Fenomena Hari Tanpa Bayangan di Indonesia

Zero shadow day atau hari tanpa bayangan terjadi di beberapa bagian Bumi, termasuk Indonesia. Ini adalah saat di mana sinar Matahari tidak menimbulkan bayangan pada benda-benda di waktu tertentu pada siang hari.

Pada saat itu, Matahari tepat berada di zenith. Zenith adalah titik di angkasa yang berada persis di atas pengamat. Cahaya Matahari benar-benar berada di posisi vertikal pada obyek sehingga bayangan pun menghilang.

Hari tanpa bayangan ini sesungguhnya merupakan fenomena yang terjadi tiap tahun, di mana dalam satu tahun terjadi dua kali.

Berdasarkan keterangan lapan, hari tanpa bayangan terjadi dua kali setahun untuk kota-kota yang terletak di antara Garis Balik Utara (Tropic of Cancer: 23,4 derajat Lintang Utara) dan Garis Balik Selatan (Tropic of Capricorn: 23,4 derajat Lintang Selatan).

“Sementara, untuk kota-kota yang terletak tepat di Garis Balik Utara dan Garis Balik Selatan akan mengalami hari tanpa bayangan hanya sekali setahun yakni ketika Solstis Juni (21/22 Juni) maupun Solstis Desember (21/22 Desember),” papar Lapan.

Selain sebagai fenomena yang menarik, hari tanpa bayangan adalah sinyal akan terjadi pergantian musim. “(Hari tanpa bayangan) mulai terjadi (menandakan) terjadi perubahan musim di wilayah Indonesia,” kata Peneliti Pusat Sains Antariksa Lapan Rhorom Priyatikanto beberapa waktu silam.

Peristiwa ini terjadi karena Bumi beredar mengitari Matahari pada jarak 150 juta kilometer dengan periode sekitar 365 hari. Garis edar Bumi berbentuk agak lonjong sehingga Bumi kadang bergerak lebih cepat dan kadang bergerak lebih lambat.

Bidang edar Bumi disebut sebagai bidang ekliptika. Bidang ini miring sebesar 23,4 derajat terhadap bidang ekuator Bumi. Karenanya, Matahari tampak berada di atas belahan Bumi utara selama sekitar setengah tahun dan berada di atas belahan Bumi selatan setengah tahun sisanya.

“Perubahan posisi tampak Matahari menyebabkan perubahan musim di Bumi, misalnya empat musim di daerah subtropis dan juga musim kering-basah di wilayah Indonesia,” jelas Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Lapan, Jasyanto, mengenai hari tanpa bayangan.

Wilayah Indonesia terbentang dari 6 derajat Lintang Utara hingga 11 derajat Lintang Selatan dan membelah garis khatulistiwa. Dengan lokasi geografis seperti ini, maka Matahari akan berada di atas Indonesia ketika tengah hari pada bulan September dan juga Oktober.

“Ketika Matahari berada di atas Indonesia, tidak ada bayangan yang terbentuk oleh benda tegak tidak berongga ketika tengah hari, sehingga fenomena ini dapat disebut sebagai Hari Tanpa Bayangan,” sebut Lapan

Berikut jadwal kapan hari tanpa bayangan terjadi di kota-kota Indonesia:

Namun demikian, bukan berari setelah terjadi hari tanpa bayangan langsung musim berganti, melainkan hanya sebagai patokan. Ada faktor lain misalnya perubahan iklim global dapat mempengaruhi pola musim hujan yang akan terjadi di Indonesia.

Di sisi lain, muncul pula mitos bahwa telur dapat berdiri tegak saat hari tanpa bayangan. Hal itu telah pula ditanggapi Lapan yang menyebutnya tidak akurat. “Secara ilmiah, tidak ada dasarnya antara telur berdiri dengan vernal equinox. Telur terlalu kecil untuk merespons gravitasi Matahari,” cetus Kepala Lapan, Thomas Djamaludin, beberapa waktu silam.

Sumber: September 5, 2020 Blog, Lifestyle, Science No comments yet