Nih! Bukti-Bukti Milik Yan Terkait China dan WHO di Balik COVID-19

Saksi persekongkolan jahat yang diduga dilakukan oleh WHO dan China yakni Limeng Yan merupakan seorang ilmuwan wanita dan penggiat Gerakan Pengungkap Fakta menyelamatkan para ilmuwan dari China untuk bersaksi melawan Partai Komunis China ‘PKC’

Setelah lama menunggu saat jumlah korban tewas melonjak di seluruh dunia, ilmuwan pahlawan LiMeng Yan akhirnya muncul dalam laporan eksklusif di Fox News.BACA JUGA – Konsultan WHO asal China Bersaksi COVID-19 Hasil Persekongkolan Jahat

Bukti meyakinkan yang diberikan oleh para ilmuwan China adalah alasan utama di balik tindakan tegas yang diambil terhadap rezim China oleh negara-negara demokratis. BACA JUGA – Saksi Persekongkolan Jahat WHO dan China, Tahu Kelemahan COVID-19

Bekerja sebagai ahli virologi di Universitas Hong Kong, Yan ngeri dengan kekejaman PKC tetapi juga terinspirasi oleh keberanian para warga Hongkong.

Diminta oleh pengawasnya untuk tetap diam tentang penyebaran virus, dia mempertaruhkan nyawanya untuk memperingatkan dunia tentang patogen mematikan melalui Lude Show.

Ms. Yan pertama kali menghubungi Mr. Lude pada tanggal 31 Desember 2019, tetapi tidak mendapat tanggapan. Dia mencoba lagi pada bulan Januari.

Dia memberikan bukti ilmiah kepada Lude dan dengan sabar melatihnya tentang komunikasi dan interpretasi poin-poin penting.

Segera setelah Lude memperingatkan publik pada 19 Januari tentang virus dengan informasi yang diberikan olehnya, seorang pejabat PKC mengumumkan penularan virus dari manusia ke manusia pada hari berikutnya, 20 Januari.

Saksi Persekongkolan Jahat WHO dan China, Tahu Kelemahan COVID-19

Konsultan WHO yang juga ilmuwan China berhasil kabur ke Amerika Serikat karena keselamatan jiwanya terancam. Tak hanya mengetahui soal persekongkolan jahat WHO dan China, Dr. Limeng Yan juga mengantongi vaksin virus corona

Dr. Limeng Yan seorang virologi lulusan Universitas Hongkong yang melakukan penelitian virus berhasil kabur pada 28 April 2020 tiba di Bandara Internasional Los Angeles. 

Ia mengungkapkan bahwa ketika dirinya dalam perjalanan ke Amerika Serikat, kerabatnya yang tinggal di kota asalnya Qingdao mendapat gangguan dari personel keamanan Tiongkok. Setelah berada di luar, dia diserang dan mendapat stigmatisasi di Internet. 

Dr. Sean Lin sebagai anggota “The Committee on the Present Danger: China” telah melakukan banyak dialog dengan Limeng Yan.

Dr. Sean Lin mengatakan : “Setelah berbincang-bincang dengannya, saya yakin bahwa Limeng Yan adalah seorang peneliti yang sangat berpengalaman dalam mempelajari virus corona”.

Limeng Yan berulang kali menegaskan bahwa dirinya hanya berniat untuk menyampaikan kebenaran dari keahlian yang ia miliki. Hal demikian tidak ada hubungannya dengan politik, karena ini menyangkut harkat hidup manusia.

Ia mengatakan bahwa virus tersebut sangat, sangat berbahaya, dan dapat dengan cepat berkembang menjadi ada satu dari setiap 10 orang yang didiagnosis terinfeksi. Jangan mengharapkan ada vaksin untuk mengatasinya, karena sampai sekarang manusia tidak memahami virus tersebut sama sekali.

Dr. Sean Lin mengatakan : “Orang-orang Amerika melalui pelaporan seperti ini dapat melihat lebih jelas mengenai kerusakan dunia yang diakibatkan oleh komunis Tiongkok menyembunyikan fakta tentang epidemi, jadi saya pikir suara tuntutan pertanggungjawaban dari pihak sipil harus lebih kuat”.

Limeng mengaku pernah bertugas di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hongkong, laboratorium tempat ia bekerja adalah salah satu laboratorium terbaik di dunia untuk penelitian virus pneumonia Wuhan. Dalam wawancaranya dengan Fox News ia mengungkapkan sejumlah kebenaran yang menakjubkan.

Pada 31 Desember 2019, Limeng Yan ditunjuk oleh atasannya, Leo Poon yang menjabat sebagai konsultan untuk WHO, untuk secara diam-diam mempelajari corona.

Pada hari yang sama, seorang ilmuwan yang bekerja di Pusat Pengendalian Penyakit Tiongkok mengatakan kepadanya, bahwa ada satu keluarga yang anggotanya terinfeksi virus tersebut, menunjukkan bahwa virus dapat menular dari manusia ke manusia.

Fakta Tewasnya Editor Metro TV yang Ditemukan di Pinggir Tol Pesanggrahan

JAKARTA, KOMPAS.com – Warga Pesanggrahan, tepatnya yang berada di dekat pinggir Tol JORR Pesanggrahan Jalan Ulujami Raya, Ulujami, Jakarta Selatan, dikagetkan dengan penemuan jenazah pria pada Jumat (10/7/2020) siang.

Setelah ditelusuri, jenazah tersebut merupakan wartawan Metro TV Yodi Prabowo.

Warga yang mengetahui hal tersebut pun langsung melapor ke Polsek Pesanggrahan.

Berikut kronologi dan fakta terkait meninggalnya Yodi Prabowo:

Kronologi

Jenazah Yodi ditemukan pertama kali oleh tiga orang anak kecil yang hendak bermain layangan.

Mengetahui ada jenazah, warga yang berada di lokasi sekitar langsung menghubungi polisi.

Kepala Unit Reskrim Polsek Pesanggrahan Iptu Fajhrul Choir mengatakan, jenazah Yodi ditemukan pukul 11.45 WIB.

Baca juga: Jenazah yang Ditemukan di Pinggir Tol Pesanggrahan adalah Wartawan Metro TV

Polisi yang datang ke lokasi langsung mengumpulkan sejumlah barang yang diduga milik mayat pria.

Barang-barang tersebut mulai dari dompet berisi KTP, NPWP, kartu ATM, sepeda motor Honda Beat warna putih bernomor B 6750 WHC, tiga STNK, uang sebesar Rp 40.000, helm, jaket, dan tas milik korban.

Kemudian, Yodi diketahui sebagai karyawan Metro TV. Di Metro TV, Yodi bekerja sebagai editor.

Metro TV sendiri sudah mengonfirmasi, dan menyebutkan bahwa Yodi terakhir terlihat bertugas di kantor Metro TV tiga hari yang lalu, tepatnya pada Selasa (7/7/2020) pukul 15.00-22.27 WIB.

“Kami tahunya keluarganya melapor belum sampai ke rumah juga. (Yodi) ditelepon tak merespons. Kemudian keluarga melapor ke kantor. Kami langsung telepon ke teman-teman dekat,” kata Direktur Utama Metro TV Don Bosco Selamun saat dihubungi Kompas.com, Jumat.

Baca juga: Metro TV Minta Polisi Usut Sebab Tewasnya Editor Metro TV, Yodi Prabowo

Dalam tubuh Yodi juga terdapat luka tusuk di bagian dada. Di dekat mayat ditemukan juga sebilah pisau.

“Saat ini jenazah dibawa ke RS Polri. Untuk keterangan lebih jelas, silakan tunggu hasil otopsi,” kata Don Bosco.

Hilang tiga hari

Sebelum ditemukan, Don Bosco menyebutkan, Yodi terakhir terlihat di kantor pada Selasa lalu.

Artinya, sejak Selasa hingga Jumat sudah tiga hari Yodi tidak pergi ke kantor dan pulang ke rumah.

Dari keterangan tempat Yodi bekerja, pihak keluarga juga coba mencari keberadaan Yodi dengan menelepon, namun tidak ada respons.

Pihak kantor juga mencoba menghubungi teman-teman dekat Yodi.

Baca juga: Editor Metro TV yang Tewas di Tol Pesanggrahan Hilang sejak Tiga Hari Lalu

Diduga dibunuh

Dugaan pembunuhan mencuat lantaran tak ada barang berharga milik Yodi yang dirampas pelaku.

Barang-barang utuh dan masih seperti semula. Sepeda motor, surat-surat, dan ponsel milik juga Yodi Prabowo tidak hilang.

Semua barang tersebut ditemukan tidak jauh di sekitar lokasi penemuan jenazah. 

Baca juga: Editor Metro TV Ditemukan Tewas di Pinggir Tol, Sepeda Motor dan Ponsel Tak Hilang

Atas peristiwa ini, Metro TV meminta pihak kepolisian mengusut tuntas kasus kematian wartawannya.

“Kami minta polisi untuk melakukan pengusutan tuntas. Ada tindak kekerasan, kita harus kejar pelaku,” Don Bosco Selamun, Jumat.

Penulis: Bonfilio Mahendra Wahanaputra LadjarEditor: Bayu Galih

Menguak Mitos ‘Misi Numpang-numpang’

Sejak kecil biasanya kita diperkenalkan dengan istilah “numpang-numpang” oleh orang tua atau yang ada di lingkungan kita ketika kita memasuki daerah yang baru terutama yang terkenal dengan keangkerannya.

Biasanya mitos soal numpang-numpang ini akan kita lakukan ketika kencing sembarangan apalagi bagi kaum lelaki. Mitos ini juga sering dilakukan seseorang ketika memasuki rumah kosong yang sudah lama ditinggalkan.

Nah Sobat Dukun, apakah kamu salah satu dari penganut kepercayaan dari mitos ini?. Untuk itu saya akan mengupas soal mitos ini apakah benar adanya atau hanya sekadar bualan orang zaman dulu.

Secara Logika

Dilihat dari sudut pandang manapun, mitos soal numpang-numpang ini sangat tidak masuk akal dan cenderung mengada-ngada. Karena kita dipaksa ngobrol dan izin sendiri tanpa adanya tuan rumah atau sang pemiliki wilayah tersebut.

Mitos ini juga memperlihatkan bahwa kita sangat ketakutan dengan mahluk yang tak berwujud, padahal manusia merupakan mahluk yang diberikan akal oleh Tuhan dibanding ‘mereka’ yang tak kasat mata, oleh karena itu manusialah yang memiliki atas dunia fisik ini.

Selain itu, mitos ini juga sering diturunkan ke anak-anak kita dan lambat laun mempercayai hal-hal yang takhayul. Akibatnya, anak cenderung akan phobia atau memiliki rasa takut akan hal yang tak terlihat.

Secara Ilmu Gaib

Berbeda dengan apa yang kita lihat secara kasat mata, pengalaman saya soal perjalanan dunia gaib dari beberapa kesaksian jin beranggapan bahwa numpang-numpang membuat mereka lebih dihargai sesama mahluk karena pada dasarnya mahluk tak kasat mata meyakini lebih tua (senior) dibanding manusia.

Sebangsa jin juga merasa seharusnya manusia menggunakan akalnya untuk menempatkan sopan santun ketika berada di wilayah yang baru ia kenal.

Namun saya melihat, fenomena numpang-numpang ini alangkah baiknya diganti dengan bacaan doa sesuai kepercayaannya guna meminta perlindungan dari Tuhan dan menjauhkan dari rasa takut akan kehadiran bangsa jin dan lainnya.

Jadi kesimpulan menurut Mbah Dukun ialah, kita patut menghargai posisi kita sebagai manusia yang derajatnya lebih tinggi dibanding dengan mereka yang tak kasat mata. Namun, dengan begitu kita juga harus menggunakan akal pikiran dan etika soal cara hidup karena kita tidak hidup sendirian.

Sumber: Pengalaman spiritual

Ibu Mengamuk di Depan Penghulu Saat Pernikahan Anaknya, Ini Penjelasan Kades

KOMPAS.com – Sebuah video memperlihatkan seorang ibu mengamuk dalam acara pernikahan viral di media sosial Facebook dan Instagram. Ibu itu terlihat menunjuk penghulu dan pasangan pengantin.

Setelah ditelusuri, insiden itu terjadi di Desa Sugian, Kecamatan Sambelie, Lombok Timur.

Baca juga: Ditanya Deadline Jokowi, Khofifah: 14 Hari Terakhir Jatim Sembuhkan 2.150 Pasien Covid-19

Kepala Desa Sugian Lalu Mustiadi membenarkan pernikahan pasangan MR dan S itu terjadi di wilayahnya.

Ibu yang mengenakan jilbab biru itu, kata dia, merupakan orangtua dari pengantin perempuan.

“Iya sempat ngamuk-ngamuk si ibunya kemarin,” kata Mustiadi ketika dikonfirmasi Kompas.com, Kamis (9/7/2020).

Mustiadi menjelaskan, ibu tersebut mengamuk karena tak mengetahui secara pasti jadwal pernikahan anak perempuannya.

Menurut Mustiadi, kedua orangtua pengantin perempuan tersebut telah lama bercerai. Selama ini, pengantin perempuan itu tinggal bersama ayahnya.

Pihak keluarga, kata dia, hanya memberi tahu tanggal pernikahan kepada ibu tersebut.

Salah satu kerabat mereka yang merupakan perangkat rukun tetangga (RT) setempat tak memberi tahu jam penyelenggaraan akad nikah.

Baca juga: Viral, Video Seorang Ibu Mengamuk di Depan Penghulu Ingin Batalkan Pernikahan Anaknya

Hal itu membuat sang ibu kesal.

“Jadi harinya sudah sepakat dari awal, cuma pada saat akad ijab kabul itu RT-nya (yang merupakan keluarga pengantin) sedikit ceroboh, keluarga dari ibu perempuan tidak dikasih tahu jamnya, itu yang tidak terima,” kata Mustiadi.

Perangkat RT itu tak memberi tahu ibu dari pengantin perempuan karena merasa sudah ada perwakilan keluarga dekat lain yang menghadiri pernikahan.

Selain itu, pihak keluarga ingin mengurangi potensi kerumunan untuk mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah.

Sebelumnya diberitakan, sebuah video yang memperlihatkan seorang ibu mengamuk di depan penghulu viral di media sosial pada Kamis (9/7/2020).

Video berdurasi empat menit itu tersebar di media sosial Facebook dan Instagram.

Baca juga: Pulang Hadiri Wisuda Anak di Makassar, Seorang Guru di Manggarai Barat Positif Covid-19

Dalam video itu terlihat pasangan pengantin, MR dan S, duduk berdampingan di hadapan penghulu. Pengantin laki-laki bersiap mengucapkan ijab kabul.

Mereka terlihat mengenakan pakaian pernikahan yang serasi, didominasi putih. Tapi, raut tegang terlihat jelas di wajah para pengantin.

Saat pernikahan hendak dimulai, seorang ibu mengenakan jilbab biru masuk ke musala tempat ijab kabul dilaksanakan.

Ibu itu terlihat berlari dari pintu depan. Ia berhenti didepan penghulu dan berteriak.

“Stop, Bapak,” kata ibu itu sambil menunjuk kedua pengantin dan penghulu.

Beberapa warga yang menghadiri pernikahan langsung berdiri dan menghentikan aksi ibu tersebut.

Seorang ibu mengenakan baju merah muda tampak menarik ibu yang baru datang itu dan membawanya keluar.

Baca juga: Tak Ingin Bebankan Suami, Model Ini Minta Mas Kawin Sandal Jepit dan Segelas Air

Tapi, ibu yang mengenakan jilbab biru itu kembali masuk ke dalam musala. Keributan tak terelakkan. Pernikahan terpaksa tertunda.

Meski gagal menikah di musala, pasangan pengantin itu melakukan pernikahan di rumah mempelai laki-laki. Mereka dinikahkan wali hakim dari Imam Masjid Desa Sugian.

(Kontributor Lombok Tengah, Idham Khalid)

Kasus Kuli Bangunan Disiksa Polisi, Kapolsek Percut Sei Tuan Dicopot

Suara.com – Pasca kasus penyiksaan yang terjadi pada seorang buruh bangunan di Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara (Sumut) bernama Sarpan (57), Kapolsek Percut Sei Tuan Komisaris Polisi Otniel Siahaan dicopot.

Hal tersebut dibenarkan Kepala Bidang Humas Polda Sumatera Utara, Komisaris Besar Polisi Tatan Dirsan Atmaja.

“Kapolsek (Polsek Percut Sei Tuan) diserahterimakan,” kata Kombes Tatan Dirsan Atmaja, Kamis (9/7/2020).

Dijelaskan Tatan, selain mengganti jabatan Kapolsek Percut Sei Tuan, pihaknya juga menarik delapan personel polisi dari Polsek Percut Sei Tuan ke Polrestabes Medan dalam rangka proses sidang disiplin.

“Delapan anggota Polri yang bertugas di Polsek Percut Sei Tuan ditarik ke Polrestabes Medan untuk proses sidang disiplin,” ujarnya.

Kombes Tatan juga membenarkan, jika penggantian Kapolsek Percut Sei Tuan dan delapan anggota yang ditarik untuk sidang disiplin terkait kasus dugaan penyiksaan terhadap Sarpan.

“Iya betul (terkait dugaan penyiksaan),” ungkap Tatan.

Sementara itu, Kombes Tatan menegaskan dalam kasus dugaan penyiksaan seorang saksi bernama Sarpan, Polda Sumut akan memeriksa oknum anggota terkait. Dia memastikan akan memberikan saksi tegas bagi anggota Polri yang terbukti melakukan kesalahan.

“Kapolda Sumut mengatakan akan memberikan reward bagi anggota yang berprestasi. Dan tetap akan menindak anggota yang melakukan kesalahan.”

Amerika Serikat Akan Usir Mahasiswa Asing, Bagaimana Nasib Maudy Ayunda?

Aktris sekaligus penyanyi Maudy Ayunda saat ini masih berada di Amerika Serikat. Ia tengah menempuh pendidikan magister di Stanford University.

Baru-baru ini, tersiar kabar bahwa Amerika Serikat mengeluarkan kebijakan yang akan meminta mahasiswa asing untuk angkat kaki dari negaranya.

Perintah tersebut berlaku bagi mahasiswa asing yang perkuliahannya dilakukan secara daring (online). Kebijakan itu dikeluarkan oleh Badan Penegak Bea Cukai dan Imigrasi AS (ICE) pada 6 Juli 2020 lalu.

Maudy Ayunda di asrama kampusnya di Amerika Serikat. Foto: Dok. Muren Murdjoko Jasmedi

Lantas, bagaimana dengan nasib Maudy Ayunda saat ini?

“Lagi proses surat menyurat. Menunggu keputusan kampus,” kata ibunda Maudy Ayunda, Muren Murdjoko Jasmedi, saat dihubungi kumparan, Kamis (9/7).

Muren kemudian bercerita bahwa selama beberapa waktu belakangan ini, Maudy Ayunda menjalani perkuliahan secara daring. Kendati demikian, ia belum tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari.

“Selama spring quarter di pandemi ini online semua. Ke depannya seperti apa, kami masih menunggu keputusan kampus,” ujarnya.

Ibunda Maudy Ayunda juga belum bisa memastikan apakah pemain film Habibie & Ainun 3 tersebut akan kembali ke Indonesia atau tidak. Sebab, akan sulit rasanya apabila menjalani perkuliahan dari sini.

“Karena sebetulnya dengan adanya perbedaan waktu, berat untuk kuliah online dari Indonesia. Jadi harus begadang setiap hari dan jadi khawatir mempengaruhi kesehatan juga,” tuturnya.

Lebih lanjut, Muren menjelaskan soal kondisi Maudy Ayunda saat ini. Ia menerangkan bagaimana tempat tinggal Maudy selama berada di Amerika Serikat.

“Dia tinggal di asrama kampus, yang berhalaman luas dan sangat terisolasi. Jadi seperti di dalam buble ya. Kalau keluar rumah karena luas halamannya bisa sangat berjarak,” ucap Muren.

“Di ruang makan juga. Makanan dan buah-buahan sudah siap dikemas bisa dibawa ke taman seperti piknik atau juga boleh makan di ruang masing-masing,” imbuh ibunda Maudy Ayunda seraya menutup perbincangan.

Wow! Ashanty Beri Hadiah Mobil untuk Pengasuh Anaknya, Lihat Reaksinya

Ashanty baru-baru ini memberikan kejutan istimewa untuk pegawai yang bekerja di rumahnya. Istri Anang Hermansyah ini memberikan hadiah untuk Suwarsih Asih alias Suteng yang merupakan pengasuh Arsya dan Arsy.

Suteng sendiri saat ini sedang dalam masa pemulihan usai menjalani operasi. Suteng sebelumnya didiagnosa mengidap tumor rahim. Tak tanggung-tanggung, Ashanty memberikan hadiah mobil untuk Suteng. Berikut potretnya seperti dilansir channel youtube The Hermansyah A6.

Temani Berobat

Ashanty sudah menganggap Suteng seperti keluarga sendiri. Dia menemani Suteng selama menjalani pengobatan.

Dalam video, tampak Suteng rutin melakukan pemeriksaan ke rumah sakit. Da pun mengikuti terapi darah di Cianjur.

Ashanty Beri Kejutan

Awalnya Ashanty sedang mengobrol dengan Suteng. Dia pun menanyakan tentang kondisi terbarunya. Ashanty kemudian mengatakan kepada Suteng jika dirinya punya hadiah untuknya.

“Biar ga sedih sedih aku punya kejutan buat uteng nih,” kata Ashanty.

“Belanja yah. Udah lama ga boleh belanja bunda. Saya pengen belanja kayak kemaren kemaren bunda. Pengen pergi ke pusat perbelanjaan,” kata Suteng.

“Mau beli apa?” tanya Ashanty.

“Biasa Saya pengen belanja bulanan satu mobil. Udah 4 bulan engga boleh,” kata Suteng.

“Nah paslah ini buat Uteng belanja bulanan,” ucap Ashanty.

“Uang kan pasti,” kata Suteng.

Ashanty Tutup Mata Suteng

Ashanty kemudian menutup mata Suteng. Dari dalam rumah, dia menuntun Suteng ke bagian halaman depan rumahnya. Setelah sampai di halaman depan, Ashanty meminta Suteng untuk membuka matanya.

“Uteng buka mata Uteng. Satu dua tiga,” kata Ashanty.

Hadiah Mobil

Tak disangka, Suteng mendapat hadiah sebuah mobil dari Ashanty. Dia pun tampak terkejut.

“Mimpi apa ini dikasih mobil,” kata Suteng.

Belajar Nyetir Mobil

Ashanty pun meminta Suteng untuk mulai belajar mobil.

“Makanya Uteng harus belajar nyetir. Kan udah bisa naik motor harus belajar nyetir mulai hari ini engga usah cengeng,” kata Ashanty.

“Ini buat belanja bulanan tapi jangan minta sopir ya Teng, mobilnya doang. Makanya besok Uteng bakal dianter sama anak anak belajar nyetir,” imbuh Ashanty.

Mau Dijual

Suteng pun melontarkan pertanyaan menggelitik kepada Ashanty. Dia bertanya apakah mobil pemberiannya boleh dijual.

“Boleh nanya ga. Itu kan dikasih saya boleh saya jual ga?” tanya Suteng.

“Yah enak aja. Parah banget. Uteng ga boleh kayak gitu teng,” jawab Ashanty.

Coba di Balik Kemudi

Ashanty meminta Suteng untuk berada di balik kemudi. Tampak Suteng tampak senang sekaligus tak percaya.

“Seneng banget bunda,” kata Suteng.

“Tapi Uteng masalahnya harus belajar nyetir dulu. Aku engga mungkin siapin sopir nih jadi Uteng harus belajar nyetir,” kata Ashanty.

Sampaikan Terima Kasih

Suteng pun menyampaikan terima kasih kepada Ashanty.

“Makasih bunda baik banget,” kata Suteng.

Kasus Positif Harian Capai 2.657, Jokowi: Ini Sudah Lampu Merah

Indonesia mencatatkan rekor tertinggi penambahan kasus positif Covid-19 dalam sehari. Dari Rabu hingga Kamis pukul 12.00 jumlah penambahan pasien baru positif Covid-19 mencapai 2.6567 orang.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan, ada penambahan 2.657 dibandingkan sebelumnya sebanyak 68.079 orang.

“Peran serta masyarakat menjadi penentu pengendalian ini. Kalau secara disiplin menerapkan protokol kesehatan bersama, jumlah yang dirawat di rumah sakit akan berkurang,” ujar Yuri dalam konferensi pers di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, kemarin. (Baca: WHO: Kemungkinan Virus Corona Menyebar di Udara Dalam ruangan)

Dia menuturkan, pasien sembuh mencapai 32.651 orang. Ada penambahan 1.066 dibandingkan sebelumnya 31.585 orang. Sementara pasien meninggal dunia sebanyak 3.417 orang. Ada penambahan 58 dibandingkan sebelumnya sebanyak 3.359 orang.

“Disiplin dengan mematuhi protokol kesehatan, menjaga jarak, menggunakan masker saat ini menjadi acara untuk mencegah penularan virus tersebut,” ucapnya. (Baca juga: Menteri BUMN Apresiasi Perjuangan Tenaga Medis dan Relawan Covid-19)

Presiden Joko Widodo memberikan peringatan keras soal itu. Dia menyebut penambahan pasien positif yang mencapai lebih dari 2.000 dalam sehari merupakan lampu merah. “Hari ini secara nasional penambahan kasus positif tinggi sekali, sebanyak 2.657 orang. Saya ingatkan ini sudah lampu merah,” katanya saat mengunjungi Posko Penanganan Covid-19 di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Jokowi menyebut pengendalian wabah Covid-19 tergantung pada kinerja pemerintah daerah. Dalam kesempatan itu Jokowi memperingatkan hal yang sama kepada Pemda Kalteng. Saat ini total kasus Covid-19 di Kalteng mencapai 1.093 pasien. Jokowi meminta Pemda Kalteng tidak menganggap remeh Covid-19 agar angka penularan tidak melonjak. (Lihat videonya: Maria Lumowa Berhasil Diekstradisi ke Indonesia, Simak Kronologis Lengkapnya)

“Kalau manajemen krisis tidak dilakukan dengan tegas, rakyat tidak diajak semuanya untuk bekerja bersama menyelesaikan ini, hati-hati angka yang saya sampaikan bisa bertambah banyak. Ini jangan dianggap enteng,” ucap Jokowi. (Binti Mufarida/Dita Angga)

Disiksa Polisi, Kuli Bangunan Sarpan Diminta Lapor Komnas HAM

Suara.com – Lembaga pemerhati Hak Asasi Manusia (HAM), Imparsial meminta Sarpan (57), seorang kuli bangunan korban diduga penyiksaan tindak kekerasan oknum polisi di Mapolsek Percut Sei Tuan, Polres Deli Serdang, Sumatera Utara melapor ke Komnas HAM.

Pilihan lain juga lapor ke Kompolnas dan lembaga independen lain.

“Saya kira sangat penting lah setiap orang yang mengalami penyiksaan perlu melaporkan peristiwa tersebut misalnya gini ada Komnas HAM, Kompolnas ada lembaga-lembaga lain untuk menyampaikan harapan kasus-kasus tersebut bisa diproses,” kata Wakil Direktur Imparsial, Ghufron Mabruri saat dihubungi Suara.com, Kamis (9/7/2020).

Ghufron menilai, harus ada upaya penyelidikan terhadap dugaan praktek penyiksaan yang dilakukan oknum polisi ketika sedang menegakan hukum.

“Harus ada upaya jadi memang harus ada penyelidikan terhadap terduga pelaku praktek penyiksaan tersebut,” ungkapnya.

Menurutnya, apa pun alasannya tindak penyiksaan terhadap korban, saksi hingga tersangka dalam proses penegakan hukum tidak dibenarkan.

Perkembangan kasus

Sebanyak enam pejabat Polsek Percut Sei Tuan, Deli Serdang diperiksa Bidang Propam Polda Sumatera Utara. Polisi yang diperiksa itu merupakan perwira dan berpangkat brigadir.

Mereka diperiksa atas dugaan penganiayaan terhadap salah satu saksi dalam kasus pembunuhan bernama Sarpan.

Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Tatan Dirsan menuturkan tiga orang dari pejabat yang diperiksa diantaranya, yakni Kapolsek Percut Sei Tuan Kompol Otniel Siahaan, Kanit Reskrim Polsek Percut Sei Tuan Iptu Luis Beltran dan Panit Reskrim.

“Ada enam orang ada perwira dan brigadir,” kata Tatan saat dihubungi Suara.com, Kamis (9/7/2020).

Sementara itu, saat ditanyai terkait kabar bahwa Kapolsek Percut Sei Tuan Kompol Otniel Siahaan telah dibebaskan tugaskan dari jabatannya akibat kasus tersebut, Tatan enggan berkomentar banyak.

Dia mengatakan bahwa hingga saat ini yang bersangkutan masih diperiksa oleh Bidang Propam Polda Sumatera Utara.

“Karena beliau Kapolsek ya pimpinan tertinggi ya tetap diambil keterengan. Kita tunggu lah hasilnya ya,” ujar Tatan.

Disiksa sampai luka-luka

Sarpan menceritakan detik-detik dirinya digebuki polisi di sel tahanan Polsek Percut Sei Tuan, Polres Deli Serdang, Sumatera Utara. Sarpan sempat disetrum oleh polisi di sel tahanan.

Sarpan mengaku menjadi korban penyiksaan saat berada di sel tahanan. Dia ditangkap polisi untuk jadi saksi kasus pembunuhan. Namun belakangan dipaksa mengakui membunuh dan mau jadi tersangka pembunuhan itu.

Sarpan lelaki berusia 57 tahun. Sarpan merupakan warga Jalan Sidomulyo Pasar IX Dusun XIII Desa Sei Rotan, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut).

Sarpan pun bisa bebas dan pulang ke rumah setelah kantor Polsek di demo warga. Tapi dia menderita luka memar di sekujur tubuh dan wajahnya.

Di dalam sel tahanan, Sarpan didiksa, dipukul dan diinjak-injak. Wabahnya sampai babak belur.

Ikhwal penyiksaan yang dialaminya ini terjadi ketika dia diamankan untuk sebagai saksi pembunuhan yang terjadi di Jalan Sidomulyo Gang Gelatik Desa Sei Rotan, Kecamatan Percut Sei Tuan pada Kamis 2 Juli 2020 lalu.

Saat disiksa, Sarpan dipaksa untuk mengakui bila dirinya adalah pelaku pembunuhan terhadap Dodi Somanto (41). Padahal, Sarpan adalah saksi dari pembunuhan tersebut.

Untuk pelaku pembunuhan A (27) sudah ditangkap pasca kejadian oleh petugas Polsek Percut Sei Tuan.

“Saya menjadi korban keberingasan oleh oknum Polisi di sel tahanan Polsek Percut Sei Tuan. Sebab, di sana dihujani pukulan bertubi-tubi. Padahal, saya sudah mengatakan bahwa bukan pelaku dari pembunuhan itu. Namun, tetap saja disiksa sampai sekujur tubuh dan wajah jadi begini,” cerita Sarpan sembari menunjukkan bekas luka seperti dilansir SinarLampung.

Salah satu kejadian dalam penyiksaan polisi itu, Sarpan disuruh ke kamar mandi untuk cuci kaki. Lalu dia disuruh jongkok. Lututnya diletakan sebatang kayu.

Tak berhenti sampai di situ, kata Sarpan, dia bukan hanya diperlakukan seperti binatang dengan cara disiksa. Tapi, juga disetrum di dalam sel tahanan Polsek Percut Seituan.

“Setelah itu, dari belakang ada beberapa orang menutup mata dan mulut saya, kemudian langsung memukuli di bagian dada dan perut serta diinjak-injak oleh orang yang di dalam tahanan,” jelasnya sambil menangis.

Atas peristiwa itu, Sarpan mengaku tidak bisa berbuat apa-apa lantaran tidak mengetahui maksud dirinya disiksa.

“Saya sudah seperti ‘binatang’ dibuat di dalam sel tahanan. Bahkan ironisnya, saat diinterogasi, oknum Polisi menuding saya telah berselingkuh dengan pemilik rumah, dan ketahuan dengan Dodi Somanto. Dari itu, mengira saya yang membunuh si korban. Padahal, tudingan itu tidaklah benar,” terangnya.

“Padahal, awalnya diamankan untuk dimintai keterangan sebagai saksi, namun hal tersebut berbanding terbalik. Ternyata, sewaktu di dalam sel tahanan disiksa dan diintimidasi dengan disuruh mengaku jika telah membunuh si Dodi Somanto,” lanjutnya.

Sarpan mengaku dia bisa bebas dari Kantor Polisi, saat sejumlah warga Jalan Sidomulyo Pasar IX Dusun XIII Desa Sei Rotan, Kecamatan Percut Seituan, datang melakukan aksi demo di depan Polsek Percut Seituan.

“Sejumlah warga datang ke Polsek Percut Seituan meminta saya dibebaskan. Hal itu dilakukan lantaran mendapat keterangan dari istri saya yang melihat kondisi saat di sel tahanan sudah dalam keadaan luka-luka dibagian wajah,” jawabnya.

Menanggapi hal itu, Kapolsek Percut Seituan, Kompol Otniel Siahaan saat dikonfirmasi soal penyiksaan terhadap Sarpan, Kapolsek membantah.

“Tidak benar. Terima kasih atas informasinya,” jawab Kompol Otniel Siahaan lewat pesan Aplikasi WhatsApp.