Heboh ABK di Kapal China, Netter Cerita Pernah Jadi Budak Kapal Ikan

Pada pekan ini, warganet sedang ramai membicarakan mengenai berita jasad seorang WNI yang menjadi anak buah kapal (ABK) yang dibuang dari kapal nelayan berbendera Tiongkok. Pemberitaan itu juga mengungkap kesengsaraan seorang anak buah kapal yang diforsir bekerja hingga 30 jam namun digaji tidak sampai 2 juta sebulan. Banyak warganet mengatakan bahwa hal itu adalah bentuk perbudakan. 

Menanggapi kehidupan pekerjaan menjadi seorang ABK, pemilik akun @capedehhhhhhhhh (‘h’-nya ada sembilan) telah menceritakan pengalamannya menjadi kru di sebuah kapal ikan dari Jepang. Thread yang dibuatnya di Twitter itu kini viral dan telah disukai belasan ribu orang.

Dari awal, disebut bahwa pengalamannya bekerja di sebuah kapal Jepang lebih beruntung daripada yang berbendera negara lain. Kapal Jepang itu memiliki mesin dan peralatan canggih seperti alat telekomunikasi dan radar yang mumpuni. 

Selain itu, kapal juga dilengkapi dengan sistem filterisasi yang mengubah air laut menjadi layak konsumsi. Konon, kapal ikan Jepang hanya bertahan hingga 20 tahun pemakaian, lalu dijual kepada nelayan dari negara tetangga. Pemilknya akan membeli kapal baru.

Ia bekerja dengan banyak orang Indonesia dan Jepang dengan komposisi 70-30%. Sebelum pergi berlayar, mereka harus mempersiapkan persediaan makanan, umpan, serta bahan bakar yang cukup untuk tiga bulan pelayaran. Ya, tiga bulan tidak bertemu daratan. 

Tibalah hari keberangkatan. Mereka berlayar sekitar seminggu menuju tengah laut. Selama itu, ABK menyiapkan alat berburu ikan: pancing, tombak, golok, dan setrum listrik. Semua diperiksa ulang sebelum penangkapan dimulai. Mereka bekerja dari pukul 6 pagi hingga 5 sore. Minggu pertama merupakan waktu yang santai dari perjalanan.

Ketika sampai di lokasi berburu ikan, para kru kapal baru memulai tugas berat mereka. Mereka dibagi menjadi tiga tim untuk ‘setting’ alias menebar umpan, memasangkan jaring dan pancing. Proses ini biasanya memakan waktu sekitar 2 jam yang dilakukan pada pukul 2 hingga 4 pagi subuh. Hal ini dilakukan secara bergantian, giliran pertama adalah Tim 1. Tim 2 bangun jam 5 pagi dan memasang umpan untuk persiapan setting esok hari. Setelah melakukan setting, mereka segera beristirahat untuk mempersiapkan fisik masing-masing.

Mereka semua bangun pukul 10 pagi untuk bersiap melakukan ‘holding’ pada 11 siang. ‘Holding’ adalah sebutan untuk proses penangkapan ikan. Jaring dan pancing yang telah ditebar sebelumya diangkat dengan alat tarik khusus dari kapal. Tugas ABK adalah untuk memilah dan menangkap ikan yang mereka inginkan. Khusus di kapal ini, mereka menangkap ikan dengan berat 10 hingga 200 kilogram, sehingga ikan-ikan kecil yang tertangkap mereka lepas kembali.

Proses holding bisa berjalan selama 10 hingga 12 jam, tergantung banyaknya ikan yang tertangkap. Untuk tim 2, mereka selesai terlebih dahulu dan tidur mulai 9 malam untuk bersiap giliran melakukan setting pada pukul 2 dini hari nanti. Sisanya, tetap menangkap ikan dan lanjut membersihkan dek kapal dari kotoran dan darah. Setelah itu, tim 3 bangun pukul 5 pagi untuk memasang umpan bagi setting pada keesokan harinya. Begitulah rotasi kerja yang dilakukan para ABK setiap hari selama 3 bulan di atas kapal.

Mereka bekerja di bawah sinar matahari ataupun diguyur hujan, baik ketika suhu hangat maupun sedang beku dibawah nol derajat. Terkadang laut bersahabat, namun terkadang mereka harus menghadapi ombak hingga ketinggian 15 meter ketika terjadi badai. 

Jam kerja yang panjang juga menyulitkan para ABK untuk melaksanakan kewajiban ibadah mereka. Tidak hanya itu, para kru kapal juga harus menghadapi bahaya lain seperti tertusuk kail pancing, tertusuk pisau, jatuh terpeleset, hingga tergigit ikan hiu. 

Ya, kapal ini menangkap hiu yang sebelum diangkut ke kapal tentu harus dibunuh terlebih dahulu. Selain hiu, mereka juga menangkap ikan tuna sirip kuning (yellow fin) dan tuna big eye. Kedua ikan yang seekor dihargai puluhan juta ini biasanya ditangkap di perairan tenang dan hangat. Berbeda dengan ikan tuna sirip biru (blue fin) yang ditangkap di perairan dingin. Ikan ini memiliki bobot hingga ratusan kilogram, dan merupakan salah satu ikan termahal yang ditangkap. Seekor bisa dibanderol hingga puluhan milyar! Tentunya para ABK kebagian mencicipi ikan seharga puluhan miliyar itu.

Nah, selanjutnya @capedehhhhhhhhh (h-nya ada sembilan) membocorkan gaji ABK di kapal Jepang tempat ia bekerja. Bagi kru baru, gaji dipatok 5 juta per bulan, tapi ia terima bersih karena makanan disediakan di kapal. Gaji tersebut juga belum termasuk bonus tangkapan yang bisa mencapai 500-700 dolar AS. 

Dalam tahun pertamanya, ia mengatakan membawa pulang lebih dari Rp 100 juta. Bagi kru yang telah bertahan di kapal lebih lama, tentunya gaji tersebut bertambah setiap tahunnya. 

Jika negosiasi mencapai kesepakatan yang baik, seorang ABK senior bisa menghasilkan Rp 150-200 juta setiap tahunnya. Tentunya gaji tersebut dipatok dengan jam kerja dan bahaya yang dihadapi kru kapal selama berburu ikan di laut. Tetapi nominal itu juga mencerminkan perusahaan Jepang yang menghargai para pekerjanya, karena gajinya jauh lebih besar dibanding yang diberikan kapal asal Tiongkok seperti yang diberitakan di media.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *