145 Orang di Sleman Meninggal karena Corona Selama Juni, Ada yang Sedang Isoman

Pedagang dan pengunjung pasar di Kabupaten Sleman diminta menggunakan masker dalam beraktivitas. Foto: Dok. Humas Sleman

Kasus corona di Sleman terus naik. Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo menyebut hingga 29 Juni kasus positif telah menembus 6.254 kasus. Bulan Juni merupakan rekor penambahan kasus corona di Sleman.

“Sampai tanggal 29 Juni kasus positif sudah menembus 6.254 kasus. Kami juga prediksi pada 30 Juni ini masih akan banyak penambahan karena banyak sampel PCR yang belum keluar. Untuk bulan Juni ini memang pecah rekor,” kata Joko saat Zoom meeting dengan wartawan, Rabu (30/6).

Namun tak hanya penambahan kasus positif, kasus pasien corona yang meninggal pun melonjak. Pada Juni ini setidaknya sudah ada 145 pasien corona yang meninggal dunia.

“Kasus meninggal dunia hingga 29 Juni tercatat 145 kasus, jadi sangat tinggi,” ujarnya.

Joko menjelaskan bahwa jumlah itu melebihi kasus kematian pasien corona tertinggi seperti pada bulan Januari dengan 87 kasus, kemudian Februari dengan 90 kasus, dan Mei dengan 92 kasus.

Sejumlah warga dihukum push up saat terjaring razia masker di Sleman.
Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Joko pun mengakui ada laporan pasien yang isolasi mandiri meninggal dunia di rumah. Meski dia tidak merinci angka kasus tersebut.

“Statusnya isolasi mandiri tapi kemudian meninggal di rumah. Tapi untuk belakangan ini, bisa karena nunggu rumah sakit karena itu penuh. Tapi kalau di awal dulu karena memang tak mau dibawa ke rumah sakit karena mengira hanya terkena flu biasa,” ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Joko Hastaryo. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Tanpa Gejala langsung Kritis

Terkait melonjaknya kasus kematian ini, Joko khawatir adanya virus varian baru meski belum ada bukti secara ilmiah. Namun kekhawatiran Joko bukan tanpa sebab. Banyak kasus tanpa gejala kemudian melompat ke gejala kritis.

“Dari tanpa gejala dan tahu-tahu gejala berat, itu banyak terjadi sekarang. Itu memang agak berisiko untuk terjadinya penanganan COVID-19 yang terlambat. Jadi tanpa gejala kemudian melompat ke gejala berat itu ada,” katanya.

Mengingat penularan kasus yang amat cepat, masyarakat harus memahami bagaimana epidemiologis atau penularannya. Selain itu juga harus mewaspadai gejala klinisnya.

“Klinisnya juga harus diwaspadai, karena melompat dari gejala ringan atau tanpa gejala langsung ke gejala berat. Nah ketika ke gejala berat menuju kritis itu sangat cepat biasanya,” ujarnya.

Comments are closed.