7 Teknik Closing Yang Efektif Menghasilkan Transaksi Penjualan

Pada artikel ini kita akan membahas tentang teknik closing yang efektif menghasilkan transaksi penjualan. Ini merupakan tahap lanjutan dari marketing atau pemasaran. Marketing akan menghasilkan leads, prospek atau pembeli potensial. Sedangkan teknik closing akan menghasilkan sales atau penjualan yang berasal dari leads yang masuk ke bisnis Anda.

Kami yakin kalau Anda sudah paham dengan perbedaan sales dan marketing. Sehingga ke depan kami tidak perlu lagi menjelaskan hal ini. Kita akan fokus ke apa itu teknik closing, bagaimana menerapkan teknik closing dan juga apa saja macam-macam teknik closing yang bisa langsung Anda praktikkan setelah membaca artikel ini.

Apa Itu Teknik Closing Dan Mengapa Penting Bagi Bisnis?

Teknik closing adalah sebuah metode untuk membuat calon pembeli produk benar-benar menjadi pembeli produk kita. Atau dengan kata lain ini merupakan sebuah teknik yang bisa digunakan untuk mengubah leads menjadi pembeli.

Ketika kita menjual produk dan berinteraksi dengan calon pembeli via chat, kita perlahan dan sedikit demi sedikit mengarahkan mereka untuk membeli produk kita. Saat proses mengarahkan itulah teknik closing yang baik dibutuhkan agar calon pembeli tidak merasa sedang dipaksa dan dengan senang hati tertarik terhadap produk kita.

Perilaku pasar Indonesia tidak sama dengan perilaku konsumen di negara seperti Amerika. Di negara yang kultur belanja onlinenya sudah terbangun, teknik closing via WhatsApp, WhatsApp Web atau media sosial cukup jarang digunakan. Mereka cukup melihat spesifikasi produk yang tertera di website atau e-commerce, lalu mereka memutuskan untuk beli atau tidak.

Sementara di Indonesia, kultur belanja onlinenya adalah “tanya dulu baru beli.” Jadi, meskipun sudah ada keterangan mengenai spesifikasi produk, warna, dan harga, calon pembeli tetap merasa perlu untuk bertanya-tanya lebih dahulu. Karena itu meskipun toko online kita sudah canggih, WhatsApp harus tetap tersedia.

Karena kultur belanja online masyarakat Indonesia seperti itu maka kita perlu memahami segala hal mengenai teknik closing. Tujuannya supaya orang yang sudah chat dengan kita, bisa langsung beli tanpa ragu, tanpa tapi dan tanpa nanti.

Persiapan Sebelum Menjalankan Teknik Closing

Sebelum kita mempelajari berbagai penerapan teknik closing di dalam bisnis, ada beberapa hal yang perlu Anda persiapkan terlebih dahulu. Karena beberapa hal ini akan sangat berkaitan dengan cara Anda menerapkan teknik closing nantinya.

Adapun hal-hal tersebut antara lain:

  • Memahami keunggulan produk
  • Mengetahui mengapa konsumen harus beli sekarang
  • Membangun kepercayaan.

Memahami Keunggulan Produk

Pertama, Anda harus paham betul seluk beluk produk yang ditawarkan. Banyak pembelian yang gagal terjadi hanya karena Customer Service (CS) atau Anda sendiri tidak bisa menjawab pertanyaan calon pembeli terkait produk yang kita jual. Atau kalaupun bisa menjawabnya, kkita terkesan ragu karena tidak mengetahui detil produknya secara pasti.

Jadi, kita perlu tahu semua hal tentang produk kita, dan juga alur pembelian dan hal-hal lain yang berhubungan dengan produk. Kalau Anda gagal mempelajari dan memahami produk Anda sendiri, maka teknik closing seperti apa pun yang digunakan akan sulit untuk berhasil.

Mengetahui mengapa konsumen harus beli sekarang

Berikutnya, Anda harus bisa memahami mengapa jika konsumen membeli produknya sekarang. Mereka akan mendapat berbagai keuntungan.

Jadi, kita juga perlu menyiapkan apa yang menjadi pembeda produk kita dengan produk kompetitor. Sehingga jika calon pembeli tidak membeli dari kita sekarang juga, mereka akan merugi. Pemahaman terhadap hal ini akan sangat membantu ketika kita menerapkan teknik closing.

Membangun kepercayaan

Umumnya, tidak ada calon pembeli yang membeli dalam sekali penawaran. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk membangun kepercayaan.

Jadi, meskipun tidak jadi membeli, kita tetap harus memberikan servis yang ramah dan baik. Jika kita berhasil melakukannya, mereka akan punya rasa percaya dan kembali pada kita.

Bahkan, jika pembeli puas dengan pelayanan kita, mereka dengan sendirinya akan kembali lagi tanpa harus menerapkan teknik closing yang macam-macam. Itulah mahalnya harga sebuah kepercayaan.

7 Teknik Closing Yang Efektif Menghasilkan Transaksi Penjualan

Setelah kita mempersiapkan semua hal di atas, kini saatnya kita mengenal dan mempelajari berbagai macam teknik closing yang efektif. Harapannya, ketika Anda menerapkan ini, calon pembeli tanpa ragu akan segera transfer.

1. Berikan pertanyaan pilihan

Teknik closing yang pertama adalah untuk selalu memberikan pertanyaan pilihan. Jadi jangan sampai kita memberikan pertanyaan putus.

Contoh pertanyaan putus misalnya seperti ini:

“kak jadi beli ga?”

Kalau kita bertanya seperti ini, niscaya jawabannya adalah “Gak!”

Teknik closing yang efektif biasanya selalu melibatkan pertanyaan yang menyediakan pilihan, contohnya begini:

“Kak, jadinya mau warna merah atau putih?”

“Kak, jadinya mau COD atau dikirim?”

“Kak, jadinya mau transfer bank atau pakai OVO?”

Gunanya adalah agar calon pembeli tetap terhubung dan niscaya mereka tidak akan bilang “tidak”.

Jadi, mereka akan sampai pada titik siap untuk membeli melalui pertanyaan-pertanyaan kita. Dengan cara ini, kita menghindarkan diri kita dari sifat jutek dan terlihat peduli pada kondisi calon pembeli.

2. Yakin mereka akan beli

Kedua, teknik closing yang efektif adalah mengasumsikan bahwa calon pembeli memang akan membeli. Closing itu soal keyakinan, jika begitu chat dari pelanggan masuk dan kita merasa tidak yakin, alam bawah sadar kita akan membuat tindakan berikutnya jadi kurang meyakinkan juga.

Jadi, kita harus berpikir bahwa mereka memang pasti akan membeli.

Contohnya, ketika calon pembeli bertanya tentang harga, kita bisa katakan kepada calon pembeli seperti ini:

“Harganya 50,000 kak, mau beli 2 atau 1 aja?”

Jadi, kita juga mendorong kepada calon pembeli untuk mempertimbangkan bahwa mereka memang perlu membeli produk kita. Teknik closing ini memang butuh pengalaman, namun seiring waktu kita bisa melihat dan tampil meyakinkan agar calon pembeli memang jadi membeli produk kita.

3. Teknik 3 in 1

Berikutnya adalah teknik 3 in 1, alias menawarkan tiga keuntungan dalam 1 produk. Mengapa tiga? Karena jumlah tersebut disinyalir lebih masuk ke pikiran konsumen dan lebih enak didengar.

Misalnya kita bisa tawarkan dengan mengatakan:

“Kalau beli teh ini, manfaat adalah bagus untuk kulit, membantu pencernaan, dan meningkatkan daya tahan tubuh.”

Atau

“Kalau dibanding kopi X, kopi kita lebih murah, lebih halus, dan lebih wangi kak.”

Jadi selain menceritakan keunggulan, kita juga bisa membandingkannya dengan produk kompetitor. Teknik closing ini cenderung efektif karena calon pembeli butuh pembanding dan mengetahui keunggulan produk secara lebih jelas sebelum membeli.

4. Pastikan kita yang terakhir chat

Teknik yang keempat adalah memastikan kita menjadi yang terakhir chat. Jadi jangan biarkan calon pembeli menjadi yang yang terakhir chat. Hal itu menunjukkan seolah kita tidak peduli lagi pada mereka. 

Misalnya saja pembeli menuliskan:

“Oke”.

Meskipun itu tandanya dia telah mengakhiri percakapan, tapi jangan sampai kita biarkan. Kita bisa balas dengan seperti ini:

“baik kak, terima kasih sudah mengunjungi toko kami.”

Meskipun calon pelanggan tidak jadi membeli, tetap usahakan kita yang terakhir membalas. Hal ini menunjukkan rasa siap kita, dan membangun kepercayaan di benak konsumen bahwa servis kita bagus dan cekatan. Teknik closing ini sangat efektif untuk memberikan citra positif pada konsumen.

5. Now or Never

Teknik closing yang kelima adalah dengan memberikan kelangkaan kepada calon pembeli. Maksudnya kita memberikan semacam pengumuman kepada calon pelanggan bahwa jika mereka tidak membeli produk kita sekarang mereka akan rugi.

Contohnya seperti ini:

“Kalau kakak, beli sekarang, kakak akan dapat diskon untuk produk X sebesar 30%”

Atau

“Kalau kakak nunda sampai besok, nanti tidak ada gratis ongkir kak, kalau transfer hari ini kami kirimkan hari ini juga dan besok sudah sampai.”

Dengan begitu, mereka akan merasa terdesak untuk membeli. Anda juga bisa menggunakan teknik closing ini jika produk Anda sedang memunculkan varian baru atau diskon baru. Jadi, menampilkan eksklusivitas dan kelangkaan akan membantu penjualan menjadi lebih tepat terjadi.

6. Empati

Teknik closing yang keenam adalah menunjukkan empati kepada calon konsumen. Jadi kita menempatkan diri sebagai si konsumen. Misalnya calon pelanggan kita mengeluh tentang wajahnya jerawatan dan bertanya apakah produk kosmetik kita bisa membantu.

Contoh jawaban yang keliru:

“Oh tentu bisa, jangan khawatir kak, pasti bisa sembuh.”

Hal ini selain khawatirnya memberi janji palsu, juga kita menunjukkan seolah masalah tersebut sepele.

Jawaban yang dianjurkan.

“Saya juga kurang lebih dulu sama kak, itu ganggu banget, apalagi kalau ketemu teman. Tapi sejak pakai produk ini, saya juga sedikit-sedikit bisa lebih pede, karena efeknya cepet banget kerasa kak.”

Dengan teknik closing seperti ini, kita lebih dulu masuk ke dalam dunianya si pelanggan. Lalu dari situ baru kita munculkan keampuhan produk kita. Calon pelanggan akan cenderung lebih percaya dan yakin karena hatinya sudah lebih dulu kita dapatkan. Tidak sekonyong-konyong kita langsung menawarkan produk.

7. Testimoni

Teknik closing yang terakhir adalah dengan memberikan testimoni. Seperti sudah disinggung sebelumnya, rata-rata orang Indonesia perlu bertanya sebelum membeli. Untuk bisa menjawab pertanyaan tersebut mereka butuh bukti dari yang sudah berhasil.

Jadi, kita juga perlu memberitahu calon pelanggan tentang kesuksesan produk kita di mata pelanggan lain.

Misalnya seperti ini:

“Krimnya ampuh kak buat ngilangin jerawat, ini komentar dari salah satu pelanggan kami yang problemnya sama dengan kakak.”

Lalu kita berikan screen shoot dari pelanggan yang dimaksud.

Teknik closing ini memperkuat argumen kita karena ada bukti pernah berhasil sebelumnya. Dengan begitu, calon pelanggan menjadi lebih mudah untuk diyakinkan. 

Itulah beberapa teknik closing yang bisa Anda terapkan dalam mendapatkan penjualan. Semoga bermanfaat dan sampai jumpa di artikel kami yang berikutnya. 

Sumber: kirim.email/teknik-closing/

Apa Saja Perbedaan Sales dan Marketing?

Perusahaan umumnya memiliki berbagai departemen atau divisi yang melakukan tugas berbeda sesuai dengan perannya masing-masing. Misalnya, sales, marketing, customer service, finance, programmer, dan lain sebagainya.  Namun, beberapa orang mungkin bertanya-tanya apakah peran sales dan marketing itu sama atau berbeda? Tak sedikit pula yang melihat sales dan marketing sebagai departemen atau divisi yang sama. Bukankah sales dan marketing sama-sama melakukan penjualan produk? Bagi orang awam, yang demikian mungkin terdengar sama. Tapi pada kenyataannya, sales dan marketing memiliki aktivitas, fungsi dan tugas yang berbeda. Meski punya peran berbeda, sales dan marketing adalah satu kesatuan, sangat berkaitan, dan saling berpengaruh antara satu sama lain.

Lalu, apa saja perbedaan antara sales dan marketing? Apa yang membuat sales dan marketing terlihat sama? Agar lebih memahami berikut merupakan perbedaan sales dan marketing.

Pengertian Sales dan Marketing

Sales didefinisikan sebagai bagian dari suatu perusahaan yang kegiatannya menjual, memastikan produk yang terlihat ataupun yang tidak terlihat laku dengan harga yang sesuai dengan perencanaan awal yang sudah ditetapkan tetapi juga dengan persetujuan dan kesepakatan konsumen.

Sementara marketing adalah keseluruhan sistem dari kegiatan bisnis seperti merencanakan produk, menetapkan harga, mempromosikan produk dan mendistribusikan barang dengan tujuan untuk memuaskan konsumen.

Secara singkat, sales ini merupakan penjualan dan marketing merupakan strategi untuk meningkatkan penjualannya.

Proses Kerja Sales dan Marketing

Selanjutnya, kita beda membedakan sales dan marketing dari sisi proses kerjanya. Merujuk pada pengertian sales yang merupakan penjualan, maka proses kerja sales yaitu langsung menghadapi konsumen. Namun, selain secara langsung, sales atau penjualan juga bisa dilakukan dengan melalui media, seperti telepon, media sosial atau apapun. Pada dasarnya kegiatan sales ini yakni aktivitas langsung atau interaksi langsung, asal kedua belah pihak menyetujui maka tidak menjadi masalah.

Agar tim sales dapat melakukan tugasnya dengan baik maka dibutuhkan tim marketing untuk melakukan analisis pasar atau mengidentifikasi kebutuhan dan keinginan konsumen. Sehingga, marketing ini merupakan kegiatan di belakang sales. Mereka yang memikirkan cara promosi, pangsa pasar, identifikasi kelebihan dan kekurangan produk, dan sebagainya. Dengan kata lain, perbedaan sales dan marketing ini adalah marketing bertugas menyiapkan konsep, alat, strategi untuk membuat konsumen tertarik dan sales bertugas melayani para konsumen agar produk laku terjual.

Prioritas dan Fungsi Sales dan Marketing

Dalam prioritas kerja, perbedaan sales dan marketing dapat dilihat dari target kegiatan. Prioritas marketing yaitu mendapatkan konsumen, menjangkau konsumen dan membangun hubungan yang baik sehingga mereka setia. Jika konsumen atau pelanggan Anda banyak maka pendapatan perusahaan juga akan meningkat.

Adapun fungsi dari sales adalah melayani konsumen dan membantu mereka mendapatkan produk yang dicari.

Dari prioritas dan fungsi keduanya  dapat disimpulkan bahwa sebenarnya sales dan marketing ini merupakan dua kegiatan yang saling berkaitan dan bersinergi.

Aktivitas atau Ruang Lingkup Kerja Sales dan Marketing

Sales dan marketing juga dapat dibedakan dari sisi aktivitas atau ruang lingkup kerjanya. Sales atau penjualan jangka waktu kerjanya pendek (short-term). Ya, lihat saja jika Anda melakukan transaksi jual beli, hanya sebatas itu saja kan? Setelah proses transaksi selesai, tim sales sudah tidak bertanggung jawab lagi dengan konsumen.

Sementara marketing jangka waktu kerjanya lebih lama (long-term). Hal ini karena marketing harus menjaga hubungan yang baik dengan para konsumen ataupun vendor.  Karena itu, setelah kegiatan marketing dilakukan, tim masih bertanggung jawab menjaga hubungan agar loyalitas pelanggan tidak hilang. Bahkan sebenarnya, tim marketing harus menjadi hubungannya dengan konsumen sejak sebelum transaksi terjadi. Adapun lingkup pekerjaan marketing seperti kpeuasan pelanggan (customer satisfaction), riset pasar (market research), dan hubungan masyarakat (public relations).

Tujuan Sales dan Marketing

Perbedaan selanjutnya yang sangat terlihat mengenai tujuannya. Dalam marketing atau pemasaran, tim wajib menjaga brand image produk atau perusahaan. Sehingga keputusan konsumen untuk membeli produk karena mengetahui kualitas atau brand produk tersebut.

Sedangkan, dalam bidang sales atau penjualan menjaga brand bukanlah hal yang penting. Tujuan sales adalah produk perusahaan laku terjual dan target penjualan yang telah ditetapkan terpenuhi.

Bisakah Kita Bekerja sebagai Sales dan Marketing Sekaligus?

Dari beberapa perbedaan sales dan marketing yang sudah diuraikan di atas, tentu kamu bisa mendapat gambaran betapa dua divisi ini memang punya peran dan tugas yang berbeda.

Meski demikian, seperti ditulis oleh The Balance Small Business, terkadang menyatukan fungsi sales dan marketing menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Hal ini terutama bagi perusahaan kecil atau yang baru memulai bisnis.

Salesperson lebih berfokus pada strategi untuk mendapatkan revenue secara langsung dan berorientasi pada keadaan sekarang.

Sementara itu, marketer membuat strategi agar informasi dan branding perusahaan sampai ke target audiens, sehingga produk dan aktivitas marketing lainnya bisa bertahan lebih lama di pasaran.

Dari perbedaan sales dan marketing ini, jika perusahaan kesulitan menyeimbangkan fungsi keduanya, perlu ada waktu dan sumber daya khusus agar para petugasnya bisa mempelajari kedua bidang tersebut.

Oleh karena itu, jika kamu ingin menjalankan dua bidang ini sekaligus, sangat disarankan kamu sudah dibekali oleh pengalaman yang matang di masing-masing bidang. Dengan begitu, kamu sudah terbiasa dengan cara kerja kedua divisi tersebut.

Jadi, sekarang kamu sudah tahu lebih banyak tentang perbedaan sales dan marketing baik dari segi pengertian, proses kerja, prioritas dan fungsi, ruang lingkup kerja, serta tujuan atau target yang harus dicapai masing-masing divisi.

Memang sales dan marketing tidak bisa jalan sendiri. Tim sales akan hilang arah jika tim marketing tidak mampu menganalisis secara tepat kebutuhan dan budaya pasar yang jadi target produk. Sebaliknya, tim marketing juga tidak bisa melakukan eksekusi tanpa tim sales.

Sumber:

https://www.jurnal.id/id/blog/perbedaan-sales-dan-marketing-yang-perlu-diketahui-pengusaha/

https://glints.com/id/lowongan/sales-dan-marketing/#.X2GCMGgzaUk

Bagaimana Cara Mengukur Produktivitas dalam Bekerja?

Satu hal yang semua organisasi sepakati adalah bahwa produktivitas itu penting. Akan tetapi, sementara semua organisasi berusaha untuk meningkatkan produktivitas, sebagian besar kesulitan untuk mengukurnya.

Bagaimana cara mengukur produktivitas?

Ada banyak cara untuk mengukur produktivitas. Berikut merupakan daftar cara mengukurnya. Perlu diketahui bahwa daftar ini tidak menyeluruh dan sangat bergantung pada jenis bidang tugas dalam pekerjaan.

  1. Produktivitas penjualan (sales)

Cara paling logis untuk mengukur produktivitas adalah dengan penjualan. Pada akhirnya, penjualan adalah hal yang mengendalikan organisasi. Akan tetapi, waspadalah karena metode ini mungkin berhasil untuk karyawan front liner seperti eksekutif penjualan yang pekerjaannya adalah untuk menghasilkan pemasukan. Namun menerapkan cara ini untuk staf pendukung seperti eksekutif IT mungkin akan menghambat produktivitas. Staff pendukung seharusnya tidak memiliki kendali akan penjualan. Target penjualan adalah yang paling sering digunakan, tetapi juga dapat menggunakan jumlah penjualan dalam jangka waktu tertentu, jumlah konsumen baru yang didapatkan dan juga biaya per konsumen baru.

  1. Profitabilitas

Walaupun penjualan meningkat, profitabilitas/keuntungan mungkin saja menurun. Hal ini dikarenakan biaya-biaya yang terus bertambah. Oleh karena itu, organisasi yang mengukur produktivitas penjualan harus juga mempertimbangkan untuk mengukur produktivitas dalam hal keuntungan. Produktivitas penjualan dapat diterapkan untuk para individu sementara profitabilitas dapat diterapkan untuk tim/ divisi. Hal ini merupakan cara mengukur seberapa banyak yang bisa dicapai dengan sumber daya/ biaya minimal. Beberapa standar penilaian mencakup margin keuntungan (profit margin), biaya per karyawan dan rasio pendapatan dengan biaya (income-to-cost ratio)

  1. Kuantitatif

Standar penilaian yang sering diterapkan untuk tugas yang relatif hanya membutuhkan keahlian minimal, seperti pengepakan dan pembungkusan produk, mendistribusikan voucher/kupon kepada para konsumen dan juga jumlah pengiriman produk yang dilakukan ke gudang atau ke para pelanggan. Akan tetapi selalu ada pengecualian. Cara ini juga bisa diterapkan untuk akademik dengan mengukur jumah publikasi penelitian per tahun. Publikasi ditujukan untuk pengecekan tingkat tinggi untuk para professor; sehingga penilaian secara kualitas sudah terukur dengan sendirinya.

  1. Kualitatif

Cara ini paling tepat diterapkan untuk para staf yang tugasnya sangat penting yang berkaitan dengan produk, jasa, dan dalam kasus tertentu operasional. Bagian penjaminan mutu (quality assurance) tentu saja masuk ke dalam penilaian ini, sama halnya dengan staf manufaktur dan insinyur yang merawat bagian mesin. Penilaian-penilaian seperti jumlah kesalahan per jumlah output atau jumlah pelanggan yang puas per minggu/bulan dapat diterapkan. Untuk pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan analisis dan perkiraan, tingkat ketepatan/akurasi dapat diterapkan untuk mengukur produktivitas.

  1. Target Manajemen (management objective)

Mengukur produktivitas berdasarkan tujuan manajemen merupakan cara yang lebih rumit dikarenakan cara ini membutuhkan lebih banyak strategi dan rencana untuk jangka waktu yang lebih panjang. Beberapa contoh misalnya menurunkan biaya sampai 10% sebelum kurun waktu tertentu, memperluas bisnis ke wilayah geografis tertentu, dan meningkatkan kontribusi pendapatan dari suatu bisnis tertentu menjadi 15% dari 5%. Sekilas hal-hal tersebut terlihat seperti hasil kerja yang menentukan penilaian kinerja (performance appraisal). Akan tetapi, semakin tinggi tingkatannya dalam hirarki organisasi, tugas dan cara mengukurnya akan menjadi semakin makro.

Bagaimana cara meningkatkan produktivitas dalam pekerjaan?

Mendorong produktivitas di tempat kerja merupakan tugas yang rumit dan tentunya akan sulit dibedakan dengan meningkatkan produktivitas. Meningkatkan produktivitas lebih berkaitan dengan meningkatkan produktivitas melalui dorongan eksternal seperti langkah pencegahan, negative reinforcement, dan penerapan teknologi untuk menggantikan tenaga kerja manusia. Mendorong produktivitas lebih merupakan usaha-usaha yang dilakukan oleh para pekerja.

  1. Mengelompokkan Pekerja Terbaik

Perusahaan-perusahaan top cenderung mengelompokkan karyawan terbaiknya untuk bekerja sama dalam proyek-proyek yang penting bagi perusahaan. Pertama, produktivitas didorong di area-area yang memiliki dampak paling besar bagi organisasi. Kedua, pekerja terbaik cenderung lebih kompetitif sehingga suatu lingkungan yang kompetitif pun terbentuk dengan sendirinya yang mendukung produktivitas secara positif.

  1. Memberikan keuntungan dan penghargaan yang kreatif (selain dalam bentuk uang)

Bukan rahasia lagi bahwa karyawan yang bahagia dan puas lebih produktif daripada mereka yang digaji tinggi. Oleh karenanya, dengan menyediakan keuntungan dan penghargaan yang kreatif, para pekerja akan dengan senang hati membalas kebaikan/penghargaan yang diberikan perusahaan.

  1. Menumbuhkan budaya perusahaan yang produktif

Cara lain adalah dengan menumbuhkan budaya kerja yang produktif. Dengan memilih dan merekrut pekerja terbaik yang sangat termotivasi dan berpikiran objektif, hal ini meningkatkan jumlah pekerja produktif di tempat kerja dan menciptakan lingkungan yang menghargai produktivitas.

Selain itu, untuk melanggengkan budaya produktif ini adalah dengan monitoring karyawan secara berkala, yang tidak terbatasi oleh ruang dan waktu. Misalnya, dengan menggunakan aplikasi employee tracker, seperti Digaze. Dengan aplikasi tersebut, perusahaan bisa mengawasi dan mendorong produktivitas karyawan. Tak hanya itu, menggunakan aplikasi employee tracker juga mempermudah perusahaan mengukur produktivitas karyawan.

Mengukur produktivitas setidaknya sama pentingnya atau lebih penting dari meningkatkan produktivitas. Pengukuran produktivitas yang akurat merupakan bentuk dorongan/dukungan bagi para pekerja. Dengan menyediakan target yang objektif dan dapat diukur, mereka tahu bahwa mereka dinilai dengan adil, dan hasil yang mereka tunjukkan pun sepadan.

Sumber: Jobstreet

Strategi Penjualan yang Efektif saat Pandemi Covid-19

Penyebaran covid-19 yang cepat memang merubah interaksi antara bisnis dan pelanggan. Banyak bisnis mulai merasa penurunan penjualan yang drastis atau bahkan tidak memiliki pelanggan sama sekali karena pelanggan sudah mulai beraktivitas di rumah mereka masing-masing. Tetapi, keberlanjutan bisnis harus tetap dilakukan agar bisnis dapat dipertahankan. Mempertahankan bisnis yang berarti juga memperjuangkan penjualan selama wabah Virus Corona memang tidak mudah. Banyak yang bertanya-tanya bagaimana bisnis menjual produk di minggu atau bulan mendatang. Berikut beberapa strategi penjualan yang efektif untuk memastikan bahwa bisnis UKM Anda tetap berjalan.

1. Hormati dan Perkuat Hubungan Anda dengan Pelanggan

Penting untuk menghormati hubungan dan dukungan Anda kepada pelanggan di waktu seperti sekarang. Minggu-minggu ini, email atau pun notifikasi smartphone pelanggan akan dibanjiri dengan pembaruan dari Virus Corona. Baik dari perusahaan tempat mereka bekerja ataupun online shop kesayangan mereka. Untuk itu, jangan mengeksploitasi krisis menjadi sebuah kesempatan yang dilebih-lebihkan. Pakai bahasa yang lebih sopan dan coba lebih dekati apa yang mereka rasakan.

Misalnya, Anda dapat mengirim email dengan membuatnya secara pribadi dan sesingkat mungkin dengan pesan inti “Kami di sini untuk mendukung Anda. Beri tahu kami bagaimana kami bisa membantu Anda.” Intinya, tetap perkuat hubungan Anda dengan menanyakan kabar mereka tapi jangan terlalu berlebihan karena bisnis tetap ingin menghormati pelanggan.

2. Buat Promosi Penjualan yang Tepat

Ini adalah waktu yang tepat untuk memperkuat nilai dari produk yang Anda jual. Jika Anda dapat mengembangkan promosi penjualan yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan di tengah krisis Virus Corona ini, dengan sendirinya, pelanggan akan datang sendiri kepada bisnis Anda. Sebaiknya, gunakan media digital saat melakukan promosi karena pelanggan lebih banyak menghabiskan waktu dan beraktivitas di rumah. Waktu untuk melihat smartphone atau melihat TV akan lebih banyak dihabiskan dibanding hari-hari biasanya.

Misalnya, Anda dapat membuat “buy-now” promotion, atau push notification di smartphone pelanggan dengan tulisan “sending a great promotion to you.” atau Anda juga dapat mengirim penawaran menarik ke email mereka.  

3. Cara dan Strategi Penjualan yang Kreatif

Selain promosi yang Anda gunakan tepat, buatlah cara dan strategi penjualan yang kreatif. Dengan membuat pelanggan tetap melihat cara Anda mempresentasikan produk UKM Anda. Entah melalui video yang sedih, lucu atau unik, melalui meme yang lucu, melalui email yang menarik dan berbagai cara lainnya yang disesuaikan kembali dengan target pasar produk bisnis Anda. Berbeda target, berbeda cara mendekatinya. 

Misalnya, Anda dapat membuat video unik dengan cerita yang lucu. Anda tidak perlu terlalu memasarkan produk secara eksplisit. Buat saja cerita yang unik, lucu dan menarik agar pelanggan selalu ingin menonton video penjualan Anda setiap Anda memposting di media sosial atau media lainnya.

4. Jangan Panik dan Jangan Berhenti Menjual

Hindari kepanikan atas pandemi Virus Corona ini dan berhentilah berasumsi bahwa bisnis Anda akan segera bangkrut karena adanya penurunan penjualan. Banyak bisnis diambang kepanikan karena adanya isu-isu Virus Corona di luar sana. Anda tetap harus menjual produk UKM dan mencari calon pelanggan dengan berbagai cara yang dapat menarik hati pelanggan untuk tetap membeli produk UKM Anda. Kehidupan mungkin saja tidak sepenuhnya normal kembali. Jadi, cari cara agar Anda dapat beradaptasi dan tetap berbisnis. 

Setelah Anda mengetahui strategi penjualan yang efektif selama masa pandemi Virus Corona. Sebaiknya Anda juga mulai memperhatikan pembukuan bisnis UKM Anda. Terlebih, dengan mempertimbangkan strategi penjualan apa yang akan dilakukan, Anda juga harus terus melihat bagaimana kondisi keuangan bisnis Anda. Untuk itu, gunakan pembukuan digital seperti Jurnal, dengan sistem yang otomatis ini akan mempercepat segala strategi dan keputusan yang diambil dalam berbisnis.

Sumber: jurnal.id