bahasa daerah sering disebut bahasa ibu. Artinya kalau komunikasi dalam bahasa ibu akan lebih banyak gunanya memahami nilai-nilai kehidupan.”

Sebelumnya, Gubernur Sumatra Barat Irwan Prayitno meradang. Dia meminta aplikasi Alkitab berbahasa minang untuk dihapus.

Permintaan itu disampaikan Irwan melalui surat kepada Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Dalam surat tertanggal 28 Mei 2020 itu, Irwan menyebutkan, masyarakat Minang sangat berkeberatan dan resah dengan adanya aplikasi yang dapat diperoleh secara gratis itu.

Aplikasi Kitab Injil berbahasa Minang membuat heboh, Padang, Sumatera Barat. Aplikasi Kitab Injil berbahasa Minang itu muncul di aplikasi Playstore.

Aplikasi itu sebelumnya bisa diunduh melalui Playstore. Namun, ketika Padangkita.com (jaringan Suara.com) melacak aplikasi tersebut Kamis (4/6/2020), tidak lagi ditemukan.

Namun di lain sisi, mantan Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin menilai kitab Injil berbahasa Minang seharusnya tidak jadi masalah.

Pasalnya, kata Lukman Hakim, penerjemahan Injil dalam bahasa daerah justru amat disarankan.

Ia mengatakan, penggunaan bahasa daerah dalam kitab suci bisa membantu para pemeluknya memahami isi kitab secara lebih baik. Oleh sebab itu, adanya kitab Injil berbahasa Minang harusnya justru diapresiasi.

“Menerjemahkan kitab suci ke dalam bahasa daerah itu tak hanya boleh, bahkan amat disarankan, agar semakin banyak warga daerah yang memahami isi kitab suci agamanya,” tulis Lukman via akun Twitter-nya @lukmansaifuddin.

Viral Ortu Suspek COVID-19 Bohongi Nakes, Sebut Anak Batuk karena Makan Kacang

Seorang dokter asal Makassar, Sulawesi Selatan, mengungkapkan kegeramannya ketika menangani seorang pasien suspek virus korona. Dokter tersebut mengunggah kisahnya di Facebook pada Kamis (4/6).

Kisah ini telah dibagikan 11.000 kali di Facebook dan memperoleh 7.000 komentar.

Berdasarkan penuturan sang dokter, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun masuk ke Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit di daerah Sulawesi Selatan, dengan kondisi tidak sadarkan diri. Sembari memberi pertolongan pertama, petugas medis menggali informasi dari keluarga pasien soal penyebab sakit anak tersebut hingga tidak sadarkan diri.

“Info yang didapat adalah si anak batuk keras sejak hari Selasa karena kebanyakan makan kacang langkose,” tutur dokter tersebut. Kacang langkose adalah kacang goreng penganan khas Lebaran di Sulawesi Selatan.

Namun akhirnya mereka curiga bukan kacang yang jadi penyebabnya, karena di tangan anak itu ada bekas infus. Sadar bahaya, tenaga medis lebih waspada kemungkinan anak ini suspek COVID-19. 

Dokter pun mencecar orangtua anak itu soal riwayat pernah dirawat di rumah sakit, namun mereka berkeras soal kebanyakan makan kacang itu. “Ibu, Bapak, kalau memang anak Ibu cuma batuk biasa, tidak mungkin keadaannya seperti ini. Ibu jujur sama kami, kami akan berusaha tolong anak Ibu,” ujarnya. 

Sikap dokter ini makin tegas kepada orangtua anak itu karena jika benar anak itu tertular virus korona maka semua tenaga medis di ruangan gawat darurat dan keluarga pasien harus segera mendapat penanganan serius. Setelah didesak berkali-kali akhirnya ibu anak itu mengaku. 

“Dokter, tolong anak saya, tolong dokter, iya, iya, saya jujur sekarang,” kata si Ibu. Akhirnya terungkap bahwa anak itu pernah dirawat dan diarahkan agar ditangani di rumah sakit yang lebih besar. Namun saat akan diisolasi, anak itu malah dibawa pulang hingga akhirnya kondisinya memburuk. 

Melihat postingan tersebut, warganet mengaku geram dengan sikap pihak keluarga yang tidak jujur kepada rumah sakit.

Tak sedikit warganet yang memberikan saran kepada pihak rumah sakit untuk lebih teliti. Dan memperhatikan keselamatan diri.

Ini bukan kejadian pertama pasien dan keluarganya berbohong.Beberapa waktu lalu media sosial juga dihebohkan dengan kasus serupa, seorang pasien berbohong mengenai status kesehatannya terhadap dokter. Tenaga medis tidak menggunakan APD lengkap ketika menangani pasien itu, setelah ditelusuri ternyata pasien tersebut positif virus korona. Informasi selengkapnya dapat dibaca DI SINI 

Setelah mengetahui hal tersebut, akhirnya seluruh perawat termasuk dokter rumah sakit menangis ketakutan.