Kasus WNI Positif Corona di Luar Negeri Jadi 133, 14 Sembuh-3 Meninggal

Jakarta – 

Kasus warga negara Indonesia (WNI) positif virus Corona (COVID-19) di luar negeri telah bertambah menjadi 133 orang. Sebanyak 14 orang di antaranya sembuh dan 3 orang meninggal dunia.

Informasi perkembangan kasus WNI positif ini disampaikan Kementerian Luar Negeri melalui akun Twitter resminya @Kemlu_RI seperti dilihat detikcom, Selasa (31/3/2020). Data itu dihimpun Kemlu per pukul 08.00 WIB.

“Confirmed cases COVID-19 WNI di luar negeri total: 133 orang,” demikian keterangan yang diunggah di akun @Kemlu_RI.

WNI yang positif Corona itu tersebar di 20 negara. Pada Senin (30/3) lalu yang, Kemlu melaporkan 122 kasus WNI positif Corona di luar negeri, artinya ada penambahan kasus hari ini, sebanyak 11.

Berikut ini rincian kasus WNI positif Corona di sejumlah negara:

Jepang: 9 WNI (semua sembuh)
Taiwan: 3 WNI (stabil)
Australia: 2 WNI (stabil)
UEA: 2 WNI (stabil)
Arab Saudi: 6 WNI (stabil)
Makau (RRT): 1 WNI (stabil)
India: 14 WNI (stabil)
Filipina: 1 WNI (stabil)
Inggris: 1 WNI (meninggal dunia)
Kamboja: 2 WNI (stabil)
Belanda: 3 WNI (1 sembuh, 2 stabil)
Qatar: 2 WNI (stabil)
Spanyol: 3 WNI (1 sembuh, 2 stabil)
Brunei Darussalam: 3 WNI (stabil)
Vatikan: 5 WNI (stabil)
Jerman: 3 WNI (stabil)
Malaysia: 34 WNI (33 stabil, 1 meninggal dunia)
Irlandia: 1 WNI (stabil)
Singapura: 34 WNI (3 sembuh, 28 stabil, 2 penanganan khusus, 1 meninggal)
Italia: 4 WNI (stabil; ABK Kapal Costa Luminosa)

Total sembuh: 14 (10,5%)

Source : https://news.detik.com/berita/d-4959256/kasus-wni-positif-corona-di-luar-negeri-jadi-133-14-sembuh-3-meninggal?tag_from=wp_hl_img&_ga=2.121938891.1328089245.1585619008-1791439171.1585619008

Update Covid 19 Jakarta Pagi Ini: 727 Positif, 49 Sembuh dan 78 Meninggal

Jakarta – Jumlah pasien positif virus Corona atau Covid-19 di Jakarta terus bertambah. Berdasarkan data website corona.jakarta.go.id yang diakses Liputan6.com Selasa, (31/3/2020)  pukul 07.45 WIB, jumlah pasien positif meningkat menjadi 727.

Dalam laman tersebut juga dituliskan jumlah pasien yang dinyatakan sembuh sebanyak 49 orang, meninggal 78 orang, yang masih mendapatkan perawatan 449 orang dan isolasi mandiri ada 151 orang.

Selain itu, jumlah yang masih menunggu hasil cek Covid 19 sebanyak 622 kasus. Kemudian sebanyak 477 kasus yang telah diketahui titik penyebaran berdasarkan kelurahannya dan sisanya 250 belum diketahui.

477 kasus yang telah diketahui tersebut tersebar di lima kota administrasi di Jakarta. Di antaranya yakni Jakarta Selatan tertinggi menangani positif Corona dengan 157 kasus.

Lalu ada Jakarta Barat dengan 128 kasus, Jakarta Timur 101 kasus, Jakarta Utara terdapat 57 kasus dan Jakarta Pusat yaitu menangani 34 kasus.

Sementara itu, jumlah tenaga medis yang menangani pasien terkait virus corona atau Covid-19 di Jakarta mengalami peningkatan bila dibandingkan Sabtu (28/3/2020).

“Tenaga kesehatan yang positif adalah 81 orang yang tersebar di 30 RS di DKI,” kata Kepala Tim Siaga Covid-19 DKI Jakarta, Catur Laswanto di Balaikota, Jakarta Pusat, Senin (30/3/2020).

Source : https://www.liputan6.com/news/read/4215327/update-covid-19-jakarta-pagi-ini-727-positif-49-sembuh-dan-78-meninggal?medium=Headline&campaign=Headline_click_1

RI Disarankan Segera Lockdown!

Jakarta – 

Wabah virus corona masih menyebar di Indonesia. Angka kasus positif virus ini sudah mencapai ribuan orang. Opsi mengisolasi wilayah alias lockdown pun makin gencar disuarakan.

Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) pun menyarankan hal ini untuk menyelamatkan ekonomi Indonesia. Lewat keterangan tertulisnya, Ketua Dewan Pengurus LP3ES Didik J. Rachbini dan Peneliti LP3ES Fachru Nofrian mengatakan hingga kini pemerintah terlalu angkuh untuk terus menyatakan tidak mau melakukan lockdown.

“Pemerintah dengan angkuhnya menyatakan tidak ada lockdown! Sudah begitu banyak yang memberikan saran tetapi nampaknya keras kepala, ciri kepemimpinan seolah-olah kuat, tetapi menghadapi masalah dalam manajemen yang krisis,” tulis kedua ekonom, lewat keterangan yang diterima Minggu (29/3/2020).

Perlambatan ekonomi memang sudah tidak bisa lagi dicegah, tapi untuk menyelamatkan perekonomian tugas utama pemerintah adalah menangkal wabah corona meluas. Salah satunya dengan melakukan lockdown. Setelah itu baru memikirkan kebijakan ekonomi yang pas.

“Perlambatan ekonomi tidak dapat dicegah, tetapi tugas pemerintah utamanya menangkal wabah covid-19. Setelah itu baru menangkal ekonomi agar tidak terjungkal menjadi krisis, yang menyebabkan ekonomi rakyat terpuruk,” kata Didik dan Fachru.

Didik dan Fachru pun kecewa setelah saran dari Mantan Wapres Jusuf Kalla (JK) untuk melakukan lockdown ditolak pemerintah. Padahal menurut keduanya, JK bukan orang baru di pemerintahan, bahkan lebih berpengalaman dibanding penghuni Istana Negara yang sekarang.

“Ikuti saran JK, yang sudah lama meminta pemerintah tegas untuk melakukan lockdown, tetapi selalu dijawab, tidak ada lockdown. Tidak ada penghuni di istana itu, yang lebih dari berpengalaman daripada JK,” ungkap Didik dan Fachru.

Ekonom senior Indef Dradjad Wibowo juga pernah mengatakan lockdown harus segera dilakukan. Pemerintah harus lebih tegas untuk melakukan pencegahan penyebaran virus dibanding mempertimbangkan perekonomian.

Menurutnya, perekonomian saat ini sudah sangat tertekan karena virus corona. Penyelamatan terbaiknya adalah dengan mencegah wabah ini meluas, kalau perlu ambil langkah ekstrim untuk melakukan lockdown alias isolasi wilayah.


“Kalau mau menyelamatkan ekonomi maka harus cegah wabahnya. Justru penyelamatan ekonomi paling bagus dan terbaik adalah mencegah wabahnya, salah satunya lockdown,” ungkap Dradjad lewat diskusi teleconference Indef, Selasa (24/3/2020).

Didik dan Fachru juga menilai pemerintah terlalu ‘mencla-mencle’ alias tidak tegas dalam menentukan kebijakan anggaran untuk menangani dampak virus corona. Apa alasannya?

Source : https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4957675/ri-disarankan-segera-lockdown?tag_from=wp_beritautama&_ga=2.191852334.566064907.1585539711-1053737853.1585539711

Nasib Pramugari hingga Pilot di Tengah Badai Corona

Jakarta – 

Asosiasi maskapai Indonesia atau Indonesia National Air Carriers Association (INACA) membeberkan kondisi terkini industri penerbangan imbas virus corona. Meski belum ada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karyawan, sudah ada beberapa maskapai yang terpaksa harus merumahkan karyawannya.

“Belum (ada PHK), yang sekarang ini ada beberapa maskapai yang merumahkan karena kegiatan operasinya kan menurun. Kalau dilihat banyak pesawat-pesawat parkir di airport, pesawat parkir itu pasti akan sangat tidak efektif bagi perusahaan jika (karyawan) masih harus hadir ke kantor,” ujar Ketua Umum INACA, Denon Prawiraatmadja kepada detikcom, Minggu (29/3/2020).

Adapun karyawan yang paling banyak dirumahkan ialah yang terlibat dalam kegiatan produksi maskapai. Mulai dari bagian mekanik pesawat, pilot, hingga pramugari.

“Kalau kegiatan operasionalnya turun, yang akan banyak berkurang aktivitasnya adalah karyawan yang berada di daerah operasional seperti pilot, engineer, pramugari dan kru yang lainnya. Itu kan kalau pesawatnya berhenti berarti mereka ikut (berhenti),” ucapnya.


Terkait karyawan yang dirumahkan digaji atau tidak, ia tidak mengetahuinya secara pasti. Menurutnya, hal itu merupakan kebijakan dari masing-masing maskapai.

“Itu variasi (digaji atau tidak) tergantung dari masing-masing perusahaan,” sebutnya.

Apakah fenomena ini memunculkan adanya PHK di industri penerbangan?

Source : https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4957657/nasib-pramugari-hingga-pilot-di-tengah-badai-corona?tag_from=wp_beritautama&_ga=2.28242809.495681305.1585533837-282479970.1566812522

Dalam Sepekan, 9 Dokter Indonesia Meninggal di Tengah Pandemi Corona

Jakarta – 

Menjadi garda terdepan dalam penanganan virus corona menempatkan dokter dan perawat dalam risiko tinggi penularan virus corona. Setidaknya dalam sepekan, 9 dokter Indonesia meninggal di tengah pandemi virus corona.

Pada Senin (23/3) awal pekan lalu, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia merilis 6 dokter yang disebutnya menjadi korban virus corona.

1. dr Hadio Ali SpS, IDI Cabang Jakarta Selatan
2. dr Djoko Judodjoko, SpB, IDI Cabaing Kota Bogor
3. dr Laurentius P, SpKJ, IDI Cabang Jakarta Timur
4. dr Adi Mirsaputra SpTHT, IDI Cabang Kota Bekasi
5. dr Ucok Martin SpP, IDI Cabang Medan
6. dr Toni Daniel Silitonga, IDI Cabang Bandung Barat

Dalam klarifikasinya, PB IDI menjelaskan bahwa dr Toni Daniel Silitonga tidak secara langsung meninggal karena COVID-19. Namun almarhum dr Toni merupakan Kepala Seksi Penanggulangan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Bandung Barat Sekaligus Satgas Tim Penanggulangan COVID-19.

“Beliau berpulang dikarenakan kelelahan dan adanya serangan jantung,” tulis PB IDI.

Tak lama berselang, Prof Iwan Dwiprahasto, guru besar farmakologi di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), yang dirawat di RSUP dr Sardjito, juga dikabarkan meninggal dunia pada Selasa (24/3). Almarhum positif terinfeksi virus corona.

“Telah berpulang ke Rahmatullah, Prof Iwan Dwiprahasto bin Oetomo Moestidjo dalam usia 58 tahun pada Selasa 24 Maret 2020 pukul 00.04 WIB di RS Sardjito Yogyakarta,” ujar Kabag Humas dan Protokoler UGM Iva Ariani melalui keterangan tertulis.

Pada Jumat (27/3/2020), PB IDI kembali mengumumkan dua orang dokter meninggal dunia karena virus corona, yakni dr Bartholomeus Bayu Satrio Kukuh Wibowo, IDI cabang Jakarta Barat dan dr Exsenveny Lalopua MKes, Pengurus IDI cabang Jawa Barat.

“Iya, kemarin meninggalnya. Yang kami umumkan sekarang itu yang meninggal karena COVID-19,” ujar Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Faqih saat dikonfirmasi detikcom.

Namun Daeng belum bisa memastikan secara detail mengenai kondisi dokter sebelum meninggal, apakah memang memiliki penyakit penyerta yang memperparah kondisi mereka atau tidak.

“Kami belum tahu detail, kami hanya begitu dengar beliau meninggal karena COVID-19 kami sampaikan duka itu. Kami masih telusuri, penyebabnya apa dan ditularkankan dari mana,” tuturnya.

“Karena pemerintah masih belum mau buka data, jadi data yang detail kami belum punya, kami hanya dapat laporan saja dari bawah,” pungkasnya

Corona Merajalela, Perantau Jabodetabek Malah Colong Start Mudik

Jakarta – 

Pemerintah telah mengimbau agar masyarakat tidak melakukan mudik. Namun, baru saja diimbau untuk tidak mudik, para perantau di Jakarta sudah berbondong-bondong colong start untuk pulang kampung lebih awal dari yang biasanya dilakukan saat lebaran.

Dirjen Perhubungan Darat Budi Setiyadi mengatakan sejak tanggal 20 hingga 22 Maret kemarin, terjadi beberapa peningkatan penumpang pada beberapa terminal tipe A di luar Jakarta. Penumpangnya pun kebanyakan dari Jabodetabek.

Budi mengatakan kegiatan ekonomi yang lumpuh di Jakarta, disinyalir jadi alasan untuk orang-orang ini pulang kampung lebih awal.

“Kami mensinyalir ada mudik yang sebelum waktunya. Karena kan kegiatan ekonomi di Jakarta ada penurunan. Catatan kami tanggal 20, 21, 22 ada lonjakan terminal tipe A di daerah yang datang dari Jabodetabek,” kata Budi lewat video conference bersama wartawan, Jumat (27/3/2020).

Kebanyakan, Budi mengatakan arus lonjakan penumpang terjadi di Jawa Tengah, mulai dari Wonogiri, Purwokerto, hingga Solo.

“Ada beberapa di Jawa Tengah yang ada lonjakannya, di Wonogiri, Purwokerto, Solo dan beberapa tempat lain. Mappingnya memang banyak yang cenderung balik ke daerah masing-masing,” jelas Budi.

Lonjakan penumpang mudik ini membuat virus corona meluas?

Source : https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4956116/corona-merajalela-perantau-jabodetabek-malah-colong-start-mudik?tag_from=wp_beritautama&_ga=2.90107929.341405534.1585195035-282479970.1566812522

IMF Nyatakan Pandemi Corona Berubah Jadi Krisis Ekonomi Global!

Jakarta – 

Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) menyatakan ekonomi dan keuangan global saat ini mengalami krisis karena pandemi virus corona (COVID-19). Virus corona telah mewabah hampir ke seluruh negara.

Pernyataan itu diungkapkan oleh Ketua Komite Moneter dan Keuangan Internasional Lesetja Kganyago dan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional Kristalina Georgieva setelah panggilan konferensi hari ini dari Komite Moneter dan Keuangan Internasional.

“Kita berada dalam situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di mana pandemi kesehatan global telah berubah menjadi krisis ekonomi dan keuangan. Dengan penghentian mendadak dalam kegiatan ekonomi, output global akan berkontraksi pada tahun 2020,” jelas IMF dalam pernyataannya, seperti ditulis Sabtu (28/3/2020).

“Negara-negara anggota telah mengambil tindakan luar biasa untuk menyelamatkan nyawa dan melindungi kegiatan ekonomi. Tetapi dibutuhkan lebih banyak. Prioritas harus diberikan pada dukungan fiskal yang ditargetkan untuk rumah tangga dan bisnis yang rentan untuk mempercepat dan memperkuat pemulihan pada tahun 2021,” sambungnya.

IMF menyatakan, dampak kesehatan terbesar adalah di negara maju, pasar negara berkembang dan negara berkembang, terutama negara berpenghasilan rendah. Negara-negara itu akan dihantam krisis kesehatan, pembalikan aliran modal secara tiba-tiba, dan penurunan tajam harga komoditas.

Banyak dari negara-negara ini membutuhkan bantuan untuk memperkuat respons krisis mereka dan memulihkan pekerjaan dan pertumbuhan, mengingat kekurangan likuiditas valuta asing di ekonomi pasar berkembang dan beban utang yang tinggi di banyak negara berpenghasilan rendah.

Karenanya, IMF menyatakan siap menggelontorkan dana hingga US$ 1 triliun atau Rp 1.600 triliun (kurs Rp 16.000) kepada negara-negara anggotanya. IMF juga mengajak lembaga-lembaga keuangan internasional lainnya untuk ikut membantu.

“IMF siap menggunakan kapasitas keuangan US$ 1 triliun untuk mendukung negara-negara anggotanya,” jelas IMF.

Selain itu, IMF menyatakan akan memberi bantuan pembiayaan utang dan instrumen keuangan lainnya dengan cepat kepada anggota-anggotanya yang membutuhkan. IMF juga akan mengeksplorasi opsi tambahan untuk membantu anggota yang mengalami kekurangan valuta asing.

“Masalah-masalah ini akan dibahas oleh Dewan Eksekutif IMF dalam beberapa minggu mendatang dengan maksud untuk membawa paket langkah-langkah yang kuat untuk pertimbangan IMFC di Pertemuan Musim Semi. Tujuan bersama kami adalah membuat respons krisis IMF semakin efektif dalam membantu para anggotanya mencapai pemulihan yang lebih cepat dan lebih kuat,” ungkap IMF.

Source : https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4956158/imf-nyatakan-pandemi-corona-berubah-jadi-krisis-ekonomi-global?tag_from=wp_nhl_7&_ga=2.135788851.341405534.1585195035-282479970.1566812522

Gubernur Sulteng Minta Warga Patuhi Social Distancing dan di Rumah Saja

Palu – 

Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) Longki Djanggola menyarankan pada warganya patuhi imbauan social distancing untuk mencegah penyebaran virus Corona (COVID-19). Dia meminta masyarakat mengingat pentunjuk pencegahan penyebaran Corona.

“Kepada seluruh masyarakat, tidak terkecuali siapa saja, di mana saja dan kapan saja harus disiplin dengan imbauan social distancing. Ingat ini acuannya untuk bisa mencegah virus Corona. Jangan keluar rumah kalau tidak penting, di rumah saja,” tegas Longki kepada detikcom saat dihubungi pada Jumat (27/3/2020) siang.

Menurutnya semua masyarakat, baik di dalam rumah maupun di luar rumah, harus tetap saling menjaga jarak. Minimal 1,5 hingga 2 meter untuk berkomunikasi.

Sementara itu Kepala Dinkes Sulteng, dr Renny A Lamajidjo mengatakan bahwa ada sekitar 13 PDP masih menunggu hasil uji laboratium Kemenkes. Data terkait Corona saat ini di Sulteng, ada 38 orang dalam pemantauan (ODP) dan 3 orang selesai pemantauan.

“Dari 18 kasus PDP di Sulteng, masih ada 13 kasus yang belum terkonfirmasi. 4 Kasus negatif dan 1 positif. Jadi apa yang disampaikan Pak Gubernur tentang social distancing itu adalah acuan kita cegah Corona,” jelas Renny.

“Karena wilayah kita jadi tempat persinggahan di mana warga dari daerah lain berpergian, baik lewat darat maupun udara,” imbuh dia.

Source : https://news.detik.com/berita/d-4955416/gubernur-sulteng-minta-warga-patuhi-social-distancing-dan-di-rumah-saja?tag_from=wp_hl_img&_ga=2.99037212.341405534.1585195035-282479970.1566812522

Mudik Mau Dilarang, yang Beli Tiket Jauh Hari Bisa Refund?

Jakarta – 

Pemerintah sedang mengkaji larangan untuk mudik sebagai antisipasi penyebaran virus corona. Masyarakat juga diminta untuk tetap di rumah dan tidak berpergian ke luar daerah.

Lalu, bagaimana bagi masyarakat yang sudah membeli tiket sejak jauh hari? Apakah tiket bisa di-refund?

Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan mengatakan operator transportasi diminta untuk menerima permintaan pengembalian tiket tanpa potongan. Hal ini merupakan arahan dari Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan yang merangkap Menhub Ad Interim.

“Menyangkut pembelian tiket, kemarin arahan Pak Menko Maritim jelas dan tegas agar itu dikembalikan dan nggak ada pemotongan,” kata Budi lewat video conference bersama wartawan, Jumat (27/3/2020).

Dia juga meminta proses pengembalian tiket tidak dilakukan secara langsung. Operator harus menyiapkan refund tiket secara online.

“Orangnya juga jangan dibuat datang ke stasiun atau terminal tapi online,” ungkap Budi.

Soal pelarangan mudik sendiri, menurut Staf Khusus Bidang Komunikasi Menteri Perhubungan Adita Irawati, pihaknya memang berkomitmen tegas untuk mengusulkan larangan. Namun, keputusan akan diambil usai melakukan rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo.

“Pada intinya, sebenarnya kita akan melarang mudik cuma butuh keputusan tinggi di ratas. Mengapa dilarang? Karena ini (mudik) menjadi potensi perluasan virus,” kata Adita pada kesempatan yang sama.

Surat Edaran Wali Kota Surabaya Terkait Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Covid-19